Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
TREN musik yang dihasilkan Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan semakin naik daun. Lagu yang dihasilkan AI dibuat dengan meniru secara penuh karakter suara seseorang dalam menyanyikan sebuah lagu.
Tidak heran, banyak musisi yang menyanyikan lagu yang bukan miliknya, dengan karakter suara yang persis. Ini diciptakan oleh AI.
Di sosial media, bertebaran audio dimana musisi seperti Ariana Grande, Katy Perry, Drake, dan The Weeknd menyanyikan lagu yang bukan milik mereka, namun mirip suara mereka. Seperti Ariana yang menyanyikan lagu Komang, Rungkad, dan Sial to Domba Kuring.
Baca juga: Krisdayanti Putuskan Gunakan Nama Sesuai Akte Kelahiran
Yang lebih mengejutkan, bukan musisi saja yang bisa dimanipulasi. Bahkan audio dimana Presiden Joko Widodo menyanyikan lagu Asmalibrasi juga beredar di sosial media.
Keterlibatan AI dalam industri musik, bagi sebagian orang adalah bencana, dan sebagian lainnya sebagai inovasi.
Meskipun dianggap membunuh karakter, intuisi, dan improvisasi seorang musisi, AI juga mendapatkan dukungan. Salah satunya dari mantan istri Elon Musk, Grimes. Dalam postingan di media sosial, Grimes menuturkan bahwa dia bersedia suaranya digunakan untuk AI, asal diberi royalti 50%.
“Saya minta mendapatkan royalti 50% apabila suara saya dipakai untuk lagu yang sukses dihasilkan oleh AI,” ungkap Grimes, dikutip Sabtu (29/4).
Baca juga: Yura Yunita Mengaku Tertantang Tampil di Konser Yovie Widianto
“Ini kesepakatan yang sama, yang saya gunakan dengan artis yang berkolaborasi dengan saya. Silahkan, dengan bebas gunakan suara saya tanpa takut akan hukuman. Saya tidak berada di bawah label dan tidak punya ikatan legal,” lanjutnya.
Bahkan, Grimes mengaku kini tengah menyiapkan sebuah program yang dapat mensimulasikan suaranya untuk digunakan dalam memanipulasi lagu.
“Kami sedang membuat sebuah program yang bisa mensimulasikan suaraku dengan baik. Kami juga akan mengirim sampel bagi orang untuk bisa membuat suaranya sendiri,” tutur Grimes.
Namun, penolakan terhadap musik AI juga terjadi. Baru-baru ini, Universal Music Group menurunkan sebuah lagu berjudul Heart on My Sleeve, yang merupakan lagu buatan AI, yang menduetkan Drake dan The Weeknd. Padahal, hingga berita ini ditulis, lagu tersebut sudah 15 juta kali ditonton di TikTok dan 600 ribu kali didengar di Spotify.
Dalam tanggapannya, Universal Music Group memberi pernyataan yang jelas mengenai posisi mereka terhadap tren musik yang dihasilkan oleh AI.
“Sepanjang sejarah, seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem musik sudah jelas ingin berada di sisi yang mana, yaitu di sisi artis, fans dan ekspresi kreativitas manusia, dan bukan malah di sisi kepalsuan, kebohongan terhadap artis,” ungkap Universal Music Group dalam rilisnya, pada 17 April 2023.
Penolakan juga datang dari seniman musisi tanah air, Indra Aziz. Indra melihat bahwa fenomena penggunaan suara musisi oleh AI juga tak etis, karena sering kali tanpa izin dari yang bersangkutan.
“Dalam visual art, AI mengambil input ratusan ribu karya seni visual dan memprosesnya menjadi data untuk bahan membuat karya. Masalahnya sering kali proses mengambil karya seni termasuk style seorang seniman itu dilakukan tanpa izin si seniman aslinya. Sehingga hal ini kemudian memunculkan banyak protes karena dianggap tidak etis,” tulis Indra dikutip dari Pophariini, Sabtu (29/04).
Menurut Indra, banyak perangkat lunak musik yang saat ini bisa mendeteksi ketukan, pitch, dan kata-kata. Maka, dengan mengambil sampel dari ratusan ribu lagu musisi, karakter suara dapat diciptakan untuk membuat musik dari nol.
“Nah, ketika semua aspek musik menjadi terlalu sempurna secara matematika, hitungan pitch dan ketukannya, maka siapa yang akan paling jago membuatnya? Tentu saja komputer dan AI,” lanjut Indra.
Fenomena inilah yang disebut Indra sebagai “adapt or die”. Menurut Indra, besar kemungkinan profesi musisi bisa mati apabila tidak mengikuti perkembangan yang ada.
Apa yang terjadi hari ini, digambarkan kritikus musik Joe Coscarelli sebagai kondisi dimana suatu teknologi baru masuk ke dalam arus utama sebelum aturan yang diperlukan, diberlakukan.
Memang, regulasi dan aturan mengenai kompensasi bagi hasil dari musik yang dihasilkan oleh AI belum ada.
Hal inilah yang sedang didorong oleh sebuah koalisi yang dinamakan Human Artistry Campaign (Kampanye Artistik Personal) yang diluncurkan pada 16 Maret silam, dan didukung 40 organisasi yang bergerak di bidang musik.
“Tujuan kami adalah untuk memastikan bahwa teknologi kecerdasan dikembangan dan digunakan untuk mendukung kebudayaan dan artistik manusia– dan bukan malah sebaliknya,” ungkap perwakilan kampanye dalam pernyataan tertulis.
Kampanye ini berharap, AI digunakan untuk mendukung kesadaran akan pentingnya kekayaan intelektual dan hak cipta. (AFP/Z-1)
Pandji mengatakan, sejak awal hingga akhir pemeriksaan, suasana yang terbangun cukup bersahabat. Ia menilai proses klarifikasi berjalan jelas dan runut, tanpa tekanan.
Tepat pada 27 Januari 2026, Maia Estianty genap berusia 50 tahun dan ia mengaku kini jauh lebih sadar akan pentingnya menjaga kebugaran tulang dan sendi.
Berkaca dari kasus Boiyen, simak aturan hukum Cerai Gugat di Pengadilan Agama. Apa bedanya dengan talak, syarat pengajuan, dan prosedur mediasinya?
Siapa Boiyen? Ini profil lengkap Yeni Rahmawati, komedian dan pedangdut yang kini jadi sorotan usai menggugat cerai suaminya di PA Tigaraksa.
Baru seumur jagung, pernikahan Boiyen dan Rully Anggi Akbar kandas di meja hijau. Simak fakta persidangan dan jadwal sidang lanjutannya di sini.
Kisah inspiratif 7 selebritis dunia yang memulai karier dari jalanan (pengamen). Dari Rod Stewart hingga Ed Sheeran, simak perjuangan mereka menembus industri hiburan global.
DI tengah gempuran outcome artificial intelligence, otomatisasi, dan disrupsi digital, banyak yang meragukan masa depan profesi akuntan publik.
Kehadiran infrastruktur AI lokal memungkinkan institusi kesehatan untuk mengembangkan inovasi digital secara berkelanjutan tanpa mengorbankan aspek keamanan dan kepercayaan publik.
PERUBAHAN sering bergerak seperti arus di laut dalam; tak tampak di permukaan, tapi cepat dan kuat menentukan arah.
Tanpa pengawasan yang tepat, agen AI yang mampu mengambil keputusan dan memproses data sensitif secara mandiri dapat memicu kerusakan fatal.
PENDIDIKAN abad ke-21 menghadapi tantangan bagaimana mengintegrasikan teknologi tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan
Panduan lengkap mengenai Pusat Data (Data Center). Pelajari fungsi, klasifikasi Tier, dan bagaimana AI mengubah infrastruktur digital menjadi lebih cerdas dan efisien.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved