Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan terdapat 6 provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan di tahun 2020. Oleh karena itu, KLHK akan melakukan banyak modifikasi cuaca sebagai upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan di masa musim kemarau.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyebut pihaknya terus melakukan koordinasi untuk modifikasi cuaca yakni dengan merekayasa hujan sebagai salah satu upaya mencegah karhutla di sejumlah titik rawan.
"Kita melakukan modifikasi cuaca dengan merekayasa hujan, sehingga gambutnya basah dan dapat mencegah kebakaran," kata Menteri LHK Siti Nurbaya di Jakarta, Kamis (2/6).
Dia menjelaskan, upaya modifikasi cuaca dilakukan sebagai rangkaian penyelesaian dari permasalahan karhutla di Indonesia. Apalagi, pengendalian operasi terpadu dilakukan sejak 2015 hingga posko-posko di lapangan dan penegakan hukum.
"Semua itu satu rumpun penyelesaian dalam pengendalian operasional. Namun, tetap ada unsur-unsur lain yang mesti kita lakukan sebagai solusi permanen," sebutnya.
Menurutnya, BMKG sudah memetakan terkait waktu kapan saja pergerakan bahaya kebakaran hutan termasuk titik-titik mana saja. Sehingga memudahkan upaya untuk melakukan rekayasa dengan teknologi. Sebab, selalu ada parameter yang sensitif terhadap kebakaran pada setiap kondisi curah hujan dan musim kemarau.
Terkait pantauan terhadap kualitas udara dan keseimbangan air di lapangan tepatnya melalui neraca air. Menurut Siti, hakikatnya kondisi neraca air menjadi pedoman dalam melakukan modifikasi cuaca dan membuat gambut basah.
"Karena apa? Karena gambutnya harus basah. Gambut basah itu kan kaitannya dengan neraca air di gambut dan ini berarti ada teknologinya, termasuk pakai satelit serta metode dan cara-cara menghitungnya," terang Menteri Siti.
Selanjutnya langkah modifikasi cuaca tersebut juga ada titik-titik tertentu, di mana enam titik yang menjadi prioritas, yakni kawasan Sumatera, meliputi Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi.
Sedangkan untuk Kalimantan, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Namun kedua provinsi terakhir dalam pemantauan perkembangannya. (Fer/OL-09)
Cuaca panas ekstrem yang melanda Kota Pekanbaru dituding menjadi pemicu utama meningkatnya kerawanan kebakaran di area lahan gambut dan semak belukar.
BMKG deteksi 113 titik panas di Riau per 18 Maret 2026. Bengkalis dan Dumai mendominasi. Simak update pemadaman karhutla oleh tim gabungan BPBD di sini.
KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
REGU pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Manggala Agni terus mengintensifkan upaya pemadaman di sejumlah titik api di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.
LUAS kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau pada periode Januari-Februari 2026 mencapai 4.400 hektare dan 94% di antaranya berada di lahan gambut (4.173,82 ha).
KABUT asap dilaporkan menyelimuti Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, pada Rabu (11/3) pagi.
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nuroqif, di tengah ancaman kepunahan berbagai satwa endemik, penyelamatan keanekaragaman hayati adalah prioritas
Volume besar itu tentunya memperparah tekanan terhadap lahan seluas 142 hektar yang sudah menampung sampah Ibu Kota selama lebih dari tiga dekade.
Dunia saat ini tengah menghadapi tiga ancaman serius yang disebut “Triple Planetary Crisis” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah tekankan komitmen industri jalankan EPR demi kelola sampah plastik. Target 100% pengelolaan tercapai pada 2029 lewat kolaborasi multi-pihak.
KLHK melalui Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menyegel empat perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
‘’Kolaborasi, termasuk dengan kerja sama dengan pihak swasta menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif, bernilai ekonomis dan ramah lingkungan,”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved