Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
RENCANA pemerintah untuk melakukan tes massal atau rapid test dalam penanganan virus korona Covid-19 di Indonesia dinilai Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Hermawan Saputra, akan efektif dalam mempercepat penemuan kasus dan segera ditangani agar tidak menyebar.
"Rapid test ini efektif untuk memperluas cakupan pemeriksaan walaupun tingkat akurasinya tidak seperti PCR. Buat saya setuju kalau memang dilakukan rapid tes besar-besaran walaupun tingkat akurasinya kurang," kata Hermawan saat dihubungi, Kamis (19/3).
Namun, tegasnya, pemerintah juga harus menyortir orang yang hendak melakukan rapid test. Pasalnya, ditakutkan nantinya orang yang bahkan tidak memiliki gejala maupun riwayat kontak akan melakukan tes tersebut dengan alasan paranoid.
"Sasarannya harus ODP {orang dalam pemantauan) dan masyarakat yang berpotensi. Tapi ya jangan jika encok atau asam urat ya jangan juga. Berpotensi untuk simtom yang umum dan mengarah Covid-19, dan kalau dia pernah terpapar atau pernah berinteraksi dengan orang dalam pengawasan atau sudah terkonfirmasi. Jadi orang yang berisiko, lah," bebernya.
Baca juga : Agar Rapid Test Berjalan Efektif, Pemerintah Harus Jemput Bola
Mengenai cara pemeriksaan, Hermawan menilai rapid test semestinya dapat dilakukan di RS rujukan. Selain itu, bisa juga dilakukan metode jemput bola dengan menghadirkan fasilitas rapid test di wilayah yang berpotensi tinggi penyebaran Covid-19.
Dirinya juga menilai, 500 ribu alat yang diimpor dari Tiongkok akan mencukupi untuk melakukan rapid test tahap awal ini.
"Kita akan liat gerak cepat pemerintak apakah membutuhkan tambahan lagi ke depannya. Rapid ini sebetulnya tidak susah-susah amat alatnya. Kalau harus sampe ke Tiongkok ya itu keputusan pemerintahlah. Mestinya ke depan kita juga mampu produksi itu," tuturnya. (OL-7)
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved