Rabu 02 Desember 2020, 16:40 WIB

Indonesia dan 13 Negara Janji Akhiri Tangkap Ikan Berlebihan

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Indonesia dan 13 Negara Janji Akhiri Tangkap Ikan Berlebihan

AFP/Romeo Gacad
.

 

PEMERINTAH dari 14 negara yang bertanggung jawab atas 40% garis pantai dunia telah berjanji untuk mengakhiri penangkapan ikan berlebihan, memulihkan populasi ikan yang menyusut, dan menghentikan pembuangan plastik ke laut dalam 10 tahun ke depan.

Pada Rabu (2/12), pemimpin 14 negara tersebut menetapkan serangkaian komitmen yang menandai inisiatif kelestarian laut terbesar di dunia. Australia, Kanada, Cile, Fiji, Ghana, Indonesia, Jamaika, Jepang, Kenya, Meksiko, Namibia, Norwegia, Palau, dan Portugal akan mengakhiri subsidi yang berkontribusi pada penangkapan ikan berlebihan.

Mereka juga akan menghilangkan penangkapan ikan ilegal melalui penegakan dan pengelolaan yang lebih baik, meminimalkan bycatch dan discards, serta menerapkan rencana perikanan nasional berdasarkan saran ilmiah. Masing-masing negara anggota Panel Tingkat Tinggi untuk Ekonomi Laut Berkelanjutan juga telah berjanji untuk memastikan bahwa semua wilayah lautan dalam yurisdiksi nasional atau yang dikenal sebagai zona ekonomi eksklusif dikelola secara berkelanjutan pada 2025.

Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg mengatakan, kesejahteraan umat manusia sangat terkait dengan kesehatan laut. “Ini (laut) menopang kita, menstabilkan iklim, dan mengarah pada kemakmuran yang lebih besar. Sudah terlalu lama kita mengetahui pilihan yang salah antara perlindungan laut dan produksi. Kami memahami peluang tindakan dan risiko kelambanan dan kita tahu solusinya. Membangun ekonomi kelautan yang berkelanjutan adalah salah satu peluang terbesar di zaman kita,” ujarnya.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan bahwa laut merupakan bagian internal dari budaya, kehidupan, dan mata pencaharian manusia. “Ketika saya berbicara dengan anak-anak di sekolah-sekolah di Australia, polusi yang menghancurkan lautan kita adalah hal yang mereka bicarakan dengan saya. Bersama dengan para Pemimpin Panel Laut, kami berkomitmen untuk mengelola 100% wilayah laut kami secara berkelanjutan pada 2025 dan kami mendorong para pemimpin dunia lain untuk bergabung dengan kami,” tuturnya.

Penelitian telah menemukan bahwa jika dikelola secara berkelanjutan, laut dapat menyediakan makanan enam kali lebih banyak daripada ketika banyak spesies ditangkap hingga melampaui batas pemulihannya seperti saat ini. Para ekonom juga menghitung bahwa untuk setiap US$1 yang diinvestasikan dalam lautan yang berkelanjutan, ada pengembalian sekitar US$5 dalam manfaat ekonomi, sosial, lingkungan, dan kesehatan, dan mengelola lautan dunia secara berkelanjutan akan menciptakan sekitar 12 juta pekerjaan baru.

Administrator Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS di bawah Presiden Obama, Jane Lubchenco, mengatakan bahwa inisiatif tersebut adalah hal yang sangat besar dan dapat memulihkan kesehatan lautan dunia, serta memberi manfaat bagi ekonomi dan masyarakat global. "Apa yang Anda miliki sekarang adalah pengelolaan laut yang campur baur, sektor demi sektor, itu tidak holistik. Itu tidak membantu memulihkan kesehatan ekosistem yang mendasarinya, dan kita melihat hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim merajalela. Bisnis seperti biasa hanya akan melanjutkan penurunan lautan," katanya.

"Lautan berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan sekarang," tambahnya. Dia menilai dengan tanggapan yang lebih terkoordinasi yang diharapkan oleh Panel Tingkat Tinggi, ada kemungkinan kerusakan bisa dihentikan. "Kita mulai memahami bahwa lautan adalah pusat kehidupan kita," tuturnya.

Ke-14 pemimpin dunia ingin negara lain bergabung dengan panel untuk membuat rencana laut berkelanjutan global yang menurut mereka juga dapat memiliki pengaruh besar terhadap iklim. Seperlima dari pengurangan emisi yang diperlukan untuk memenuhi tujuan kesepakatan Paris, yaitu menahan pemanasan global tidak lebih dari 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Dapat pula berasal dari lautan dengan meningkatkan kemampuan lautan untuk menyerap karbon dan dengan berinvestasi dalam teknologi seperti angin lepas pantai.

"Jika kita mengelola lautan secara berkelanjutan, itu akan baik untuk semua orang. Agar dapat menghasilkan pekerjaan yang baik, Anda harus bekerja dengan negara lain," kata Solberg.

Beberapa tugas untuk memulihkan kesehatan lautan juga harus dilakukan di darat. Dalam suatu laporan, para pemimpin mengemukakan kasus untuk beralih ke ekonomi melingkar yang akan mencegah polusi plastik mencapai laut dan meningkatkan peraturan pertanian di darat untuk menghentikan penyebaran zona mati dari pupuk dan limpasan kotoran.

Direktur Sains di Stockholm Resilience Center Henrik Österblom mengatakan (inisiatif ini) menunjukkan bahwa politisi mendengarkan sains. Sekarang mereka perlu bertindak. Lautan tidak terlalu besar untuk gagal. "Jika kita tidak mengubah arah, fungsi biofisik utama di lautan bisa runtuh. Namun, hanya 2,6% lautan yang memiliki tingkat perlindungan tinggi yang dibutuhkannya."

Laporan tersebut menemukan bahwa lebih dari 3 miliar orang bergantung pada makanan dari lautan setiap hari. Lautan yang sehat menyumbang US$1,5 triliun bagi ekonomi global serta menyerap seperempat emisi karbon dioksida dan menghasilkan separuh oksigen dunia.

Seorang juru bicara pemerintah Inggris mengatakan, negaranya berada di garis depan perjuangan global untuk melindungi habitat laut dan memperjuangkan komitmen global untuk melindungi setidaknya 30% lautan global pada 2030. "Kami akan mempertimbangkan dengan hati-hati rekomendasinya dibuat oleh Panel Tingkat Tinggi untuk memastikan kami terus bekerja secara global untuk meningkatkan standar perlindungan laut," tandasnya. (The Guardian/OL-14)

Baca Juga

Dok MI

Metode Karantina Daring untuk Peserta CPNS

👤Abdillah M Marzuqi 🕔Minggu 24 Januari 2021, 02:04 WIB
Bimbingan belajar yang telah berdiri sejak 2018 itu telah memiliki 4.000 lebih peserta dan meluluskan 1.340 peserta PNS selama tiga tahun...
Antara

Indonesia Alami 197 Bencana Selama 23 Hari di 2021

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 24 Januari 2021, 02:00 WIB
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  mencatat sebanyak 197 bencana terjadi di seluruh wilayah Indonesia sejak tanggal 1...
MI/Duta

Ditemukan Fosil Dinosaurus Berusia 98 Juta Tahun

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 24 Januari 2021, 01:05 WIB
FOSIL dinosaurus berusia 98 juta tahun ditemukan di Argentina. Para ilmuwan percaya bahwa fosil raksasa itu mungkin milik dinosaurus...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya