Selasa 07 Juli 2020, 15:35 WIB

Selimut Berat Diyakini Jadi Solusi Susah Tidur

Mediaindonesia.com | Humaniora
Selimut Berat Diyakini Jadi Solusi Susah Tidur

Dok.Arter Blanket
Seringkali kita terbangun di malam hari dan susah untuk kembali terlelap.

 

APAKAH anda memiliki gangguan tidur? Seringkali terbangun di malam hari dan susah untuk kembali terlelap. Atau adanya kehadiran sedikit suara, mengganggu tidur Anda dan membuat anda terbangun?

Menurut penelitian dari Harvard Medical School, salah solusi  untuk menangani masalah susah tidur yakni menggunakan selimut. Selimut berat dipercaya dapat meningkatkan kualitas tidur.

Baca juga: Tujuh Hal yang Membuat Anda Susah Tidur

Diungkapkan pendiri Arter Blanket, Raymond, tidur berkualitas adalah tidur malam yang nyenyak, tenang, tidak mudah terbangun di malam hari, bangun saat diharapkan, dan perasaan segar di pagi hari.

“Pemakaian selimut berat dapat menjaga tidur tetap pulas dan nyenyak dan tidak mudah terbangun. Karena gerakan kita dibatasi oleh beratnya selimut ini, pikiran dan tubuh kita lebih mudah untuk rileks dan merasa tenang, yang hasilnya akan lebih cepat membuat kita tertidur,” ungkap Raymond.

Ia mengutip sebuah studi di Swedia pada 2015 yang menemukan bahwa para peserta yang menggunakan selimut berat memiliki tidur malam yang lebih tenang, bangun lebih segar dengan mood yang lebih baik, konsentrasi meningkat. Itu sebabnya kemudian dipercaya bahwa menggunakan selimut berat memberi mereka tidur yang lebih nyaman, lebih baik, dan lebih tenang.

Tidur sendiri mempunyai peran penting dalam kesehatan jiwa dan raga. Setiap dari kita pasti butuh tidur. Selimut ini tak hanya baik untuk orang dengan gangguan tidur, selimut ini juga sangat baik untuk siapa saja yang ingin tidur nyenyak.  “Sangat beruntung bagi kita yang ingin segera mencoba solusi ini."

Tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan pikiran. Departemen Kesehatan dan Kemanusiaan Amerika Serikat merekomendasikan pedoman tidur sebagai berikut. Pertama, oang dewasa membutuhkan 7 hingga 8 jam, sedangkan anak-anak membutuhkan 9 hingga 12 jam, dan bayi membutuhkan 11 hingga 16 jam.

"Saat kita tertidur, tubuh kita langsung bekerja untuk regenerasi sel-sel, otot, saraf dan organ tubuh kita. Kualitas tidur kita akan menentukan kualitas kesehatan kita. Kekurangan tidur yang berlangsung akan menyebabkan peningkatan risiko penyakit. Maka dari itu berikanlah yang terbaik untuk tubuh kita saat kita beristirahat, Tubuh kita pantas mendapatkan yang terbaik dan hanya yang terbaik," ujar Raymond. (Ant/A-1)

Baca Juga

Dok Satgas Penanggulangan Covid-19

Tinjau GOR Gelarsena Klaten, Ketua Satgas Ingin Pengendalian COVID-19 Terintegrasi

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 30 Juli 2021, 00:00 WIB
“Antara penanganan di hulu dan di hilir ini harus kolaboratif. Harus menjadi satu rangkaian penanganan covid-19 yang terintegrasi...
Dok. Satgas Relawan

Kolaborasi Satgas Relawan-Baznas Beri Edukasi soal Pemulasaran Jenazah Covid-19

👤Mediaindoensia.com 🕔Kamis 29 Juli 2021, 23:43 WIB
Relawan COVID-19 yang mengikuti Kegiatan Webinar hari ini kemudian akan dilatih dan didampingi untuk membantu proses pemulasaran jenazah...
Dok. Aprobi

Dukung PPKM, Aprobi Bagikan 1.200 Paket Makanan Tiap Hari

👤Andhika Prasetyo 🕔Kamis 29 Juli 2021, 22:34 WIB
Paket makanan tersebut didistribusikan ke sejumlah wilayah di Jabodetabek dan ditujukan utamanya bagi masyarakat yang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Atletik Jadi Lumbung Medali

SALAH satu cabang olahraga yang akan sangat menarik untuk disaksikan di Olimpiade 2020 ialah atletik.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya