Minggu 08 November 2020, 23:40 WIB

Fenomena La Nina Musibah atau Berkah?

Zubaedah Hanum | Humaniora
Fenomena La Nina Musibah atau Berkah?

MI
Infografis

 

DOSEN IPB University dari Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (GFM-FMIPA), Dr Perdinan angkat bicara soal fenomena La Nina. Menurutnya, dampak positif dan negatif dari La Nina adalah dua sisi yang harus dikelola dengan baik.

Ia menjelaskan, La Nina sangat berdampak bagi Indonesia, terutama jika fenomena tersebut terjadi di musim penghujan pada wilayah yang bertipe iklim monsunal, yaitu wilayah yang memiliki curah hujan tinggi saat akhir dan awal tahun.

“Secara umum, jika La Nina terjadi di musim hujan maka dampaknya akan lebih besar, khususnya pada wilayah yang bertipe iklim monsunal. Seperti mayoritas Pulau Jawa, sebagian Sumatera, Bali dan di sebagian Nusa Tenggara Timur (NTT). Akibatnya, La Nina akan menjadikan musim hujan bertambah lama dan curah hujan akan lebih tinggi,” kata Dr Perdinan dilansir dari laman IPB University.

Ia tak menampik bahwa dengan kondisi curah hujan yang lebih tinggi, potensi banjir bagi wilayah yang rentan juga semakin tinggi. Namun, Dr Perdinan menilai La Nina tidak selamanya identik dengan banjir.

Menurutnya, penambahan curah hujan tidak berarti harus selalu banjir. Fenomena ini juga dapat memberikan dampak positif sebab pasokan air menjadi lebih banyak.  

"Kalau terjadi pada wilayah persawahan atau rentan banjir, bisa jadi musibah. Tapi jika jatuh di wilayah yang memiliki waduk dan terdapat pembangkit listrik tenaga air, ini bisa jadi berkah sebab menambah jumlah volume air di waduk. Kelebihan tersebut bisa dimanfaatkan untuk pengairan, cadangan air, pengisian waduk atau embung-embung,” urai Pakar Ekonomi Penilaian Informasi Iklim IPB University ini.

Pengalaman lokal

Dampak positif dan negatif dari La Nina, kata Dr Perdinan, bergantung bagaimana memanfaatkan informasi iklim dengan baik. Yang perlu dikembangkan saat ini adalah pemahaman atas fenomena ini, apa saja dampak positif terhadap wilayah dan komoditas yang diamati.

Hal yang juga tak kalah penting adalah memanfaatkan pengalaman lokal, sebab pada hakikatnya La Nina merupakan peristiwa periodik yang muncul berulang antara 3 sampai 7 tahun sekali. Dari situlah bisa ditentukan langkah yang bisa dilakukan agar dampak negatif La Nina bisa dihindari dan dampak positifnya bisa dimanfaatkan.

“Iklim adalah sumberdaya. Kalau kita bisa memanfaatkannya dan mengubah pola perilaku kita, itu akan berdampak positif. Misalnya ketika lahan pertanian itu mendapatkan air melimpah yang berpotensi menurunkan produktivitas, maka saluran irigasinya harus dipersiapkan dengan baik. Atau bisa dengan menanam pada luasan yang lebih luas, khususnya di wilayah sawah tadah hujan. Pemetaan luasan potensi dampak La Nina dan peta lahan persawahan sangat diperlukan untuk memberikan informasi respons yang perlu dilakukan dalam pengelolaan risiko iklim tersebut,” terang Sekretaris Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University ini.

Infrastruktur
Perencanaan pembangunan infrastruktur juga perlu memperhatikan potensi dampak La Nina. Pada wilayah yang sudah sering mengalami dampak La Nina, lanjut Dr Perdinan, maka pembangunan waduk atau media tampung air perlu mempertimbangkan potensi dampak La Nina ini.

Dengan begitu, volume waduknya bisa ditambah atau kekuatan struktur waduk disesuaikan dengan periode ulang dan potensi jumlah air yang akan jatuh di wilayah itu.

“Jika kita sudah tahu akan ada air yang jatuh sebanyak 20 liter, masa kita beli ember yang kapasitasnya hanya 5 liter? Ya pasti meluber dong,” pungkasnya. (H-2)

Baca Juga

ANTARA/Arif Firmansyah

Percepat Vaksinasi dan Cegah Kerumunan Cara Ampuh Atasi Covid-19

👤Atalya Puspa 🕔Rabu 23 Juni 2021, 08:42 WIB
"Di samping mutasi virus, terjadinya lonjakan kasus juga karena adanya...
dok.manggala agni

Karhutla Bisa Picu Peningkatan Kasus Covid-19 di Indonesia

👤Atalya Puspa 🕔Rabu 23 Juni 2021, 08:10 WIB
SETIAP kejadian kebakaran hutan selalu diikuti oleh peningkatan kasus covid-19. Biasanya kenaikan terjadi setelah sekitar satu minggu...
Dok. Indoffod

Ketahanan Pangan Jadi Tema Beasiswa Riset IRN 2021

👤Citra Larasati 🕔Rabu 23 Juni 2021, 02:00 WIB
Program IRN adalah pemberian dana bantuan riset kepada mahasiswa S1)yang tengah melakukan penelitian sebagai syarat untuk...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kereta Api Makassar-Parepare Membangun Ekonomi dan Peradaban

Belanda pernah membuat jalur kereta api Makassar-Takalar, namun sejak Jepang berkuasa jalur itu dibongkar. Dan baru era sekarang, Sulawesi Selatan kembali memiliki jalur  kereta api

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya