Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Kesehatan mengimbau masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mengurangi aktivitas luar ruangan. Itu guna menimimalisasi paparan kabut asap dari karhutla yang dapat mengganggu kesehatan terutama kelompok rentan.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Imran Agus Nurali mengatakan dampak buruk kabut asap karhutla antara lain iritasi mata. Hal itu dapat dialami siapapun bukan hanya kelompok rentan saja.
Sedangkan efek kabut asap bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, balita dan lansia yang mempunyai daya tahan tubuh lebih rendah jika dibandingkan dengan orang dewasa antara lain Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
"Individu yang mempunyai riwayat asma, juga mudah terpicu penyakitnya. Jadi kambuh," terang Imran ketika dihubungi, Jumat (9/8).
Baca juga: Warga Riau Tuntut Kompensasi Dampak Asap Karhutla
Imran menuturkan sejauh ini belum ada studi tentang dampak paparan kabut asap pada bayi dalam kandungan. Pasalnya, apabila ibu hamil terpapar asap terus-menerus, suplai oksigen untuk bayi dalam kandungan ikut terganggu. Karenanya, diperlukan studi yang lebih mendalam tentang hal tersebut.
"Harus ada studi yang sifatnya menggali masa lalu dan penelitian itu, umumnya mahal dokumentasinya," ucapnya.
Pemakaian masker dianggap dapat meminimalkan dampak kabut asap terhadap gangguan pernafasan. Tetapi masker yang digunakan, terang Imran, bukan masker yang biasa dipakai tenaga medis saat di ruang operasi. Masker yang dibutuhkan untuk menyaring partikel polutan yang lebih kecil. Oleh karena itu, membatasi aktivitas di luar ruangan saat terjadi kabut asap dianggap paling efektif meminimalkan risiko.
"Tidak dianjurkan untuk keluar rumah terutama saat jam-jam sibuk kendaraan membuat polusi semakin berat," tuturnya.
Pemerintah daerah, tutur Imran, telah diberikan panduan jika bencana kabut asap semakin memburuk. Hal-hal yang perlu disiapkan antara lain rumah singgah atau shelter agar masyarakat tetap bisa beraktivitas.
Rumah singgah bisa berlokasi di balai warga ataupun dekat sekolah. Selain itu, ada prosedur yang harus dilakukan agar polutan dari luar tidak masuk ke dalam ruangan yakni dengan menutup jendela, menyediakan penjernih udara (air purifier) dan kebutuhan-kebutuhan seperti bahan makanan sehingga masyarakat tidak perlu keluar rumah atau tempat singgah.
Ia berharap masyarakat, perusahaan atau industri, tidak membuka lahan dengan membakar, terutama di lahan gambut yang rawan terbakar saat musim kemarau. Adanya titik panas (hotspot) dan arah angin mengakibatkan karhutla kian meluas. Masyarakat lah yang merasakan dampaknya.(OL-5)
KEPALA Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman mengatakan tren mingguan kasus campak pada Maret 2026 mengalami penurunan.
WAKIL Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengimbau masyarakat untuk tetap mengatur makanan di masa lebaran agar tetap sehat.
Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa sampai dengan minggu kesembilan 2026, kasus campak di Indonesia telah turun menjadi 511 kasus dari sebelumnya 531 kasus.
Pemerintah mempercepat pelaksanaan imunisasi campak-rubella (MR) di berbagai daerah menjelang periode mudik dan libur Lebaran.
Antisipasi lonjakan kasus, Kemenkes siapkan layanan vaksinĀ campak (vaksin MR) di posko mudik Lebaran 2026, terutama di bandara dan pelabuhan. Cek detailnya!
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan campak menjelang periode mudik dan libur Lebaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved