Senin 07 Desember 2020, 13:20 WIB

Kenali Femisida, Kekerasan Paling Ekstrem terhadap Perempuan

Indrastuti | Humaniora
Kenali Femisida, Kekerasan Paling Ekstrem terhadap Perempuan

ANTARA/GALIH PRADIPTA
Peserta aksi mengikuti acara peringatan Hari Perempuan Sedunia di Jalan M.H Thamrin, Jakarta, Minggu (8/3).

 

Dalam rangka 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Komnas Perempuan mempublikasikan hasil pemantauan tentang pembunuhan terhadap perempuan (femisida) berbasis berbagai situs berita daring sebagaimana rekomendasi Pelapor Khusus Kekerasan terhadap Perempuan ((A/71/398) tahun 2016.

Dilansir dari laman Komnas Perempuan, istilah femisida pertama kali digunakan oleh Diana Russel pada International Tribunal on Crimes Against Women (1976) dan menempatkannya sebagai 'pembunuhan misoginis terhadap perempuan oleh laki-laki'.

Baca juga: Pemerintah Abai, Pembunuhan Perempuan Meningkat

PBB mendefinisikan femisida sebagai pembunuhan terhadap perempuan karena ia perempuan. Bentuk pembunuhan bermacam-macam, antara lain pembunuhan terhadap pasangan, pembunuhan terhadap perempuan dengan tuduhan tukang sihir, honour killings, pembunuhan dalam konflik bersenjata, pembunuhan karena mahar.
 
Femisida merupakan bentuk paling ekstrem dari kekerasan terhadap perempuan dan manifestasi dari diskriminasi terhadap perempuan dan ketidaksetaraan gender.

Kata ini digunakan untuk menunjukkan perbedaan dengan pembunuhan biasa (homicide) karena mengandung ketidaksetaraan gender, penindasan, perendahan dan kekerasan terhadap perempuan yang sistematis menjadi penyebab atau disebut sebagai 'puncak kekerasan berbasis gender'

Deklarasi Wina pada 2012 memetakan 11 bentuk femisida, yaitu:

  1. Kekerasan rumah tangga/pasangan intim,
  2. Penyiksaan dan pembunuhan misoginis terhadap perempuan,
  3. Pembunuhan terhadap perempuan dan anak perempuan atas nama 'kehormatan' (honour killing),
  4. Pembunuhan terhadap perempuan dan anak perempuan dalam konflik bersenjata,
  5. Pembunuhan terkait mahar,
  6. Pembunuhan karena orientasi seksual dan identitas gender,
  7. Pembunuhan terhadap perempuan masyarakat adat,
  8. Pembunuhan bayi perempuan dan janin berdasarkan seleksi jenis kelamin,
  9. Kematian terkait pelukaan dan pemotongan genitalia perempuan (female genital mutilation),
  10. Tuduhan sihir,
  11. Femisida lain yang terkait dengan geng, kejahatan terorganisir, pengedar narkoba, perdagangan manusia dan penyebaran senjata api.

Komnas Perempuan merekomendasikan agar di tingkat global, nasional dan regional dibangun femicide watch dan observatorium tentang kekerasan terhadap perempuan serta mempublikasikan hasilnya setiap tanggal 25 November pada 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP). (H-3)

Baca Juga

ANTARA/SYIFA YULINNAS

BMKG: Waspada Gelombang Tinggi Hingga 6 Meter

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Jumat 30 Juli 2021, 11:25 WIB
Kecepatan angin tertinggi terpantau di perairan utara Sabang, dan perairan Banten, perairan selatan Jawa Barat, Selat Karimata, dan Laut...
DOK UNIKA SANTO PAULUS RUTENG (https://unikastpaulus.ac.id/fkip-unika-santu-paulus-ruteng-gelar-konferensi-internasional/)

FKIP Unika Santo Paulus Ruteng Gelar Konferensi Internasional

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 30 Juli 2021, 10:36 WIB
Konferensi Internasional yang berlangsung secara daring melalui platform media zoom meeting itu, menghadirkan 6 (enam) pembicara kunci yang...
Antara

KAI Sudah Vaksinasi Covid 20.334 Penumpang di Stasiun

👤Insi Nantika Jelita/Putri Anisa Yuliani 🕔Jumat 30 Juli 2021, 09:55 WIB
PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama anak usahanya yakni KAI Commuter memberikan layanan vaksinasi covid-19 gratis. Hingga Kamis...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Atletik Jadi Lumbung Medali

SALAH satu cabang olahraga yang akan sangat menarik untuk disaksikan di Olimpiade 2020 ialah atletik.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya