Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Prof Dr Faisal Abdullah SH MSi DFM mengatakan bahwa peringatan Sumpah Pemuda harus dijadikan momentum untuk mengajak masyarakat Indonesia, khususnya pemuda-pemudi Indonesia untuk menghayati dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan persatuan dalam menangkal masuknya ideologi radikal.
"Seharusnya ide itu tidak berdasarkan suatu keagamaan, suku, ras, maupun bahasa tertentu, tetapi membawa ideologi yang majemuk baik dari berbagai agama, suku, ras dan bahasa yang ke depannya itulah yang bisa melahirkan suatu ideologi yang bernama Pancasila hingga saat ini. Yang mana bangsa ini tetap kokoh dalam menjaga persatuan dan nilai-nilai kebangsaan," ujar Faisal Abdullah dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/11).
Faisal menuturkan bahwa itulah yang seharusnya dilakukan oleh para tokoh bangsa, tokoh masyarakat maupun oleh para pemuda-pemudi itu saat ini.
Jadi kesadaran kebangsaan itu tidak boleh hilang dalam jati diri para pemimpin bangsa dan pemuda itu sendiri. Karena tumbuhnya kesadaran kebangsaan itu bukan suatu hadiah.
"Dan kesadaran kebangsaan ini merupakan suatu aktualisasai diri. Jadi kesadaran berbangsa ini memang harus tumbuh dan berkembang di dalam rumah tangga seorang pemuda itu. Mulai dari orang tuanya maupun anaknya sendiri yang mana kesadaran kebangsaan itu harus selalu dipelihara," tuturnya.
Pria kelahiran Pare-Pare, 24 Juni 1963 itu mengungkapkan bahwa jika hal tersebut telah berkembang menjadi suatu paham, maka dia akan dapat membentengi dirinya dengan kesadaran kebangsaan itu sendiri. Sehingga, menurut dia, mereka ini tidak mudah di provokasi, diadu domba atau diarahkan ke hal-hal yang tidak sesuai.
Lebih lanjut pria yang juga menjabat sebagai Deputi I bidang Pemberdayaan Pemuda di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI itu menyampaikan bahwa untuk merefleksi kembali Sumpah Pemuda dalam kehidupan sehari-hari itu harus menemukan satu titik yang namanya satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa serta anak-anak muda mempunyai daya tangkal yang baik dalam membentengi dirinya.
Baca juga: Pasca Libur Panjang, Belum Ada Lonjakan Positif Korona
Dalam kesempatan itu, Faisal juga mengatakan bahwa di era sekarang ini masih saja generasi muda yang mudah terprovokasi. Kalau hal ini dibiarkan tentu akan sangat berbahaya bagi persatuan bangsa ini. Ini disebabkan masih minimnya literasi yang dimiliki para anak muda sehingga mereka mudah terprovokasi akibat adanya hoaks dan ujaran kebencian yang disebar melalui media sosial.
"Generasi muda ini tentunya masih banyak yang jiwanya masih labil. Bahkan di masyarakat luas sendiri juga masih rendah literasi-nya sehingga mudah terprovokasi. Tentunya hal ini kita semua harus bersama-sama memberikan literasi yang positif kepada para generasi muda agar terhindar dari konten-konten provokasi tersebut. Karena ini penting bagi generasi muda untuk memperkokoh NKRI," ujarnya.
Menurut dia "di era digitalisasi ini memang satu-satunya jalan adalah bagaimana intelijen-intelijen di bidang siber itu dapat berjalan dengan baik, sehingga cyber crime itu bisa berkurang. "Salah satunya jalan adalah memperkuat kemampuan siber kita, baik sebagai pengetahuan maupun sebagai bentuk alat untuk menangkal."
Faisal juga menuturkan pentingnya sosialisasi melalui IT karena banyak hoaks maupun ujaran kebencian yang beredar dimana-mana, seperti, misalnya, mengajak orang untuk melakukan radikalisme, atau hoaks yang membawa suatu ideologi agama tertentu, yang mana hal itu hanya dipakai sebagai alat untuk kebenaran dan keuntungan dia atau kelompoknya sendiri. (OL-15)
SETIAP 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berikrar untuk bersatu: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, Indonesia.
Dulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing dan pena, kini perjuangan itu menuntut transformasi ekonomi, kemandirian finansial, dan keadilan sosial.
Menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini menjadi langkah penting dalam membangun generasi muda yang peduli dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan kembali pentingnya pemulihan kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung yang menopang kehidupan di wilayah hilir.
Momentum ini menjadi titik temu antara penegakan hukum, pelestarian lingkungan, tanpa melupakan sisi anugerah alam yang bisa dijadikan sumber mata pencaharian masyarakat.
Dalam sejarah, Sumpah Pemuda 1928 dapat dibaca sebagai upaya membangun imajinasi kolektif di bawah kondisi keterpecahan dan penindasan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved