Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PASANGAN suami istri Pangeran Harry dan Meghan Markle semakin tegas dalam isu-isu kesehatan mental anak dan cyberbullying. Upaya tersebut dapat dilihat dari beberapa pernyataan keduanya yang berusaha mendorong perusahaan media sosial seperti Meta dan lainnya.
Hal itu menjadi perhatian untuk memberikan peringatan dan menggencarkan cara untuk mencegah terjadinya berbagai kasus perusakan siber. Apalagi, saat ini dunia anak banyak menghabiskan waktunya di ranah daring sehingga rentan terkena cyberbullying.
Pasangan yang menikah pada 19 Mei 2018 itu membuat pernyataan yang cukup panjang dan serius yang ditunjukkan untuk menentang bahaya siber dan pentingnya keamanan online bagi anak-anak setelah mengikuti sidang Senat Amerika Serikat (AS) tentang keamanan daring. Mereka juga membagikan video baru dari penampilan mereka di acara perayaan Hari Kesehatan Mental Sedunia lalu.
Baca juga : Gugatan Terbaru: Meta Dituduh Mengekspos Anak-anak di Facebook dan Instagram
“Semua orang kini terpengaruh oleh dunia online dan media sosial. Ada pintu masuk yang positif dan menciptakan komunitas baru, namun kita semua ingin merasa aman (dalam bermedia sosial),” ujar Markle seperti dilansir dari laman Fox News, Senin (5/1).
Diketahui, pada tayangan video yang diputar saat sidang senat tersebut, Markle mengibaratkan apa yang terjadi di media sosial saat ini seperti sebuah inovasi mobil. Video tersebut dirilis di situs Archerwell setelah Komite Kehakiman Senat AS mengadakan sidang tentang keamanan online untuk anak-anak.
“Saat mobil pertama kali ditemukan, tidak ada sabuk pengaman, sehingga saat orang-orang mulai mengendarainya justru yang terjadi adalah mereka akan terluka dan meninggal. Kemudian, perusahaan mulai mengganti mobilnya,” ungkap Markle.
Baca juga : Perjalanan Dua Dekade Facebook: Dominasi Sosial dan Kontroversi
Di sisi lain, Pangeran Harry menghimbau para orang dewasa terutama orang tua yang memiliki anak untuk berhati-hati mengawasi anak mereka dengan sentimennya terhadap bahaya cyberbullying, serta tidak berpikir bahwa semua masalah yang terjadi pada anak di media sosial mutlak kesalahan anak, di sini orang tua harus banyak berefleksi.
“Kita harus keluar dari gagasan bahwa anak-anak muda, itu salah dan kita berpikir ada yang salah dengan mereka. Tidak, media sosial ini adalah dunia yang kami sebagai orang dewasa izinkan untuk diciptakan dan eksis di sekitar mereka. Tolong berhenti mengirimkan konten kepada anak-anak, jika kalian tidak ingin anak-anak melihatnya,” tuturnya.
Sementara itu, para pendiri Big Tech, termasuk CEO Meta Mark Zuckerberg, berbicara langsung dengan para korban dan anggota keluarga mereka selama sidang di Washington DC tersebut. Komite mendengarkan kesaksian dari para pimpinan perusahaan teknologi terbesar tentang bahaya eksploitasi seksual terhadap anak di media sosial.
Baca juga : Sebanyak 11.994 Anak di Batam Belum Punya Akta Kelahiran
“Kami memuji keberanian dan tekad ribuan orang tua di seluruh negeri yang advokasinya menghasilkan sidang kasus yang dialami anak mereka,” jelas Harry.
Duke dan Duchess of Sussex itu menggambarkan ruang sidang keamanan siber untuk anak termasuk penuh sesak, di mana ada puluhan orang tua yang anak-anaknya menderita atau meninggal akibat kekerasan daring. Menurut Harry dan Markle, masalah tersebut sangat serius dan harus menjadi perhatian bersama.
“Selama beberapa tahun terakhir, kami telah menghabiskan waktu bersama banyak keluarga ini, mendengarkan kesedihan mereka dan harapan mereka terhadap perubahan mendesak yang diperlukan di dunia online,” ujar Harry.
Baca juga : Hari Pendidikan Internasional 2024: Menyoroti Pendidikan untuk Perdamaian Abadi
Markle pun mendesak adanya perubahan yang diperlukan di ranah maya, sebab pengasuhan anak terbaik di dunia sekalipun tidak bisa menjamin anak selalu aman saat online.
"Ini adalah masalah yang melampaui perpecahan dan garis partai politik, seperti yang kita lihat hari ini di sidang Senat. Pengasuhan anak terbaik di dunia tidak bisa menjaga anak-anak tetap aman dari platform ini,” kata Markle.
Harry dan Markle juga mengutip ucapan seorang ayah yang anaknya terkena dampak buruk dari media sosial, yang berbunyi. Dikatakan bahwa jika cinta bisa menyelamatkan mereka, semua anak-anak mereka masih hidup dengans selamat.
Baca juga : Konflik Rasisme Harry dan Meghan: Keluarga Kerajaan Pertimbangkan Tanggapan
“Ini bukan waktunya untuk melepaskan tanggung jawab, ini adalah waktu untuk melakukan perubahan yang diperlukan guna menjaga keselamatan anak-anak kita,” ucap Harry dan Markle bersamaan. (Z-3)
Menilik kartu Natal keluarga kerajaan Eropa tahun 2025. Dari Pangeran William hingga Raja Charles, semua mengusung tema keakraban yang santai.
Meghan Markle dan Pangeran Harry melibatkan Archie dan Lilibet dalam kegiatan sosial menyiapkan makanan untuk komunitas Los Angeles bersama OBKLA.
Biografi terbaru mengungkap peringatan tegas Pangeran Philip kepada Pangeran Harry saat mengumumkan pertunangannya dengan Meghan Markle.
Setelah enam tahun vakum dari dunia akting, Meghan Markle kembali bermain film lewat proyek Amazon MGM “Close Personal Friends” bersama Brie Larson dan Henry Golding.
Pangeran Harry meminta maaf kepada Kanada setelah memakai topi Los Angeles Dodgers saat menghadiri pertandingan World Series melawan Toronto Blue Jays.
Pangeran Harry dilaporkan mengalami insiden berbahaya saat seorang perempuan penguntit berhasil mendekatinya dalam dua acara publik di London.
SEKOLAH atau lembaga pendidikan idealnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar dan menuntut ilmu.
SURVEI yang dilakukan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) pada September 2024 menunjukkan 75% korban perundungan (bullying) cenderung mengalami gangguan.
KEKERASAN digital pada anak di Indonesia kian memprihatinkan. Bullying dan judi online Jadi kekerasan digital pada anak yang paling sering muncul di medsos.
Kurangi akses media digital atau elektronik dengan memindahkan perangkat elektronik ke ruang yang lebih publik. Sehingga anak-anak akan lebih mudah diawasi.
Studi menunjukkan semakin banyak waktu yang dihabiskan remaja di media sosial, semakin besar kemungkinan mereka mengalami perundungan terkait berat badan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved