Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Rektor ITB Serahkan Hunian Sementara untuk Korban Longsor Cisarua

Naviandri
20/2/2026 18:05
Rektor ITB Serahkan Hunian Sementara untuk Korban Longsor Cisarua
Satu unit hunian sementara (huntara) dari ITB.(Dok.ITB)

MELALUI Program Desa Bangkit Cisarua kolaborasi antara DPMK ITB, Rumah Amal Salman, Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, dan Ikatan Alumni ITB. Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, menyerahkan satu unit hunian sementara (huntara) dan bantuan sembako bagi warga terdampak longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (19/2).

Kegiatan ini bertujuan memberikan respons kemanusiaan terpadu bagi masyarakat terdampak longsor, melalui fase tanggap darurat, pemulihan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi dengan penerapan teknologi tepat guna dan dukungan keahlian para pakar dari ITB. 

Program ini juga memberikan manfaat berupa terpenuhinya kebutuhan dasar, pemulihan kondisi psikososial, tersedianya hunian sementara dan akses air bersih yang layak, serta pulihnya kembali infrastruktur dasar masyarakat secara aman dan berkelanjutan. Kehadiran ITB di Cisarua merupakan bagian dari misi perguruan tinggi untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat.

“Alhamdulillah pada hari pertama Ramadan, menyaksikan bagaimana ITB hadir pada kondisi-kondisi bencana. Sejak November lalu di Sumatra pada hari kedua bencana ITB mengirimkan tim dan sampai hari ini masih terus di tiga provinsi menjalankan misinya,” ucap Rektor ITB, Tatacipta.

Menurut Tatacipta, pola kerja kolaboratif antara dosen, mahasiswa, alumni dan masyarakat menjadi model pengabdian yang harus terus dijaga. Mudah-mudahan model-model kerja seperti ini dapat menjadi contoh yang baik bagi semua untuk selanjutnya tetap bisa berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat.

"Melalui program ini, lebih dari 250 warga menerima manfaat, termasuk penyaluran 110 paket sembako, 35 paket obat-obatan, serta 40 bantuan kesehatan. Selain itu, tersedia layanan ambulans, layanan kesehatan, layanan psikososial, dan asesmen pascabencana untuk mendukung pemulihan secara menyeluruh," tuturnya.

Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Zulfiadi Zulhan menyampaikan, sejak hari kedua bencana di Cisarua, ITB hadir dan membentuk empat tim, manajemen risiko kebencanaan, kesehatan, permukiman, serta air dan sanitasi. Ia berharap hunian sementara yang diserahkan dapat menjadi awal pemulihan bagi warga terdampak.

“Mudah-mudahan pada hari ini, hari pertama bulan Ramadan, hunian sementara ini bisa bermanfaat bagi ibu dan bapak yang terkena dampak dari bencana longsor ini. Mudah-mudahan ke depan kehidupannya membaik. Selanjutnya kami juga akan membangun lagi sejumlah huntara di beberapa titik di Pasir Kuning," ungkapanya.

DIRANCANG CEPAT, DIBANGUN CEPAT
Sementara itu Ketua Tim Arsitek, Andry Widyowijatnoko memaparkan, bahwa desain huntara mengutamakan kecepatan pembangunan serta pemanfaatan material yang mudah diperoleh saat bencana. Huntara seluas 6 x 6 meter yang diserahkan tersebut dirancang untuk menampung dua keluarga dengan total penghuni tujuh orang.

“Pada prinsipnya, saya mendesain bangunan ini dengan tujuan agar memanfaatkan kayu, karena ini juga ditujukan untuk program pasca bencana di Sumatra dan Aceh,” terangnya..

Menurut Andry, kecepatan pembangunan dalam kondisi bencana sangat penting. Karena ini menyangkut hajat utama manusia, yaitu tempat untuk berlindung dan bernaung dari cuaca yang panas maupun dingin seperti yang ada di sini.

Struktur bangunan dikembangkan dari sistem reciprocal frame yang disederhanakan menjadi modul-modul rangka sehingga dapat dirakit dengan cepat. Bangunan ini juga dirancang fleksibel. Panjangnya dapat diperluas dengan menambah modul rangka sesuai kebutuhan sehingga dapat menambah jumlah penghuni.

“Sistem struktur huntara ini bisa dibuat dalam modul-modul, kemudian disusun dan dibangun sehingga cepat sekali pengerjaannya. Huntara ini didirikan dalam dua hari,” imbuhnya.

Selain itu lanjut Andry, material lainnya dapat menggunakan produk lokal atau daerah sekitar. Jadi idenya adalah mendirikan rumah seperti ini juga harus menggerakkan ekonomi lokal.

Sementara itu, bagi Ayi Kurniawan (43), warga yang rumahnya hanyut terbawa longsor, huntara tersebut menjadi secercah harapan baru. “Dengan adanya fasilitas ini sangat membantu saya yang terkena musibah, yang rumahnya sudah tidak ada. Bagus sekali dukungannya dan senang ada dari ITB yang datang ke Kampung Pasir Kuning untuk membantu,” tandasnya.(E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya