Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
INSTITUT Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, Jawa Tengah, melancarkan lima jurus dalam menangkal tumbuh suburnya paham radikal di lingkungan kampus. Hasilnya sangat baik ditandai dengan tidak ada lagi kegiatan yang mencurigakan selama tiga tahun terakhir.
Karena itu pula, Rektor IAIN Surakarta Mudofir mengaku bingung saat kampus yang dipimpinnya itu termasuk dalam delapan perguruan tinggi negeri (PTN) yang menjadi basis kubu Islam eksklusif transnasional di Indonesia. Lembaga dakwah kampus (LDK) ditengarai menjadi pintu masuk berkembangnya paham radikal.
Temuan itu disebut sebagai hasil riset lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat beberapa kampus, antara lain Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) dan Universitas Sebelas Maret (UNS).
"Jika memang itu ada, IAIN Surakarta sudah lama mentransformasi LDK menjadi unit kegiatan mahasiswa Islam (UKMI). Perubahan ini untuk mengantisipasi LDK dijadikan tempat brainwash (pencucian otak) oleh 'pihak luar'," sahutnya, kemarin.
Selain mengubah nomenklatur, IAIN Surakarta melalui wakil rektor III dan pembina juga memperketat pengawasan kegiatan kemahasiswaan, termasuk UKMI. Mereka juga mengganti marbut masjid kampus.
Antisipasi lainnya ialah melalui kurikulum dan melakukan penelusuran rekam jejak dalam penerimaan dosen dan pegawai sehingga diharapkan aman dari dosen-dosen radikal, baik kanan maupun kiri. Mudofir melihat cara itu cukup efektif.
"Perlu kajian mendalam dari internal kampus untuk merespons hasil penelitian (LPPM Unusia dan UNS) itu."
Sebelumnya, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi telah merilis Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018. Beleid itu diterbitkan untuk menghalau berkembangnya intoleransi dan radikalisme di lingkungan kampus. Aturan itu mensyaratkan, UKM yang mengawal ideologi bangsa harus berkolaborasi dengan pihak kampus. (FR/H-3
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gimĀ online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved