Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTRIS Prilly Latuconsina mengaku film 12 Cerita Glen Anggara telah membawa dampak perubahan sikap yang positif bagi dirinya untuk lebih merasa bersyukur atas kehidupan yang ia miliki di kehidupan nyata.
"Film ini memberikan kesan dan perubahan sikap di diri aku. Dan aku rasakan banget dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang biasanya aku lakukan tapi berubah semenjak syuting ini. Makanya aku bersyukur banget bisa menjadi bagian dari film ini," kata Prilly, dikutip Senin (15/8).
Sebelum syuting 12 Cerita Glen Anggara, Prilly mengaku dirinya memiliki kebiasaan buruk yaitu sering tidak menghabiskan makanan dan kerap membuang-buang makanan karena tanpa disadari membeli porsi dalam jumlah yang banyak.
Baca juga: Film 12 Cerita Anggara Merangkum Segala Spektrum Emosi
"Sekarang jadi nggak kayak gitu (lagi) karena kalau gitu kan banyak makanan yang terbuang. Jadi benar-benar aku hanya pesan satu menu yang bisa aku makan saja dan kalau bisa aku habiskan," ujarnya.
Dalam film tersebut, perempuan berusia 25 tahun itu berperan sebagai seorang gadis bernama Shena, yang menderita penyakit gagal ginjal dan harus membatasi diri untuk tidak mengonsumsi makanan-makanan tertentu.
"Shena kan nggak bisa makan makanan yang biasa kita makan. Dia kalau habis cuci darah, ya, kalau bisa cuma makan apel, lalu minum air putih, kayak gitu saja kan," tuturnya.
Film 12 Cerita Glen Anggara juga membawa dampak perubahan lain bagi Prilly untuk lebih menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan peduli terhadap kesehatan diri sendiri.
Dalam 12 Cerita Glen Anggara dikisahkan karakter Shena harus menjalani perawatan cuci darah secara rutin. Hal tersebut membuat Prilly menjadi lebih menyadari tentang pentingnya menjaga kesehatan dan pentingnya peduli terhadap kesehatan diri sendiri.
"Kebetulan aku, Prilly, adalah orang yang paling cuek juga sama kesehatan. Kadang kalau sudah kerja, sakit saja nggak dirasa karena sudah biasa waktu dulu sakit tifus tetap syuting stripping, jadi kayak sangat tidak peduli dengan kesehatan," katanya.
Untuk mendalami karakter yang ia perankan, Prilly melakukan riset seputar penyakit gagal ginjal mulai dari membaca artikel di internet, membaca cerita atau pengalaman pasien gagal ginjal, hingga mengobrol dengan keluarga yang mendampingi penderita gagal ginjal.
"Yang paling aku tekankan itu perasaan dia (pasien gagal ginjal). Apa, sih, yang dia rasakan melihat alat-alat yang segitu besar. Orang-orang yang melihat darahnya dikeluarkan, terus dimasukkan ke mesin terus dimasukkan lagi ke badan dia," ujar Prilly.
Mengenai keterhubungan karakter fiksi di kehidupan nyata, Prilly mengaku karakter yang ia perankan memiliki kemiripan dalam hal memiliki kepedulian sosial dan selalu berusaha tampak kuat di hadapan orang lain.
"Aku kaget sih pas baca skenarionya ada adegan itu makanya aku sangat merasa Shena itu mirip sama aku dari segi itunya, kayak dia suka ngajarin anak-anak. Dia juga punya jiwa sosial, terus dia juga tipe orang yang kalau sakit nggak mau dikasihani dan nggak bilang-bilang, pokoknya nggak mau kelihatan sakit," pungkasnya. (Ant/OL-1)
Mengingat usia buah hatinya yang masih sangat kecil, Nikita Willy lebih fokus pada pengenalan suasana dan nilai-nilai spiritual ketimbang praktik fisik berpuasa.
Bagi Atta Halilintar, keterlibatannya dalam Lamak Rasa adalah bentuk komitmen untuk mengangkat cita rasa lokal ke level yang lebih kompetitif.
Meski memiliki latar belakang profesi yang berbeda, Syifa Hadju dan El Rumi ternyata memiliki satu kesamaan prinsip: pantang menyantap makanan berat sesaat setelah azan Maghrib berkumandang.
Pandji mengatakan, sejak awal hingga akhir pemeriksaan, suasana yang terbangun cukup bersahabat. Ia menilai proses klarifikasi berjalan jelas dan runut, tanpa tekanan.
Tepat pada 27 Januari 2026, Maia Estianty genap berusia 50 tahun dan ia mengaku kini jauh lebih sadar akan pentingnya menjaga kebugaran tulang dan sendi.
Berkaca dari kasus Boiyen, simak aturan hukum Cerai Gugat di Pengadilan Agama. Apa bedanya dengan talak, syarat pengajuan, dan prosedur mediasinya?
Cerita dalam 12 Cerita Glen Anggara merangkum segala spektrum emosi. Ia berharap penonton bisa ikut merasakan kebahagiaan, kesedihan, hingga keharuan ketika menonton
"Betapa pentingnya betapa cepatnya waktu itu berlalu. Jadi manfaatkan waktu sebaik-baiknya karena kita kan nggak ada yang tahu ke depannya seperti apa."
“Lagi-lagi film saya bertemakan remaja, tapi kali ini bukan hanya cinta-cintaan saja tapi penuh makna. Kalau sebelumnya banyak 'hahahihi' (komedi) saja, tapi yang berikutnya ini lebih dalam,"
Proyek ini ditujukan untuk 12 orang terpilih agar keinginan mereka dapat terkabul.
12 Cerita Glen Anggara merupakan spin-off dari film Mariposa, yang rilis pada 2020.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved