Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
FILM tentang urban legend yang terkenal dan melekat di masyarakat Kalimantan, Kuyank, akan menghiasi layar bioskop tanah air pada awal tahun depan. Film ini pertama kali diputat pada gelaran Jogja Asian Film Festival 2025, Sabtu (6/12).
Sang sutradara film Kuyank, Johansyah Jumberan menceritakan, cerita film berdurasi 98 Menit tersebut mengisahkan tentang ilmu kuyank yang ada di masyarakat. "Film ini tak hanya menyajikan teror, tetapi juga menghadirkan pendekatan budaya yang kuat melalui riset mendalam," ungkap dia.
Di balik terpaan teror, Kuyank menyimpan cerita emosional tentang perjuangan seorang perempuan mempertahankan keutuhan rumah tangganya di tengah tekanan adat, budaya, keluarga, serta ancaman gaib yang menguji batas ketakutannya.
Perpaduan antara horor, drama, dan budaya inilah yang membuat Kuyank hadir sebagai pengalaman sinema yang lebih kaya, bukan sekadar tontonan horor.
Johansyah menambahkan, Kuyank diproduksi dengan skala yang besar, terutama pada pengerjaan visual dan efek gaib. Efek CGI film ini digarap oleh LMN Studio, salah satu studio VFX terbaik di Indonesia yang telah menangani berbagai film besar nasional maupun internasional.
"Sentuhan visual tersebut diharapkan dapat menghadirkan sosok kuyang yang lebih nyata, mencekam, dan berkualitas tinggi, sekaligus mengangkat standar film horor lokal ke level yang lebih premium," ujar dia.
Proses shooting Kuyank dilakukan 100% di berbagai lokasi di Kalimantan. Selain itu, dialog dalam film ini 50% menggunakan Bahasa Banjar, bahasa daerah yang banyak digunakan masyarakat Kalimantan.
Johansyah mengatakan, keterlibatan talenta lokal Kalimantan juga menjadi kekuatan film ini, mulai dari para aktor hingga kreator lokal. "Musisi Jeff Banjar kembali menciptakan soundtrack dalam Bahasa Banjar setelah lagunya di Saranjana viral secara nasional," ungkap sutradara asal Kalimantan Selatan ini.
Film Kuyank juga didukung para aktris ternama, antara lain Rio Dewanto, Barry Prima, Jollene Marie, Ochi Rosdiana, Dayu Wijanto, Ananda George, hingga Hazman Al Idrus.
Pemutaran Kuyank di JAFF ke-20 menjadi penanda langkah penting bagi film ini sebagai karya yang mengangkat kekayaan budaya Kalimantan ke panggung internasional. Setelah penayangan perdananya di JAFF, film Kuyank akan dirilis secara nasional mulai 29 Januari 2026 di seluruh bioskop Indonesia.
Film ini menjadi salah satu yang paling dinantikan setelah kesuksesan besar Semesta Saranjana: Kota Gaib yang meraih 1,2 juta penonton di Indonesia
Kuyank mengisahkan cinta terlarang yang perlahan berubah menjadi kengerian. Cerita cinta itu terjalin antara Rusmiati, gadis kampung sederhana, dan Badri, lelaki terpandang.
Keduanya nekat menikah meski ramalan menyebut pernikahan mereka akan membawa kesialan. Rumah tangga yang awalnya bahagia mulai goyah ketika mereka tak kunjung dikaruniai anak.
Tekanan semakin memuncak ketika ibu mertua yang sejak awal menolak Rusmiati mendesak Badri untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan agar dapat mematahkan ramalan buruk itu.
Terhimpit rasa takut kehilangan suami dan martabatnya, Rusmiati mengambil jalan gelap: mempelajari ajian Kuyan, ilmu hitam kuno yang diyakini memberi kecantikan dan keabadian. Namun keputusan itu justru memicu rangkaian teror, bayi dan perempuan hamil menjadi korban misterius.
Saat jati diri Rusmiati terbongkar, kemarahan warga tak terbendung. Di tengah ancaman amuk massa dan lenyapnya batas antara cinta dan kutukan, Badri dihadapkan pada pilihan paling pahit: melindungi perempuan yang ia cintai, atau menyerah pada tekanan masyarakat.
Mampukah cinta mereka bertahan ketika kegelapan mulai merenggut segalanya? (H-2)
Sepanjang 2025 sempat muncul kekhawatiran minat penonton akan menurun terutama karena persaingan padat dan jadwal terbatas.
Film horor Penunggu Rumah: Buto Ijo resmi tayang di bioskop mulai hari ini, Kamis (15/1). Di tengah maraknya film horor Indonesia dengan adegan ekstrem.
Danur merupakan langkah awal Prilly Latuconsina bertransformasi dari aktris di industri sinetron ke film, berawal dari Danur pula, kini Prilly telah banyak mendapat kepercayaan di dunia film.
Kostum Buto Ijo dibuat seluruh badan (full body) dan dilapisi prostetik di hampir seluruh tubuh sang aktor.
Film horor Sinners karya Ryan Coogler menorehkan sejarah dengan memenangkan Cinematic and Box Office Achievement di Golden Globe Awards ke-83.
Produser dan penulis naskah suka membuat film dari creature-creature atau demit-demit Indonesia yang belum pernah diadaptasi ke film, seperti tuyul, lampir, dan kini buto ijo
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved