Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 1.138 alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat surat terbuka KEPADA Rektor ITB yang intinya mendesak Rektor mengumumkan bahwa kampus tegas menolak penyebaran gerakan radikalisme.
Para alumni mengaku prihatin dengan adanya temuan bahwa ITB menempati posisi teratas PTN di Indonesia yang terpapar paham radikalisme baik komunitas mahasiswa, pegawai, maupun dosen.
Melalui surat terbuka seperri yang diunggah salah seorang alumni ITB Fadjroel Rahman di akun Twitter @fadjroel, para alumni ITB meminta Rektor ITB memenuhi harapan mereka sebagai berikut:
1. Segera mengumumkan secara luas bahwa Kampus ITB menolak segala bentuk dan tahapan penyebaran gerakan paham radikalisme
2. Melakukan tindakan nyata secara struktural dalam program dan organisasi untuk membersihkan dan membubarkan secara sistematis semua pelaku, pejabat, dan lembaga yang terlibat dalam atau memfasilitasi radikalisme di Kampus ITB
3. Merespons secara terbuka semua hasil studi, hasil investigasi, pertanyaan orang tua mahasiswa, masukan dan kritik publik, dan liputan media terkait keterlibatan Kampus ITB dalam gerakan radikalisme
Baca juga: Tolak Radikalisme di Kampus ITB
Berikut isi lengkap surat terbuka tersebut:
Surat Terbuka Kepada Rektor Institut Teknologi Bandung
Saudara Rektor ITB yang terhormat,
Salam Ganesha!
Kami alumni ITB lintas Angkatan dan Jurusan, penerus bangsa yang setia pada Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, bersama ini menyampaikan keprihatinan kami sehubungan dengan adanya sinyalemen dan pernyataan berbagai lembaga kredibel & kompeten tentang sejumlah Perguruan Tinggi Negeri yang terpapar parah paham radikalisme, baik komunitas mahasiswa, pegawai, maupun dosen, dimana ITB berada pada urutan teratas.
Pernyataan berbagai lembaga kredibel seperti BNPT, BIN, Setara Institute, dan lain-lain; serta Pidato Presiden terpilih Joko Widodo di Sentul tanggal 14 Juli 2019 merupakan peringatan yang perlu ditanggapi oleh pimpinan ITB serta seluruh civitas academica secara serius, termasuk oleh alumni ITB, demi masa depan bangsa dan NKRI yang kita cintai. Hal ini tampaknya terjadi karena adanya penyebaran paham radikalisme secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) yang sudah berlangsung lama di Kampus Ganesha - terutama setelah Reformasi 1998 - yang nyata-nyata berusaha mengubah Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Paham radikalisme tersebut tampaknya telah masuk ke Kampus ITB melalui kegiatan akademis maupun non akademis yang tersedia di kampus sebagai fasilitas resmi kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi.
Rektor sebagai penanggungjawab utama institusi mungkin saja secara sadar dan tidak sadar, secara langsung dan tidak langsung, dan dengan abai telah menyelundupkan, melindungi, memfasilitasi, membina, mempromosikan, memperjuangkan, dan membela mereka yang telah aktif dalam gerakan radikalisme secara terbuka, terselubung maupun illegal. Kami dapat memaklumi bahwa isu keagamaan merupakan hal yang sensitif, tidak mudah dihadapi dan menimbulkan kegamangan bagi pimpinan institusi untuk menjalankan amanahnya dan menggunakan kewenangannya untuk melestarikan ideologi negara.
Walaupun demikian, apapun juga tantangan yang dihadapi, Rektor selaku pimpinan tertinggi haruslah mampu menunjukkan determinasi, tekad dan keberanian untuk mendukung program pemerintah dalam penangkalan radikalisme dan mempertahankan Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI, sebagai tanggung jawab atas amanah yang diberikan bangsa dan negara sebagaimana yang dilakukan lembaga negara lainnya.
Dilandasi kesadaran dan kecintaan kami kepada Almamater ITB, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan NKRI, kami para Alumni ITB yang menandatangani surat ini mengharapkan agar Saudara Rektor:
1. Segera mengumumkan secara luas bahwa Kampus ITB menolak segala bentuk dan tahapan penyebaran gerakan paham radikalisme.
2. Melakukan tindakan nyata secara struktural dalam program dan organisasi untuk membersihkan dan membubarkan secara sistematis semua pelaku, pejabat, dan lembaga yang terlibat dalam atau memfasilitasi radikalisme di Kampus ITB.
3. Merespons secara terbuka semua hasil studi, hasil investigasi, pertanyaan orang tua mahasiswa, masukan dan kritik publik, dan liputan media terkait keterlibatan Kampus ITB dalam gerakan radikalisme.
Kami para Alumni ITB lintas Angkatan dan Jurusan berharap semoga Kampus ITB tercinta tetap dipercaya oleh bangsa dan negara untuk menghasilkan akademisi dan intelektual pembangun bangsa yang wajib mempertahankan Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, agar ITB yang juga telah melahirkan the founding fathers NKRI tidak sampai juga melahirkan para pengkhianat perusak ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kami akan tetap setia mendukung kebijakan Pimpinan ITB sepanjang diarahkan untuk mempertahankan ideologi dan konstitusi demi kelangsungan bangsa, Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.
Terimakasih.
Bandung, 3 Agustus 2019 (OL-2)
Kegagalan di masyarakat jauh lebih fatal dibanding kegagalan akademik.
Presiden Prabowo Subianto mengundang perguruan tinggi terkemuka Inggris untuk menjalin kerja sama dalam pendirian 10 universitas baru di Indonesia.
Mitigasi lewat pendekatan sosial kemasyarakatan ini bisa menjadi contoh sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun ketangguhan desa menghadapi bencana.
Penguatan kompetensi dan sistem perlindungan bagi mahasiswa yang melakukan kegiatan kerja di luar negeri harus terus ditingkatkan.
Peserta juga diajak mengeksplorasi cara memanfaatkan kertas daur ulang sebagai media artistik seperti ilustrasi, kartu ucapan, kemasan kreatif, dan karya dekoratif.
Kunjungan akademik ini menjadi langkah strategis Universitas LIA dalam memperkuat jejaring internasional dan memberikan pengalaman global bagi sivitas akademika.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved