Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Kemasan Grup Wahyudi Sulistya menilai, kebijakan pelarangan penggunaan plastik sekali pakai yang diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia tidak efektf dalam menanggulangi masalah sampah di Tanah Air. Dia menuturkan, pelarangan plastik sekali pakai dapat berdampak pada berkurangnya lapangan pekerjaan.
Diperkirakan lebih dari 170 ribu orang yang bekerja di industri plastik akan terdampak jika kebijakan ini terus diterapkan. Selain itu, kemasan yang saat ini menjadi pengganti plastik sekali pakai seperti spunbound atau paper bag juga memiliki lapisan plastik dan dapat menimbulkan masalah lingkungan lainnya. Menurutnya, yang perlu diperbaiki saat ini adalah manajemen limbah di masyarakat.
"Pelarangan plastik ini tidak perlu dilakukan karena tidak menyelesaikan akar masalah. Saat ini masalah yang terjadi karena manajemen limbah yang kurang baik," kata Wahyudi dalam webinar Yok Yok Ayok Daur Ulang! (YYADU!), Selasa (29/9).
Dia menjelaskan, pengelolaan sampah sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008. Dalam regulasi tersebut tertulis bahwa setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan.
Baca juga : Inilah Kebutuhan Vitamin untuk Mendukung Daya Tahan Tubuh
Selain itu, pada pasal 21 tertulis bahwa pemerintah memberikan insentif kepada setiap orang yang melakukan pengurangan sampah dan disinsentif kepada setiap orang yang tidak melakukan pengurangan sampah.
“Jadi harus ada insentif terhadap masyarakat yang melakukan pengelolaan pengurangan sampah. Nah ini kapan dilakukan insentif ini?” imbuhnya.
Menurut Wahyudi, jika regulasi tersebut dijalankan dengan baik, maka semestinya pengelolaan sampah di Indonesia juga bisa lebih tertata dan tidak akan ada masalah limbah seperti yang terjadi saat ini.
“Kalau regulasi ini dijalankan dengan baik, sebenarnya pengelolaan sampah di Indoesia itu sudah jalan. Kenapa Undang-Undang ini dibiarkan seperti macan ompong?” tandasnya. (OL-7)
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Advanced Energy Materials, para ilmuwan berhasil mengembangkan metode untuk mengubah sampah plastik menjadi asam asetat, bahan utama cuka.
Program inovatif BTN ubah sampah plastik jadi kredit cicilan rumah. Warga bisa meringankan beban dengan menukarkan limbah rumah tangga jadi tabungan.
Masaaki Okamoto menyebut pertumbuhan ekonomi, digitalisasi, serta urbanisasi yang pesat menjadi faktor utama meningkatnya produksi dan maraknya konsumsi plastik di dunia.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menargetkan pembiayaan pembangunan hingga 20.000 unit rumah rendah emisi pada tahun 2026.
Pekerja mengolah sampah tutup botol plastik di Bank Sampah Kertabumi, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten.
Memakai galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai hingga 316 ton setiap tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved