Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
GENERASI milenial menjadi generasi terbaik yang tumbuh dengan kondisi bangsa yang sehat setelah era reformasi. Mereka memperoleh kualitas pendidikan dan lingkungan politik yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
Alhasil, generasi tersebut bukan minoritas dan masuk ke berbagai sektor serta tidak mewarisi konflik masa lalu. Mereka lebih berani membuka ruang pengabdian baru dan mendorong perubahan.
"Mereka tidak mengalami represi oleh rezim otoriter sehingga cenderung lebih optimistis melihat politik," ujar pendiri aktivis milenial, Arif Rosyid, dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional bertajuk Milenial Melangkah Maju, di Jakarta, kemarin.
Karena itu, Arif menyerukan persatuan dan kolaborasi lintas kelompok. Dia juga menekankan, perhelatan demokrasi bertujuan memperkuat simpul kebangsaan.
"Kami ingin meminjam istilah Boedi Oetomo. Kami ingin segera move on, melangkah maju dari pembelahan politik yang terlalu tajam. Jika belum bisa dari atas, kami mendorong persatuan dari bawah," tuturnya.
Saat ini lebih dari separuh generasi milenial tinggal di perkotaan. Mereka memiliki akses luas terhadap lingkungan pendidikan, kesehatan, teknologi informasi, dan internet. Mereka juga punya kepercayaan diri untuk sejajar dengan negara lain, terutama mengembangkan potensi ekonomi digital dan industri kreatif.
"Satu dari tiga penduduk kita saat ini tergolong generasi milenial. Artinya, mereka bukan lagi minoritas," ucapnya.
Selama ini, lanjutnya, pemerintah sudah banyak berbenah, khususnya memperlakukan milenial sebagai aset dan kekuatan. Paradigma generasi milenial, yaitu segala tantangan akan membawa pada kebijakan pemecahan masalah yang bersifat jangka pendek.
"Sebaliknya sebagai aset dan kekuatan masa depan, mereka akan membawa model kebijakan yang positif dan bersifat jangka panjang," tukasnya.
Semangat membangun
Di sisi lain, Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar yang juga tokoh kebangsaan, Akbar Tandjung, meminta pemuda untuk tetap mengobarkan semangat membangun dan pergerakan dalam menjalankan kehidupan berbangsa. Dalam perjalanan perubahan sekaligus arah bangsa, pemuda harus berperan aktif sehingga mengetahui dan menjadi generasi penerus bangsa serta pemimpin dengan kedewasaan demokrasi yang baik.
"Generasi muda merupakan potensi dan aset nasional dan pada Hari Kebangkitan Nasional merupakan awal dari pergerakan kebangsaaan dan dilanjutkan dengan momentum penting bangsa ini," ungkapnya.
Dalam pidato memeringati Hari Kebangkitan Nasional, di Jakarta, kemarin, aktivis 1966 itu menuturkan peran pemuda dalam membangun bangsa ini sangat besar hingga terjadi sumpah pemuda yang menjadi nilai kesatuan pemuda Indonesia.
"Di situ kita mengikrarkan sebagai satu bangsa dalam sumpah pemuda. Sejak awal bangsa ini diperjuangkan para tokoh muda, termasuk presiden pertama kita, Sukarno, yang saat itu berusia 44 tahun sudah menjadi presiden dan pemuda," ungkapnya.
Akbar juga membagikan kisah mudanya dalam dunia pergerakan memajukan negara. Momentum kebangkitan nasional harus terus menjadi sumber semangat pemuda untuk terus berjuang sebagai penerus kepemimpinan nasional.
"Jadi pemuda harus bisa membaca tren perubahan yang akan terjadi. Sekarang sudah dilihat milenial industri 4.0 dan pemuda harus mampu melihat arah perubahan itu," imbuhnya.
Pentingnya pemuda mengambil bagian dari setiap perubahan juga untuk menghindari gagap budaya dan mempersiapkan diri dengan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi. "Perubahan menjadi garis lurus berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Hadapi perubahan dengan optimisme," tegasnya.
Terkait dengan pemilu yang baru saja usai, Akbar memandang hal tersebut menjadi momentum pemuda untuk mematangkan demokrasi yang menjadi sikap bangsa. "Demokrasi yang diterapkan bangsa kita menjadi sistem yang terbaik diterapkan dan pemuda harus meningkatkan kualitas demokrasi terbaik dan melahirkan pemimpin yang terbaik. Konstitusi kita jelas. Institusi kelembagaan negara haru ditaati," tandasnya. (S-4)
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak memangkas anggaran pendidikan sebagaimana narasi yang beredar di publik.
Teddy menjelaskan bahwa program MBG justru dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak dini, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA.
Kepala BPIP Yudian Wahyudi menegaskan bahwa pendidikan Pancasila harus menjadi arus utama dalam pembentukan karakter generasi muda
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, meminta publik untuk bersikap jernih dan jujur dalam membaca struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
EMPAT alumni telah mengembalikan dana sebesar Rp1 hingga Rp2 miliar karena terbukti dijatuhi sanksi akibat tak menjalankan kewajiban mereka. Hal itu disampaikan Direktur Utama LPDP
BELAKANGAN ini, ruang media sosial diramaikan perbincangan mengenai istilah 'bahasa ibu' yang memantik refleksi publik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved