Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Film Na Willa, adaptasi dari karya sastra Reda Gaudiamo dan diproduksi oleh Visinema Studios, mencoba menangkap kembali kehangatan dan kejujuran masa kecil. Bukan lewat cerita yang berlebihan, tetapi melalui pandangan yang jernih dan polos.
Ceritanya dilihat dari mata seorang anak berusia lima tahun bernama Willa, yang mencoba memahami dunia orang dewasa dengan caranya sendiri, penuh imajinasi, pertanyaan, dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.
Chief Content Officer Visinema Studios sekaligus produser film, Anggia Kharisma, menyebut Na Willa sebagai ruang untuk kembali mengenali siapa diri kita sebenarnya.
“Apa yang pernah kita baca, apa yang pernah kita sentuh, rasa-rasa yang membuat kita jadi anak itu semuanya membebaskan,” ujar Anggia dalam konferensi pers di Cikini 82, Rabu (12/11).
Anggia mengatakan bahwa saat masih kecil, manusia bisa berbicara dengan siapa saja tanpa rasa takut dihakimi. Menurutnya, anak-anak memiliki keberanian alami, dan dari situlah cahaya mereka tetap bersinar.
Bagi Anggia, Na Willa juga mengingatkan pentingnya mempertahankan rasa ingin tahu. Ia menyebut kemampuan bertanya dan mencari makna sering kali memudar saat kita dewasa.
“Bahkan the magic wisdom-nya adalah you ask and you shall receive,” tambahnya.
Film ini mempertemukan kembali trio kreatif di balik Jumbo, yaitu Ryan Adriandhy, Anggia Kharisma, dan Novia Puspa Sari. Namun kali ini mereka menempuh jalur yang berbeda. Jika Jumbo bermain di ranah animasi dan fantasi, Na Willa justru lewat pendekatan live action yang intim dan realistis.
Sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, Ryan Adriandhy melihat Na Willa sebagai bentuk memori pada masa kecil, masa yang baginya tidak pernah benar-benar hilang. Ia menemukan kejujuran cerita lewat cara Willa berinteraksi dengan lingkungannya melalui percakapan sederhana, tatapan, dan rasa ingin tahu yang tumbuh tanpa henti. Bagi Ryan, dunia Na Willa lahir dari hal-hal kecil yang nyata dan nostalgia.
Ia juga memandang hubungan Willa dengan ibunya sebagai cerminan kedekatan antara anak dan orang tua dalam proses memahami diri sendiri. Imajinasi menjadi ruang tempat anak-anak menemukan jawaban mereka, dan di sanalah imajinasi itu hidup.
Ryan percaya bahwa setiap orang, berapa pun usianya, masih menyimpan sebagian kecil dari dirinya yaitu jiwa anak-anak. Momen sederhana saat masa kecil seperti melihat jajanan masa kecil atau mendengar suara yang mengingatkan pada rumah. Bagian itu tidak pernah hilang, akan terus terkenang di memori setiap orang.
“Pas kita kecil itu, kita suka ngobrol sama pikiran kita sendiri. Itu salah satu yang bikin aku sangat relate,” jelas Ryan.
Berlatar tahun 1960-an, Na Willa menggambarkan kehidupan sederhana dari sudut pandang seorang anak perempuan berusia lima tahun. Luisa Adreena berperan sebagai Willa, bersama Irma Rihi sebagai Mak dan Junior Liem sebagai Pak.
Film ini mencoba mengajak penonton untuk menangkap proses bagaimana manusia bertumbuh, bagaimana kita belajar, kehilangan, lalu menemukan kembali keajaiban kecil dalam kehidupan.
Melalui Na Willa, Ryan dan rekan produksi tidak sekadar mengajak penonton bernostalgia. Mereka mengingatkan bahwa jiwa anak-anak itu masih tinggal di dalam diri setiap orang. Ia tidak pernah benar-benar pergi, hanya menunggu kita mengingat kembali. (Z-10)
Menjelang libur lebaran 2026, para kreator Jumbo kembali bersatu untuk menghadirkan film anak-anak terbaru bertajuk Na Willa.
Menjelang libur lebaran 2026, para kreator Jumbo kembali bersatu untuk menghadirkan film anak-anak terbaru bertajuk Na Willa.
Aktor Junior Liem akan beradu akting dengan aktris Irma Rihi yang memerankan pasangan suami istri dan sosok orangtua dari anak bernama Na Willa.
Reda Gaudiamo merilis buku terbaru yang bersumber dari konten TikTok miliknya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved