Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Mahasiswa Mesti Siap Mental Lakoni Bisnis Rintisan

Syarief Oebaidillah
08/4/2019 18:15
Mahasiswa Mesti Siap Mental Lakoni Bisnis Rintisan
Kurnadi Gularso usai sidang promosi doktor di Universitas Nusantara di Jakarta, Senin.( (ANTARA/Indriani))

PEMULA bisnis rintisan atau startup, khususnya, di kalangan mahasiswa mesti memiliki kesiapan mental serta mempunyai jiwa kepemimpinan (leadership) sehingga akan dapat mampu bertahan di dunia bisnis yang penuh gejolak.

"Banyak startup kita yang tidak bertahan lama, karena tidak memiliki leadership serta tidak berorientasi pelayanan atau customer service. Selain itu, mereka harus berani mengambil risiko tinggi dan punya kemampuan rekonfigurasi sumber daya serta terus menerus memperbarui. Di sini startup kalangan mahasiswa juga harus siap mental," kata Kurnadi Gularso di Universitas Bina Nusantara Jakarta, Senin (8/4), usai kelulusan Sidang Promosi Doktor Ilmu Manajemen dengan disertasi 'Peran Inovasi Model Bisnis yang Disruptif dalam Mencapai Keunggulan Transien dengan Moderasi Ikatan Komunitas, Studi pada Usaha Rintisan Digital di Indonesia'.

Menurut Kurnadi, selain menyiapkan mental yang positif, mahasiwa juga harus terus mencari critical thinking atau berpikir kritis serta mencari peluang baru. Dalam kaitan ini, hemat dia, pemerintah diimbau untuk turut mendukung dengan membangun ekosistem bagi pemula rintisan usaha ini.

Menurutnya,dengan telah ditetapkannya startup masuk dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) untuk bisnis yang berorientasi laba, maka diharapkan instansi terkait mewajibkan pendataan baik pendaftaran baru startup maupun statusnya secara periodik.

"Pemerintah perlu membangun ekosistem yang mendukung tumbuh berkembangnya startup antara lain: pelaku bisnis, pendanaan kebijakan dan regulasi, pembinaan dan fasilitas yang mendukung dengan infrastruktur," imbuhnya.

Dia mengingatkan saat ini fenomena bisnis yang ada diiringi dengan disrupsi bisnis dan lingkungan bisnis bersifat VUCA (volatile atau bergejolak, uncertain atau tidak menentu, complex atau rumit, dan ambiguous atau tidak jelas), disertai tingkat kegagalan bisnis digital startup yang relatif tinggi hingga mencapai 90%.


Baca juga: Revitalisasi Asrama Haji Banjarmasin Sesuai Besaran Anggaran


Dalam menghadapi lingkungan bisnis yang bersifat VUCA itu, digital startup Indonesia – selanjutnya disebut startup harus menerapkan paradigma baru dalam bisnis yaitu berhenti memakai strategi sustainable competitive advantage atau keunggulan bersaing yang berkelanjutan dengan beralih ke strategi rangkaian transient advantages atau keunggulan yang bersifat sementara sehingga bisnisnya dapat bertahan hidup dan bahkan secara kontinu tumbuh dengan signifikan.

"Studi ini menyarankan bahwa kalangan startup perlu menerapkan disruptive business model innovation atau DBMI atau inovasi model bisinis yang bersifat disruptif untuk mencapai keunggulan sementara," tukasnya.

Dia melanjutkan dalam rangka implementasi DBMI itu, kalangan startup memerlukan prasyarat yang harus dimilikinya yaitu memiliki critical thinking dan entrepreneurial mindset atau pola pikir wirausaha dengan selalu mencari dan menciptakan peluang baru.

Selain itu juga fokus pada pengguna untuk pelayanan dengan mengelola stakeholder (pemangku kepentingan) terpilih yang terkait dengan tujuan startups; serta organisasi harus memiliki dan selalu meningkatkan kapabilitas merekonfigurasi ulang secara kontinu sumber dayanya baik sumber daya internal yang dimiliki sendiri maupun sumber daya eksternal melalui kolaborasi. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya