Jumat 03 Juli 2020, 11:55 WIB

Hari Ini ITB Peringati Satu Abad Kelahirannya

Zubaedah Hanum | Humaniora
Hari Ini ITB Peringati Satu Abad Kelahirannya

Instagram @itb1920
Peringatan 100 Tahun ITB

 

HARI ini tepat satu abad atau 100 tahun kelahiran Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI), cikal bakal berdirinya Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ahli geodesi Indonesia dan Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Republik Indonesia yang juga alumnus ITB, Prof Hasanuddin Z Abidin turut mengucapkan harapannya kepada almamaternya.

"Selamat milad ke 100 untuk almamater tercinta. Semoga darma baktimu untuk bangsa dan negara, terus bertumbuh kembang. Aamiin YRA," tulisnya dalam media sosialnya, Jumat (3/7).

Laki-laki kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1960 itu menempuh pendidikan sarjananya di ITB dan melanjutkan jenjang S-2 dan S-3 di University of New Brunswick, Kanada.

Ia menulis beberapa buku di bidang geodesi, antara lain Geodesi Satelit (2011), Survei dengan GPS (2002), serta Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya (2007).

Dikutip dari laman itb.ac.id, sejarah Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia berawal pada abad ke-20, ketika pemerintah kolonial Belanda mendirikan de Techniche Hoogeschool te Bandung (TH) pada 3 Juli 1920 di lahan seluas 30 hektare di Bandung, Jawa Barat.

Saat itu hanya terdapat satu fakultas yaitu de Faculteit van Technische Wetenschap dan hanya satu jurusan yaitu de afdeeling der We gen Waterbouw. Pendirian perguruan tinggi ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang semakin terbatas pada masa kolonial Belanda akibat pecahnya Perang Dunia pertama.

Sejak resmi dibuka untuk tahun kuliah 1920-1921, terdaftar 28 orang mahasiswa TH, namun hanya ada 2 orang pemuda Indonesia. Sementara itu, jumlah dosen pada permulaan tahun 1922 terdapat 12 orang guru besar.

Empat tahun kemudian, pada tanggal 4 Juli 1924 dilepaslah insinyur yang pertama dari TH berjumlah 12 orang. Status TH dari saat pembukaan sampai tahun 1924 adalah bijzondere school yang kemudian berganti statusnya dari swasta menjadi instansi pemerintah.

Pada Dies ke-6 tanggal 3 Juli 1926, dari 22 orang kandidat insinyur yang lulus berjumlah 19 orang dengan 4 orang di antaranya adalah pribumi. Saat itulah untuk pertama kalinya TH Bandung menghasilkan insinyur orang Indonesia. Satu dari keempat orang itu adalah Ir R Soekarno yang kelak menjadi proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia.

Saat pendudukan Jepang pada 1944-1945, TH berubah nama menjadi Bandung Kogyo Daigaku (BKD) dan menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung setelah Indonesia merdeka.

Pada 1946, sempat berpindah ke Yogyakarta dengan sebutan STT Bandung di Jogja yang kemudian menjadi Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada 21 Juni 1964, terjadi perubahan nama menjadi Universiteit van Indonesie di bawah kendali NICA dengan Faculteit van Technische Wetenschap dan Faculteit van Exacte Wetenschap berdiri kemudian.

Di kemudian hari, pada 1950-1959 ia menjadi bagian dari Universitas Indonesia untuk Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam.

Didorong oleh gagasan dan keyakinan yang dilandasi semangat perjuangan proklamasi kemerdekaanserta wawasan ke masa depan, Pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya ITB pada tanggal 2 Maret 1959.

ITB lahir dalam suasana penuh dinamika mengemban misi pengabdian ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berpijak pada kehidupan nyata di bumi sendiri bagi kehidupan dan pembangunan bangsa yang maju dan bermartabat.

Hari ini, pada 3 Juli 2020 ITB secara de facto berusia 100 tahun di mana telah menghasilkan lebih dari 120.000 alumni yang berperan penting dalam pembangunan bangsa.

Dengan 12 fakultas/sekolah, 128 program studi, dan 111 Kelompok Keahlian,7 Pusat Penelitian, dan 6 Pusat Unggulan Iptek (PUI), ITB menjadi tempat menimba ilmu teknik bagi lebih dari 26 ribu mahasiswa program sarjana, master, dan doktor.

ITB tercatat memiliki 1.510 dosen dengan 195 guru besar, dan berlokasi di dua tempat lain selain kampus Ganesa Bandung yaitu Jatinangor dan Cirebon. ITB juga menjadi perguruan tinggi terbaik nasional dan pelopor kemajuan sains, teknologi, dan seni di Indonesia. (H-2)

Baca Juga

dok.medcom.id

Perubahan Iklim Global Makin Bahaya, Ini yang Dibutuhkan

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 30 September 2022, 17:49 WIB
PERUBAHAN iklim global semakin berbahaya. Karena itu, pendekatan yuridiksi untuk menekan bahaya perubahan iklim global harus...
Antara

Efek Samping Vaksin Indovac dan AWcorna Hanya Pegal dan Nyeri Otot

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 30 September 2022, 16:41 WIB
Dua produk vaksin covid-19 tersebut baru saja mendapatkan izin penggunaan darurat (EUA) dari BPOM. Efek samping dari vaksin Indovac...
DOK Kemenkominfo.

Agar Tetap Hidup Sehat dalam Paparan Teknologi

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 30 September 2022, 14:50 WIB
Dengan segala kemudahan yang ditawarkan perangkat gawai terkadang seakan membuat penggunanya lupa waktu dalam...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya