Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPEDULIAN yang tinggi agar persoalan pandemi segera berakhir mengundang Fadly Barjadikusuma, 32, untuk mendaftarkan diri sebagai relawan uji klinis fase III vaksin covid-19. Rasa takut akan ketidakpastian keberhasilan uji coba pun kalah oleh kekhawatiran akan ancaman virus korona terhadap anak dan istrinya.
Warga Margahayu, Kopo, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek daring itu sadar akan risiko pekerjaannya yang rentan menularkan virus korona kepada keluarga di rumah. “Jadi, saya ingin (pandemi) korona ini segera berakhir,” kata Fadly, dua hari lalu.
Maka dari itu, saat mengetahui adanya pendaftaran relawan, dia langsung mendaftarkan diri. “Waktu itu saya tahu dari keluarga yang kerja di tempat praktik dokter Kusnandi (ketua tim uji coba fase III vaksin virus korona Universitas Padjadjaran),” katanya.
Selang tiga hari setelah mendaftar melalui aplikasi pesan instan (Whatsapp), Fadly dipanggil untuk menjalani pemeriksaan di RS Fakultas Kedokteran Unpad di Jalan Eyckman, Bandung. Pada hari pertama, dia diperiksa kesehatan dan diberi sejumlah informasi terkait dengan vaksin korona. “Saya dicek darah, diukur tinggi badan, diambil darah.”
Fadly pun dinyatakan lolos un- tuk menjadi relawan. Pada hari kedua bertepatan dengan kedatangan Presiden Joko Widodo ke RS Unpad, dia menjalani penyuntikan. “Saya tidak tahu apakah di suntik vaksin atau plasebo, sengaja tidak diberi tahu dulu.”
Berdasarkan ketentuan, seluruh subjek yang menjadi relawan memang tidak diberi tahu apakah mereka disuntik vaksin atau plasebo (bukan vaksin). Meski begitu, Fadly merasakan sejumlah perubahan pascadirinya disuntik. Pertama, di tempat penyuntikan tepatnya di lengan kiri bagian atas, terlihat bengkak ringan. “Kepala nyut-nyutan, pusing. Tapi wajar. Suhu badan juga normal, di bawah 37 derajat,” ucapnya.
Tak hanya itu, 3 jam kemudian, dirinya merasakan lapar yang luar biasa. Padahal, kata dia, sebelum disuntik dirinya sudah makan siang seperti biasa. Lima jam setelah disuntik, dirinya juga merasakan ngantuk berat. Kondisi itu terasa selama tiga hari berturut-turut.
Di hari keempat, Fadly merasakan kondisi tubuhnya lebih bugar. Badan terasa ringan, pandangan mata juga lebih cerah. Dia pun akan kembali melanjutkan perannya sebagai relawan untuk menjalani penyuntikan kedua pada 25 Agustus dan terakhir pada 9 September.
Kisah serupa juga dialami Ferry Ahmad Firdaus, 51. Dipicu harapan agar segera ada vaksin covid-19, pegawai Pemprov Jabar itu merelakan dirinya sebagai subjek uji coba. Dia bahkan mengajak istri dan anaknya untuk bersama-sama menjadi relawan.
Bedanya dengan Fadly, Ferry tak merasakan apa-apa setelah disuntik. “Nyeri, pegel, juga tidak. Alhamdulillah mudah-mudahan ke depannya menjadi lebih baik. Siapa lagi, kapan lagi kita akan mendapatkan vaksin kalau bukan mulai sekarang,” tutur Ferry. (BY/Metro TV/X-8)
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved