Jumat 30 Oktober 2020, 15:28 WIB

La Nina di Samudra Pasifik, Waspadai Dampaknya di Indonesia

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora
La Nina di Samudra Pasifik, Waspadai Dampaknya di Indonesia

Antara
Ilustrasi

 

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La-Nina sedang berkembang.

Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal, dalam laman BMKG mengungkapkan Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir dengan nilai anomali telah melewati angka -0.5°C, yang menjadi ambang batas kategori La Nina.

"Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut masing-masing adalah -0.6°C pada bulan Agustus, dan -0.9°C pada bulan September 2020," tulis Herizal, Jumat (30/10).

BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir tahun 2020, diperkirakan akan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021.

Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya. Namun demikian dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada Bulan Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera. Selanjutnya pada Bulan Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara dan Papua.

Baca juga : Siswa SMP di Tarakan Bunuh Diri, KPAI Minta PJJ Dievaluasi

Pada Bulan Oktober ini, beberapa zona musim di wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki Musim Hujan, di antaranya: Pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Pulau Bangka, Lampung, Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa tengah, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Utara, sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat.

"Peningkatan curah hujan seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor," ungkapnya.

Herizal menghimbau para pemangku kepentingan diharapkan dapat lebih optimal melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir misalnya dengan penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih. Ia pun mengingatkan masyarakat untuk terus waspada.

"Masyarakat diimbau agar terus memperbaharui perkembangan informasi dari BMKG dengan memanfaatkan kanal media sosial infoBMKG, atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat," pungkasnya. (OL-2)

 

Baca Juga

Sumber: Satgas Penanganan Covid-19/Kemenristek/BRIN/Tim Riset MI-NRC/ Grafis: SENO

Vaksin Merah Putih Diproduksi Awal 2021

👤Faustinus Nua 🕔Jumat 04 Desember 2020, 03:50 WIB
Pemerintah akan melibatkan perusahaan swasta untuk bekerja sama dengan BUMN Biofarma melakukan hilirisasi bibit...
Medcom.id

FKKMK UGM Gandeng Perusahaan Filipina

👤AU/X-11 🕔Jumat 04 Desember 2020, 03:40 WIB
Obat tersebut akan digunakan untuk mengobati pasien yang terpapar virus, termasuk virus Korona, namun bukan...
Dok. KLHK

Kebijakan Berbasis Sains makin Dibutuhkan

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 04 Desember 2020, 03:00 WIB
HASIL penelitian harus dapat menjadi bahan masukan kebijakan pemerintah agar berdampak dan memberi manfaat seluas-luasnya untuk kepentingan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya