Kamis 26 November 2020, 13:20 WIB

Ma'ruf Amin: MUI akan Tetap di Jalur Islam Moderat

Zubaedah Hanum | Humaniora
Ma

MUI
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin menyampaikan pidatonya di Munas ke-X MUI, Rabu (25/11).

 

KETUA Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin, menyatakan MUI akan tetap menjadikan Islam Wasathiyah (Islam moderat) sebagai manhaj (metode) berpikir dan bergerak, baik fikrah maupun harakah.  

“Kita bersyukur karena Munas ke-9 MUI lalu telah menetapkan Islam Wasathiyah sebagai landasan kerja pegurus MUI 2015-2020. Karena itu selama lima tahun terakhir, DP MUI menjadikan keputusan Munas tersebut sebagai manhaj MUI sebagai berpikir dan bergerak, fikrah dan harakah,” kata dia saat pembukaan Munas X MUI di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu, 25 November 2020, malam, seperti dilansir dari laman MUI.

Dia menjelaskan, pengarusutamaan Islam Wasathiyah dipandang sebagai kebutuhan mendesak, seiring dengan menguatnya radikalisme di masyarakat, baik radikalisme kiri seperti liberalisme dan sekularisme dalam beragama. Sementara radikalisme kanan adalah beragama dan terorisme yang berkedok agama.

“Islam wasathiyah adalah cara berpikir yang tidak terlalu rigid, tidak terlalu longgar, maka sikap wasathiyah adalah sikap moderat di antara dua kutub yang ekstrem itu,” ujar dia.

Dia menegaskan komitmen untuk tetap menjadikan Islam wasathiyah sebagai cara berpikir, bersikap, dan bertindak, harus tetap menjadi pedoman dalam kiprah MUI di masa mendatang.   

“Syukur alhamdulillah keberadaan MUI masih mendapatkan kepercayaan dari Masyarakat dan Pemerintah. Ini tidak lepas dari konsistensi MUI menerapkan prinsip dan khittah yang dibangun pengurus MUI dari masa ke masa,” kata dia.

Satu-satunya
Kiai Ma’ruf menyatakan sejak awal masa kepemimpinan, dirinya berazam melakukan pembenahan kinerja dan tata kelola organisasi. MUI harus menjadi contoh standar pengelolaan organisasi dan pelayannnya.

“Maka bersama Sekjen dan pengurus lainnya, kita berusaha mewujudkan niat tersebut. Alhamdulillah itu berhasil. MUI telah memperoleh sertifikat ISO 9001:2015 tiga tahun berturut-turut. MUI menjadi satu-satunya lembaga keagamaan di Indoensia yang pengelolaannya memperoleh standar ISO,” kata dia.

MUI juga sudah mulai mendorong agar tata kelola MUI daerah memiliki standar yang sama atau setidaknya mendekati. Potensi untuk itu sangat terbuka sekali. Bahkan, kata Ma'ruf, ada MUI daerah yang mempunyai standard yang bagus.

Karena itu beberapa tahun terakhir MUI iUsat melakukan Monev terhadap tata kelola organisasi provinsi. Hal ini dilakukan untuk menstadardkan tata kelola organisasi MUI di setiap tingkatan. Upaya pembenahan itu harus selalu dilakukan.

“Prinsip al islah ilaa ma huwal ashlah tsumma aslah fal aslah. Melakukan perbaikan yang lebih baik secara terus menerus. Diharapkan MUI menjadi lebih baik dalam menjalankan fungsinya terutama fungsi sebagai mitra pemerintah dan pelayan umat,” ujar dia.

Sementara itu, dalam kaitan upaya pembenahan dan perbaikan tersebut, juga mendorong diterapkannya digitalisasi dalam tata kelola perkantoran di MUI dan semua perangkatnya. Tekhnologi berkembang demikian cemat. Masyarakat dipaksa terus bergerak menuju era digital.  Maka MUI, menurut Kiai Ma’ruf, tidak boleh terlambat mengantisipasi hal itu.

MUI harus siap menyongsong datangnya tren digital tersebut. Program MUI harus disesuaikan dengan tren digital.  Hal itu tidak mungkin dilepaskan dari sumbangsih berbaghai pihak. Kemitraan MUI dan pemerintah sudah berjalan bagus. Misalnya terkait keuangan syariah, jaminan produk halal, penanggulangan bencana, dan lain sebagainya.

“Landasan pelaksanaan program tersebut adalah prinsip pelayan umat dan mitra pemerintah. Ke depan landasan kerja tersebut harus terus ditegakkan dalam rangka menerapkan kinerja MUI dan pemerintah,” kata dia.       

Harapan Presiden
Presiden Joko Widodo yang membuka acara Munas MUI secara daring, menyatakan pemerintah terus mendukung penuh ikhtiar MUI dalam mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin di dalam masyarakat yang majemuk.

Menurut Presiden, corak ke-Islaman di Indonesia identik dengan pendekatan dakwah kultural yang persuasif dan damai, tidak menebarkan kebencian, serta jauh dari karakter ekstrim dan merasa benar sendiri. Ini menunjukan semangat dakwah keislaman yang merangkul semua umat.

“Karena hakikat berdakwah adalah mengajak umat ke jalan kebaikan sesuai akhlak mulia Rasullullah SAW,” kata Presiden.

Menurut Jokowi, ikhtiar MUI untuk mewujudkan Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta ini juga didukung seluruh elemen bangsa yang sadar untuk hidup berdampingan demi kemajuan bangsa. (H-2)

 

Baca Juga

Antara/Rony Muharrman

Kemenkes Instruksikan Dinkes Input Data Vaksinasi ke Pcare

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Jumat 22 Januari 2021, 06:14 WIB
Kementerian Kesehatan menginstruksikan kepada seluruh Kepala Dinas Kesehatan untuk segera memasukkan data hasil vaksinasi ke dalam aplikasi...
MI/Adam Dwi

Menko Airlangga Klaim Program 3T Berjalan Optimal

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Jumat 22 Januari 2021, 06:05 WIB
Menurut dia, optimalnya program 3T yang dijalankan pemerintah tecermin lewat data. Indonesia memiliki kasus covid-19 sebanyak 939 ribu...
Antara/Rony Muharrman

Asosiasi Rumah Sakit Dukung Vaksinasi Mandiri

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Jumat 22 Januari 2021, 02:40 WIB
Menurut Persi, program vaksinasi secara mandiri dapat membantu percepatan vaksinasi covid-19 di Tanah Air. Pemerintah juga harus...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya