Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT kanker payudara tidak hanya mempengaruhi kondisi fisik tetapi juga psikis penderitanya. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat yang juga sempat menderita kanker payudara mengatakan ada dua jenis depresi/stres pada penderita kanker. Pertama yang disebabkan oleh faktor kejiwaan, ketidaksiapan mental, kurang dukungan, dan kurang memahami informasi seputar penyakit yang diderita. Sedangkan yang kedua yaitu stres karena pengaruh obat.
“Ada hal yang tidak bisa dihindari oleh semua orang, sekuat-kuatnya orang itu, sepaham-pahamnya orang itu pada penyakitnya, satu hal yang tidak bisa dihindari yaitu perasaan depresi, down, dan putus asa yang terjadi akibat obat,” kata wanita yang akrab disapa Rerie ini dalam webinar, Sabtu (24/10).
Rerie menuturkan, untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya, ia harus menjalani kemoterapi sebanyak enam kali, radiasi 28 kali, dan terapi DNA yang masih berlangsung. Selama pengobatan, Rerie sempat mengalami stress hingga menimbulkan rasa takut yang berlebihan pada dirinya.
Menurutnya, agar dapat memulihkan kondisi psikis penderita kanker dibutuhkan dukungan keluarga, masyarakat, dan konseling dari ahli.
“Mungkin ke depan ini juga bisa menjadi salah satu masukan bagi lembaga-lembaga pendidikan. Bagaimana menyiapkan tenaga-tenaga yang mehami masalah ini (psikis penderita kanker),” tuturnya.
Baca juga: Faktor Risiko Kanker Payudara Bisa Dihitung
Dalam kesempatan berbeda, Co-founder Love Pink Indonesia sekaligus penyintas kanker payudara Madelina Mutia sempat terkejut dan bingung saat dokter menyarankannya agar melakukan mastektomi atau pengangkatan payudara untuk menyembuhkan penyakit yang diderita. Sebab, sebagai seorang wanita payudara merupakan bagian tubuh yang cukup penting.
Namun, pada akhirnya Muti melakukan apa yang disarankan dokter demi kesembuhannya.
“Setelah operasi, nggak kerasa sakit. Tapi merasa ada sesuatu yang hilang,” ujar Muti.
Muti mengatakan, hal yang dapat membuatnya menerima keadaan adalah dukungan dari keluarga, teman, dan informasi yang memadai. Membaca referensi yang diberikan teman dan rajin berkonsultasi dengan dokter, membuat Muti yakin kanker payudara dapat disembuhkan, meski ada saat di mana perasaannya tidak stabil.
“Kita harus jadi pasien yang pintar, harus kritis, jadi kita bisa mendapat informasi yang benar sehingga bisa mengurangi kekhawatiran dan bisa mempercepat seseorang masuk pada tahap acceptance (menerima keadaan),” pungkasnya.(OL-5)
Peneliti Universitas Airlangga mengembangkan turunan pinostrobin dari temu kunci yang berpotensi lebih efektif dan aman untuk terapi kanker payudara.
Dari studi tersebut, terdapat beberapa temuan utama terkait faktor gaya hidup setelah diagnosis kanker payudara dan pengaruhnya terhadap peluang kesembuhan ataupun kelangsungan hidup
Berdasarkan studi terkini, jumlah kasus kanker di tanah air diprediksi meningkat hingga lebih dari 70% pada 2050 jika upaya preventif dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini.
Studi terbaru The Lancet Oncology mengungkap ketimpangan tragis, angka kematian kanker payudara turun di negara maju, namun melonjak hampir 100% di negara miskin.
DIREKTUR Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) , Siti Nadia Tarmizi, memaparkan urgensi perbaikan sistem deteksi dini kanker payudara.
Kanker payudara masih jadi kasus tertinggi pada perempuan. Simak 8 langkah alami berbasis bukti ilmiah untuk menurunkan risiko, mulai dari olahraga hingga deteksi dini rutin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved