Sabtu 23 Januari 2021, 08:40 WIB

Mengenali Water Spout, Bukan Puting Beliung

Faustinus Nua | Humaniora
Mengenali Water Spout, Bukan Puting Beliung

MI/ Widjajadi
FENOMENA ALAM: Angin puting beliung muncul di perairan waduk Gajah Mungkur disebabkan cuaca ekstrem.

 

FENOMENA alam berupa Water spout tampak di tengah-tengah waduk Gajah Mungkur Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, pada 20 Januari 2021 sekitar pukul 15.45 WIB. Meski mirip angin puting beliung, kondisi anomali cuaca tersebut ternyata memiliki perbedaan mendasar.

Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Erma Yulihastin mengatakan perbedaan water spout dengan puting beliung dapat diidentifikasi dari koneksinya dengan media air yang terdapat di bagian dasarnya.

Angin puting beliung atau small tornado memiliki kecepatan angin dan dampak kerusakan pada kisaran di bawah skala F-2 (Skala Fujita-2, menurut ahli tornado keturunan Jepang Tetsuya Fujita dari Universitas Chicago). "Dengan demikian, puting beliung memiliki lintasan kurang dari satu kilometer dengan durasi hidup di bawah satu jam," jelasnya dikutip dari laman LAPAN, Sabtu (23/1).

Sementara Water spout merupakan tornado yang terkoneksi dengan air dan memiliki skala mikro, karenanya, fenomena ini hanya dapat terjadi di atas danau, tambak, sungai, bendungan, dan lain-lain. Lebih jauh, Erma menjelaskan bahwa fase kehidupan Water spout dimulai dengan fase pembentukan awal. Pada tahap ini terdapat dukungan temperatur, kelembaban dan pergeseran angin yang menjadi syarat bagi pembentukannya

Kemudian, fase awan cerah terbentuk di atas permukaan air. Awan cerah tersebut dikelilingi oleh awan di sekitarnya yang berwarna abu gelap. Setelah itu, terjadi pembentukan corong berwarna terang yang memanjang dan berbentuk spiral. Corong spiral memanjang mulai tampak oleh pengamatan visual dan di bagian permukaan air terbentuk percikan air ke segala arah.

"Pada saat tahapan kelima itu, peluruhan Water spout terjadi ketika terdapat udara lembab atau uap air yang masuk ke dalam corong badainya," jelasnya. Water spout secara visual dapat dikenali dari bentuknya yang seperti suatu belalai atau corong pipa panjang dan terlihat turun dari suatu awan jenis cumulus congestus atau cumulonimbus.

“Kejadian ini tak hanya langka tapi juga termasuk cuaca ekstrem karena menggambarkan badai super sel pada skala ruang yang mikro (puluhan meter),” ujar Erma dalam keterangan resminya saat kejadian serupa terjadi di Cirebon, 4 Januari 2021 lalu.

Erma menambahkan, sangat sedikit ditemui bahwa Water spout dapat bertahan lama atau bahkan berpindah dari air menuju darat. Karena dukungan kelembapan atau uap air yang dihasilkan oleh suatu permukaan air cenderung memiliki karakteristik yang khas, maka Water spout yang pernah terbentuk di suatu area, memiliki potensi besar dapat terjadi lagi di wilayah tersebut.

Terbentuknya awan cumulonimbus yang sangat cepat dapat memicu cuaca ekstrem, seperti badai guruh, angin puting beliung, maupun Water spout. Hal ini karena puting beliung pada umumnya terjadi, akibat pertemuan atau tabrakan antara dua angin yang memiliki karakter berbeda atau karena terjadinya geser angin (wind shear), angin ini kemudian terangkat (updraft) dan diperkuat oleh kondisi ketidakstabilan udara di sekitarnya.

Aktivitas awan cumulonimbus  yang intens di suatu tempat juga perlu diwaspadai karena keadaan tersebut karena berpotensi membangkitkan puting beliung. Hingga saat ini, puting beliung masih sangat sulit diprediksi.

"Untuk memprediksi cuaca ekstrem (termasuk puting beliung) satu atau dua hari mendatang masih sulit untuk dilakukan, karena kita harus mencari data perubahan temperatur dan pola aliran angin di atmosfer. Data ini sangat penting agar kita dapat memantau tingkat kelembapan, ketidakstabilan, pengangkatan (lift), dan angin gunting (wind shear) pembangkit awan badai yang berpotensi menimbulkan puting beliung," tuturnya.

Dijelaskannya, pola-pola perubahan cuaca yang besar dapat membawa serta kejadian tornado, tetapi sering juga pola-pola tersebut sama sekali tidak menimbulkan cuaca ekstrem. Berbagai model komputer yang digunakan untuk memprediksi cuaca ekstrem beberapa hari mendatang dapat memiliki bias dan kekurangan ketika prakirawan cuaca mencoba menerjemahkan keadaan cuaca tersebut pada skala awan badai kilat (thunderstorm).

Prediksi membutuhkan pengamatan cuaca pada skala waktu yang nyata (real-time) melalui satelit (dengan resolusi tinggi secara ruang dan waktu), radiometer, stasiun cuaca, balon, dan kapal udara. Membuat skema profiler angin dan pola cuaca yang diturunkan dari radar (C-band, X-band, W-band, dual polarisasi radar) juga sangat penting untuk melakukan prediksi.

"Terlebih karena kekuatan anginnya yang masih berada di bawah skala Fujita, (skala yang biasa digunakan untuk mengukur kekuatan tornado berdasarkan magnitudo angin dan dampak kerusakan yang ditimbulkannya). Berdasarkan skalanya, angin puting beliung memiliki radius putar kurang dari satu kilometer dan masa hidup kurang dari satu jam," kata Erma.

Untuk diketahui, model prediksi Satellite-based Disaster Early Warning System (Sadewa) LAPAN yang dikembangkan memiliki skala spasial lima kilometer dan skala waktu per satu jam sehingga tidak mungkin dapat mendeteksi fenomena puting beliung.

Namun Erma menjelaskan, tidak cukup hanya dengan meningkatkan resolusi skala ruang dan waktu model prediksi cuaca numerik. Potensi terjadinya cuaca ekstrem seperti puting beliung juga membutuhkan dukungan berbagai peralatan seperti radiosonde, balonsonde, radar cuaca, dan lainnya untuk menghitung indeks cuaca ekstrem yang diturunkan dari parameter-parameter cuaca seperti kecepatan angin, pola angin serta temperatur.

Selain itu, juga perlu menghitung berbagai indeks seperti CAPE (Convective Availabel Potential Energy), VGP (Vorticity Generation Potential), BRN (Bulk Richardson Number), EHI (Energy Helicity Index) dan SREH (Surface Relative Enviromental Helicity). Dari beberapa parameter tersebut yang terpenting untuk mengidentifikasi awan badai penghasil puting beliung adalah CAPE, EHI, dan SREH.

Meskipun demikian, masyarakat tetap dapat melakukan pengamatan secara visual untuk mengetahui potensi terjadinya cuaca ekstrem, salah satunya yaitu dengan melihat dari tanda seperti pagi hingga siang hari suhu panas terik, kemudian memasuki sore berubah cepat menjadi mendung kelabu dan merata, terdapat sirkulasi tertutup ditunjukkan oleh mendung kelabu yang dikelilingi oleh warna langit cerah atau terang di sekelilingnya. Perbedaan kontras antara mendung dan terang yang saling berdekatan, terdapat awan kelabu yang tampak tersusun berlapis secara vertikal menyerupai pohon.(H-1)

Baca Juga

Dok: Iluni UI

Iluni UI Bantu Warga Terdampak Banjir Pekalongan

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 05 Maret 2021, 12:22 WIB
Iluni UI memberikan dukungan dalam bentuk logistik, dukungan psikososial hingga edukasi perilaku hidup bersih dan sehat untuk...
MI/Susanto

Menkes: Vaksinasi Covid-19 Harus Tuntas 12 Bulan

👤Siswantini Suryandari 🕔Jumat 05 Maret 2021, 10:03 WIB
Menkes Budi mengatakan, dalam 6 bulan ke depan Indonesia akan mendapat total sekitar 90 juta dosis dari total kebutuhan sekitar362...
Dok: Humas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Koordinasi Kementerian Lembaga Diperkuat untuk Tangani Bencana

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 05 Maret 2021, 09:00 WIB
Peningkatan kolaborasi Kementerian/Lembaga dan pemerintah daerah dalam penanganan bencana dapat dilakukan secara faktual dan dilaksanakan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya