Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH terus mengejar target pemeriksaan PCR atau swab test sehingga bertambah menjadi 20 ribu-30 ribu dari yang sebelumnya 10 ribu. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo.
Juru bicara pemerintah dan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan pihaknya lebih fokus dengan penanganan tes masif ketimbang tes massal dalam penanganan wabah virus korona (covid-19).
Baca juga: Masuki New Normal, Mensos: Protokol Kesehatan Harga Mati
"Posisi sekarang 20 ribu lebih, sebenarnya arahan Presiden adalah kita harus melakukan pengetesan secara masif. Ini yang harus kita bedakan, masif dengan massal, beda itu. Masif artinya guidance-nya adalah kontak tracing," kata Yuri di Gedung Graha BNPB, Jakarta Timur, Sabtu, (20/6).
Dia menegaskan tes masif merupakan pelacakan terhadap orang yang melakukan kontak dengan pasien positif covid-19. Menurut dia, proses ini lebih ampuh menghentikan laju penyebaran virus ketimbang memeriksa banyak orang.
"Jadi semua kasus yang dicurigai dari kontak tracing kontak dekat dengan konfirmasi yang sudah dipastikan, harus dilakukan tes dalam rangka untuk mencari dan mengisolasi agar tidak menjadi sumber penularan di komunitasnya. Nah ini masif," sebutnya
Baca juga: Update Pasien Covid-19: Positif, Sembuh, dan Meninggal Bertambah
Oleh karena itu, dapat dipastikan dalam satu orang ada dua spesimen yang harus diperiksa. Tentunya orang itu melakukan kontak langsung dengan pasien sebelum dirawat.
"Karena kan harus kita yakini. Tidak satu spesimen satu orang, ada satu orang dengan dua spesimen. Misalnya diambil nasofaring dan orofaring, berarti kan itu dua spesimennya, tetapi orangnya satu," sebutnya.
Baca juga: Virus Korona Dulunya Bersirkulasi di Hewan
Setelah diperiksa akan dikelompokkan per klaster. Selanjutnya klaster baru akan mudah ditemukan dengan cara seperti ini.
"Nah ini yang kemudian kita laporkan ke WHO. Inilah yang menjadi acuan kontak tracing, dia tertular darimana, dan seterusnya. Kalau kemudian ini adalah kasus lanjutan, kita menunggu kapan dia negatifnya untuk kita rilis kasus yang sembuh," lanjutnya
Adapun massal, lebih bersifat acak. "Kalau massal, berarti siapapun yang datang, random saja kita tes," tambah Yuri.
Baca juga: Forkom KBI Inisiasi Renovasi Rumah Bung Hatta
Sebelumnya, dalam upaya percepatan penanganan Covid-19, Kementerian Kesehatan RI sebagai bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melakukan tracing melalui pemeriksaan spesimen dari tiap-tiap pasien secara masif di seluruh provinsi di Indonesia.
Hasil pemeriksaan spesimen yang diproses melalui laboratorium tes Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Tes Cepat Molekuler (TCM) itu kemudian disebut data primer all record yang masih akan diverifikasi untuk selanjutnya dikelompokkan dan dilaporkan ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu, hasil data pemeriksaan yang telah diverifikasi tersebut sekaligus sebagai titik awal penentuan tracing lebih lanjut.
Adapun spesimen tersebut sebagai contoh adalah pemeriksaan uji sampel nasofaring dan orofaring yang diambil dari satu orang. Artinya ada dua spesimen dari satu orang yang kemudian akan diperiksa melalui laboratorium.
Baca juga: Data Pasien Covid-19 Bocor, Menkominfo Koordinasi dengan BSSN
Kemudian, hasil uji spesimen tersebut akan diverifikasi apakah hal itu merupakan kasus baru atau kasus yang sebelumnya sudah diperiksa, ditindak lanjuti dan berada dalam masa tunggu uji hasil spesimen atau follow up.
Dari verifikasi tersebut, menurut Yuri, kemudian akan diberi nomor registrasi dan dilaporkan ke WHO sekaligus sebagai acuan titik tracing.
"Setelah ketemu orangnya masih harus kita verifikasi, ini kasus baru atau kasus follow up?," jelas Yuri.
"Karena setiap kasus baru yang kita identifikasi maka kewajiban kita adalah harus memberikan nomor registrasi. Ini Covid nomor berapa. Ini yang kemudian kita laporkan ke WHO. Dan inilah nanti jadi acuan titik tracing," imbunya.
Selanjutnya apabila ternyata kasus follow up, maka akan ditunggu kapan negatifnya sehingga kemudian akan dikelompokkan dan dilaporkan sebagai pasien sembuh covid-19. (X-15)
Ia menegaskan, terdapat tiga virus pernapasan utama yang idealnya terus dipantau, yakni COVID-19, influenza, dan Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Vaksin penguat atau booster Covid-19 masih diperlukan karena virus dapat bertahan selama 50-100 tahun dalam tubuh hewan.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mencatatkan jumlah kasus covid-19 secara global mengalami peningkatan 52% dari periode 20 November hingga 17 Desember 2023.
PJ Bupati Majalengka Dedi Supandi meminta masyarakat untuk mewaspadai penyebaran Covid-19. Pengetatan protokol kesehatan (prokes) menjadi keharusan.
PEMERINTAH Palu, Sulawesi Tengah, mengimbau warga tetap waspada dan selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan menyusul dua kasus positif covid-19 ditemukan di kota itu.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan jenis virus covid-19 varian JN.1 sebagai VOI atau 'varian yang menarik'.
Ia menegaskan, terdapat tiga virus pernapasan utama yang idealnya terus dipantau, yakni COVID-19, influenza, dan Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Objektif harus diakui bahwa sekolah daring adalah proses pembelajaran yang menyebabkan lahir generasi covid-19
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved