Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
BUKAN cuma orang dewasa yang perasaannya tidak menentu karena beberapa bulan terbatas ruang geraknya akibat pandemi covid-19, anak-anak pun bisa tertekan selama bersekolah dari rumah.
Menurut psikolog Anna Surti Ariani, anak-anak bisa merasa stres dan tertekan ketika berada di rumah saja.
Proses sekolah dari rumah bukan cuma jadi tantangan untuk orangtua yang kini aktif mengawasi anak-anak saat belajar, saat biasanya mereka di bawah pengawasan guru sekolah.
Anak-anak pun menghadapi tantangan beragam karena menghadapi perubahan rutinitas dari berhadapan dengan guru menjadi berhadapan dengan layar.
Baca juga: Orangtua dan Anak tetap Dekat di Tengah Covid-19
Mereka bisa tertekan karena rindu bermain dengan teman, bosan di rumah, juga karena mendengar omelan orangtua.
"Bermain adalah cara anak mengatasi tekanan dan stres sehari-hari," kata Anna dalam acara virtual #MainYuk Dari Rumah bareng Paddle Pop, Rabu (22/7).
"Ketika dia terus-terusan ditekan dengan tuntutan tersebut, dia seperti karet yang ditegangkan terus menerus, ibaratnya tidak efektif. Ketika karet dilonggarkan dulu, bisa efektif lagi," lanjutnya.
Anak dapat melepaskan tekanan yang ia rasakan dengan cara bermain. Dengan demikian, anak bisa menghadapi stres dengan cara yang sehat karena rasa itu bisa diluapkan.
"Misalnya, anak kesal karena dimarahi orangtua. Ketika bermain, dia mungkin memarahi boneka sebagai cara mengekspresikan emosinya secara sehat supaya tidak terpendam," jelas dia.
Jika rasa tertekan bisa diekspresikan kepada mainan, kesehatan mental anak juga bisa terjaga.
Ketika sudah tiba waktunya anak untuk kembali belajar, prosesnya bisa berlangsung lebih efektif karena dia sudah berhasil mengatasi rasa stres.
Puteri Indonesia 2004 Artika Sari Devi selalu memastikan anak-anaknya bisa beristirahat di sela belajar.
"Saya dan Baim sepakat mereka harus punya waktu imbang antara bermain dan belajar," kata Artika yang mengakui ada tantangan baru bagi orangtua dan anak untuk beradaptasi dengan proses sekolah di masa pandemi.
Di sela masa belajar anak, setiap kali ada waktu istirahat, dia dan Baim akan membiarkan anak-anaknya bermain.
Jika sempat, mereka juga ikut bermain bersama untuk mengeratkan hubungan sekaligus mengasah kemampuan sosial buah hati. (Ant/OL-1)
Kondisi emosional adalah faktor penentu utama kemampuan anak dalam menyerap pelajaran.
Pengenalan puasa yang dilakukan dengan paksaan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang berdampak negatif pada kesehatan mental anak.
Orangtua juga diminta mewaspadai Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pewarna atau penyedap rasa yang sering ditambahkan ke dalam makanan.
Anak-anak harus dibekali dengan kemampuan untuk bersikap asertif. Hal ini bertujuan agar anak mampu menjaga batasan dirinya dalam relasi sosial.
Reaksi pertama orangtua saat mengetahui anak mereka dirundung akan sangat menentukan proses pemulihan mental sang anak.
Kesalahan nutrisi sering kali terjadi karena ketidaktahuan orangtua yang menganggap pola makan anak saat ini sebagai hal yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved