Minggu 22 September 2019, 10:48 WIB

Ini Penjelasan BMKG Soal Langit Merah di Muaro Jambi

Putri Anisa Yuliani | Humaniora
Ini Penjelasan BMKG Soal Langit Merah di Muaro Jambi

MI/Solmi
KOta Jambi diselimuti asap tebal

 

RAMAI dibicarakan di media sosial terkait fenomena warna langit di Muaro Jambi yang berubah menjadi warna merah.Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memiliki penjelasan ilmiah terkait hal tersebut.

Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto menyebut langit merah di Muaro Jambi terjadi akibat tingginya kadar polutan di wilayah tersebut.

Hasil analisis citra satelit Himawari-8 pada 21 September di sekitar Muaro Jambi, tampak terdapat banyak titik panas dan sebaran asap yang sangat tebal.

"Asap dari kebakaran hutan dan lahan ini berbeda dari daerah lain yang juga mengalami kebakaran, wilayah lain pada satelit tampak berwarna cokelat namun di Muaro Jambi menunjukkan warna putih yang mengindikasikan bahwa lapisan asap yang sangat tebal," jelas Siswanto dalam keterangan tertulisnya, Minggu (22/9).

Hal ini dimungkinkan karena kebakaran hutan/lahan yang terjadi di wilayah tersebut, terutama pada lahan-lahan gambut.

Baca juga : Kepala Daerah se-Provinsi Jambi Berupaya Atasi Karhutla

Tebalnya asap juga didukung oleh tingginya konsentrasi debu partikulat polutan berukuran kurang dari 10 mikron (PM10).

"Tengah malam di Jambi, pengukuran konsentrasi PM10 didapati banyaknya volume polutan di udara yakni 373,9 ug/m3, menunjukkan kondisi tidak sehat," ujarnya.

Di Pekanbaru kondisinya lebih parah yaitu konsentrasi debu polutan PM10 kategori berbahaya dengan banyaknya polutan mencapai 406,4 ug/m3.

Jika ditinjau dari teori fisika atmosfer pada panjang gelombang sinar tampak, langit berwarna merah ini disebabkan oleh adanya hamburan sinar matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol), dikenal dengan istilah hamburan mie (Mie Scattering).

Mie scattering terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak (visible) matahari.

Panjang gelombang sinar merah berada pada ukuran 0,7 mikrometer.

"Kita mengetahui bahwa konsentrasi debu partikulat polutan berukuran kurang dari 10 mikrometer sangat tinggi di sekitar Jambi, Palembang, dan Pekanbaru. Tetapi langit yang berubah merah terjadi di Muaro Jambi. Ini berarti debu polutan di daerah tersebut didominasi berukuran sekitar 0,7 mikrometer atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi. Selain konsentrasi tinggi, tentunya sebaran partikel polutan ini juga luas untuk dapat membuat langit berwarna merah," tandasnya.

Langit yang berubah warna ini bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Pada 2015, di Palangkaraya juga pernah diberitakan beberapa kali mengalami langit berwarna oranye akibat kebakaran hutan dan lahan, yang berarti ukuran debu partikel polutan (aerosol) saat itu dominan lebih kecil atau lebih halus (fine particle) daripada fenomena langit memerah di Muaro Jambi kali ini.(OL-7)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Novrian Arbi

Warga Jatiasih Kumpulkan Donasi Rp272 Juta untuk Korban Gempa Cianjur

👤Rudi Kurniawansyah 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 10:41 WIB
Donasi itu bagian dari target bantuan sebesar Rp2 miliar yang tengah dihimpun Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi hingga 12 Desember...
dok.kemendes

Peringati HBT ke-72, Gus Halim Serahkan Sejumlah Penghargaan dan Bantuan

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 10:22 WIB
MENDES PDTT, Abdul Halim Iskandar menyerahkan sejumlah penghargaan dan bantuan dalam rangka memperingati Hari Bhakti Transmigrasi (HBT)...
Ist

Kegiatan Penganugerahan Ikon Prestasi Pancasila Tahun 2022 Digelar Malam Ini

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 09:38 WIB
Para peraih Ikon Prestasi Pancasila juga diharapkan dapat menjadi mitra strategis bagi BPIP dalam setiap upaya pembumian nilai-nilai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya