Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA Robert Eggers kembali dengan film horor dan period dramas (drama zaman) lewat film Nosferatu, setelah The Lighthouse (2019). Nosferatu diadaptasi Eggers dari karya klasik film non-dialog FW Murnau, Nosferatu: (1922). Mengambil latar Jerman pada awal abad 19, Eggers mendesain kota Wisborg sebagai sebuah kota yang dingin. Pilihan palet warnanya yang pucat seperti waktu antara terang dan gelap, mendukung untuk membentuk dunia gotik Nosferatu ala Eggers.
Wisborg—kota fiksi–adalah kota pelabuhan, yang pada masa itu tengah mengalami masa renaisans. Masa ketika kemajuan dan ilmu pengetahuan diutamakan. Hal itu tercermin dari salah satu dialog dokter Sievers (Ralph Ineson) mengatakan untuk menangani pasien dengan benar sesuai dengan ilmu kedokteran modern. Sementara itu, di tengah kemajuan zaman, Ellen (Lily-Rose Depp), yang baru saja menikah dengan Thomas (Nicholas Hoult) mengalami mimpi suram yang membawanya pada kecemasan.
Bayangan dari masa lalu Ellen, roh jahat yang memperdaya Ellen demi menikmati hasrat, membuat Ellen seperti orang yang ‘tidak waras.’ Di tengah kecemasan Ellen, Thomas, mendapati pekerjaan di firma hukum. Ia diutus oleh bosnya, Knock (Simon McBurney) untuk mendatangi salah satu klien mereka yang hendak membeli properti di kota. Thomas harus mendatangi sang klien di sebuah kuil tua melintasi bukit dan pegunungan, kuil Orlok.
Thomas yang terdesak kebutuhan untuk menghidupi rumah tangga barunya pun lekas bergegas. Meski Ellen bersikeras mencegah. Thomas tak sadar, bahwa itu adalah jebakan Knock dan Orlok—sosok vampir/drakula yang menghantui mimpi Ellen dan ingin menyingkirkan Thomas, demi keduanya bisa bersatu. Knock, adalah pemuja Orlok.
Eggers membangun nuansa horor atmosferik lewat audio foley seperti suara angin musim dingin, raungan si hantu Orlok, serta berpadu dengan scoring yang dibangun perlahan, dan tata cahaya film yang hampir sebagian besar bernuansa gelap.
Desain produksi Nosferatu yang mengambil latar waktu awal abad 19 dibangun dengan megah. Mengandalkan rumah-rumah mewah kelas aristokrat serta mengontraskannya pada rumah-rumah kelas pekerja. Dilengkapi dengan desain tata busana yang senada, serta pemilihan gaya bahasa yang formal dan terasa puitik.
Lily-Rose Depp menjadi aktris yang berperan sentral untuk memberikan kesan mendalam di film ini. Sebagai Ellen yang mengalami guncangan mental, Lily tampil dengan aura melankoli. Dinamika ketubuhannya juga teruji saat ia mengalami trans. Dengan gerakan yang sekaligus membuat horor. Sementara Bill Skarsgard, yang memerankan Orlok, tampil dengan riasan prostetiknya, dengan badan yang penuh luka. Kehadirannya di layar adalah ancaman dan teror yang nyata. Bukan saja untuk Ellen tapi juga penonton. Raungannya saat berbicara, napasnya yang terengah-engah, dan wabah yang ditimbulkannya adalah horor bagi warga Wisborg yang maju dan modern.
Willem Dafoe, yang bermain di The Lighthouse milik Egger sebagai pelaut, di film ini ia kembali memerankan karakter eksentrik. Dokter yang juga percaya pada mistisisme. Kehadirannya membawa pengayaan Nosferatu milik Eggers sebagai sajian horor yang membenturkan logika modern dengan kepercayaan mistisisme.
Nosferatu dari Eggers membawa horor klasik bernuansa gotik dari teror makhluk bernama Orlok menjadi mimpi buruk. Membawa nuansa atmosferik yang akan mencengangkan. (M-3)
DI Twitter/X, ramai diperbincangkan tentang banyaknya sensor yang dialami oleh film Nosferatu dari sutradara Robert Eggers saat tayang di bioskop Indonesia.
Kisah gothic film ini tentang perempuan muda, Ellen Hutter, yang dihantui oleh vampir bernama Count Orlok yang disebut juga Nosferatu, yang tergila-gila padanya.
Sepanjang 2025 sempat muncul kekhawatiran minat penonton akan menurun terutama karena persaingan padat dan jadwal terbatas.
Film horor Penunggu Rumah: Buto Ijo resmi tayang di bioskop mulai hari ini, Kamis (15/1). Di tengah maraknya film horor Indonesia dengan adegan ekstrem.
Danur merupakan langkah awal Prilly Latuconsina bertransformasi dari aktris di industri sinetron ke film, berawal dari Danur pula, kini Prilly telah banyak mendapat kepercayaan di dunia film.
Kostum Buto Ijo dibuat seluruh badan (full body) dan dilapisi prostetik di hampir seluruh tubuh sang aktor.
Film horor Sinners karya Ryan Coogler menorehkan sejarah dengan memenangkan Cinematic and Box Office Achievement di Golden Globe Awards ke-83.
Produser dan penulis naskah suka membuat film dari creature-creature atau demit-demit Indonesia yang belum pernah diadaptasi ke film, seperti tuyul, lampir, dan kini buto ijo
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved