Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius, mengingatkan badan usaha milik negara (BUMN) untuk menjaga karyawannya dari pengaruh radikalisme.
Kepala BNPT menilai perusahaan terutama BUMN saat ini cenderung lengah dalam mengelola sumber daya manusia (SDM) yang mereka miliki sehingga banyak pegawai BUMN yang terpapar paham radikal yang kemudian mulai menguasai rumah-rumah ibadah yang ada dalam perusahaan tersebut.
"Kita lihat, tempat ibadah di kementerian dan lembaga, ada juga perguruan tinggi banyak yang disusupi. Mengapa? Karena SDM-nya lengah, underestimate, sehingga dimaanfaatkan, sudah berkelompok mereka, jadi tolong SDM amati betul," kata Suhardi di Jakarta, Rabu (21/8).
Tampil sebagai pembicara di hadapan pejabat direksi, eksekutif, dan pejabat daerah PT Bank Syariah Mandiri dalam acara Mandiri Syariah Culture Summit 2019 di Kantor Pusat Bank Syariah Mandiri, Jakarta, Kepala BNPT memberikan pemahaman terkait resonansi kebangsaan dan bahaya radikalisme.
Ia berharap para pejabat dan eksekutif BUMN memiliki pengetahuan tentang paham radikal dan menularkan pengetahuannya itu kepada manajemen di daerah sehingga mereka bisa terlindungi dari penyebaran paham radikal dan ikut serta dalam upaya menangkal penyebarannya.
Baca juga: Rektor Asing tak Perlu Perlakuan Khusus
"Para pimpinan bertanggung jawab menyampaikan, menularkan informasi yang telah diterima, dan paling penting bagaimana tahapan-tahapan masuknya paham radikal itu bisa diidentifikasi oleh pegawai," ujar mantan Kabareskrim Polri ini.
Dengan kemampuan mengidentifikasi itu, lanjut Kepala BNPT, para pegawai diharapkan bisa melakukan langkah-langkah pencegahan dengan memberikan pencerahan sehingga nantinya isu dan paham seperti itu bisa dieliminasi, direduksi, dan dihilangkan.
Sebelumnya, Selasa (20/8), Kepala BNPT juga tampil menjadi pembicara pada seminar bertajuk 'Nationalism and Radicalism in The Borderless Era' yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan di Gedung Kemenkeu, Jakarta.
Pada kesempatan itu, Kepala BNPT mengajak generasi muda, terutama yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), memahami peta dan gerakan kelompok radikal di Indonesia agar mereka tidak terpengaruh oleh paham yang disebarkan oleh kelompok tersebut. (OL-1)
BNPT mencatat 230 donatur aktif mendukung kelompok teroris dari 2023-2025, dengan pendanaan mencapai Rp5 miliar.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan ancaman terorisme di Indonesia, pada kurun 2023 hingga 2025, konsisten dan adaptif.
REMAJA dan anak-anak sekarang dinilai lebih rentan terhadap paparan paham radikal di ruang digital. Kondisi ini dinilai berbahaya karena kelompok usia tersebut dalam fase pencarian jati diri.
BNPT mengungkapkan ada 27 rencana serangan terorisme yang berhasil dicegah dalam tiga tahun terakhir, dengan ratusan pelaku terafiliasi ISIS ditangkap.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
KEPALA BNPT Eddy Hartono menyoroti secara mendalam fenomena memetic radicalization yang kini menjadi ancaman nyata bagi generasi muda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved