Rabu 25 November 2020, 00:05 WIB

Hijau, Berdaya, dan Kaya

Denny Susanto | Fokus
Hijau, Berdaya, dan Kaya

MI/DENNY SUSANTO
PROGRAM REVOLUSI HIJAU: Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Sahbirin Noor (kiri) dan Kepala Dinas Kehutanan Kalsel Hanif Faisol Nurofiq

DI tangan Gubernur Sahbirin Noor ada angin perubahan yang diembuskan. Empat tahun lalu, saat menggantikan Rudy Ariffin, Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Selatan itu sudah bertekad untuk tidak mengandalkan pendapatan kas daerah dari pertambangan.

"Kami harus beralih pada sumber ekonomi terbarukan dan berkelanjutan, termasuk pembangunan industri pariwisata berbasis hutan," tutur pria yang akrab disapa Paman Birin itu.

Gebrakan yang banyak mendapat sorotan ialah program Revolusi Hijau. Ini adalah gerakan besar-besaran menanam pohon. Nyaris tidak ada pekan tanpa menanam bibit pohon di provinsi berjuluk 'Bumi Lambung Mangkurat' ini.

Dalam praktiknya, Pemprov Kalimantan Selatan mendapat dukungan warganya secara luas. Di antara mereka juga ada mahasiswa, pelajar, dan organisasi masyarakat.

Setelah bekerja keras sejak 2016, saat ini posisi indeks kualitas lingkungan hidup Kalsel naik dari urutan 29 menjadi 19 dari 34 provinsi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga telah memilih program ini sebagai proyek percontohan nasional dan dipromosikan di tingkat global.

Luas lahan kritis pun berkurang dari 640.708 hektare menjadi 511.594 ha. Pada 2016-2020, Pemprov Kalsel telah melakukan penanaman di lahan yang luasnya lebih dari 86 ribu ha.

"Tujuan lain dari pemulihan kerusakan kawasan hutan dan lahan ini sebagai upaya menjadikan Kalsel sebagai salah satu paru-paru dunia. Pemprov juga berupaya menerapkan pembangunan berbasis kehutanan," kata Paman Birin.

Penghijauan juga tengah digalakkan di kawasan Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia yang berada di areal perkantoran pemprov. "Tanam, tanam, dan tanam untuk masa depan banua dan generasi mendatang," tandas Sahbirin.

Cukup? Tidak juga. Dalam Revolusi Hijau, bapak tiga anak itu juga mengincar pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar hutan.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memberdayakan puluhan hutan wisata yang ada di wilayahnya. Hutan wisata dikembangkan menjadi jasa lingkungan dengan melibatkan masyarakat desa atau masyarakat sekitar hutan.

Hutan wisata ini tersebar di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam dan sembilan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Beberapa hutan wisata yang cukup berkembang dan mampu menjadi objek wisata andalan daerah, di antaranya ialah Puncak dan Lembah Kahung, Sungai Luar, Belangian, Pulau Rusa, dan Pulau Bekantan yang ada di dalam kawasan Tahura Sultan Adam. Kemudian ada Gunung Birah di wilayah KPH Tanah Laut, Gunung Mamake di KPH Kotabaru, Desa Ajung, dan Desa Marajai di KPH Balangan juga Desa Haratai dan Balai Adat Malaris di KPH Hulu Sungai.

"Pembangunan hutan wisata merupakan bagian dari konsep Revolusi Hijau yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa atau sekitar hutan," tutur Nurul Fajar Desira, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan.

Fajar yang juga menjabat Kepala Badan Pengelola Geopark Pegunungan Meratus menyebut program Revolusi Hijau menjadi salah satu upaya pelestarian kawasan hutan terutama Pegunungan Meratus. "Selain hutan wisata, Kalsel memiliki taman bumi atau Geopark Pegunungan Meratus yang sudah berstatus geopark nasional," paparnya.

 

Geopark

Pembangunan geopark menjadi salah satu upaya Pemprov Kalsel untuk melindungi kawasan Pegunungan Meratus dari kerusakan. Sejauh ini mereka telah mendaftarkan Geopark Pegunungan Meratus ke UNESCO agar mendapat pengakuan sebagai Geopark Internasional atau Unesco Global Geopark (UGG).

Tahura Sultan Adam Mandiangin juga masuk pada kawasan geosite Geopark Meratus. "Di kawasan ini para wisatawan bisa menikmati indahnya puncak Mandiangin yang dijuluki sebagai negeri di atas awan dengan panorama alam dan keindahannya tak kalah dari wisata alam daerah lain," kata Ainun Jariyah, Kepala UPT Tahura Sultan Adam.

Fungsi dan manfaat Tahura cukup banyak. Di antaranya menjaga kelestarian kawasan hutan dan ekosistem. Selain itu juga terbinanya koleksi biodiversitas, baik flora mapun fauna di lokasi itu.

Tahura Sultan Adam Mandiangin menawarkan eksotisme alam Kalimantan yang masih alami di areal seluas 112.000 hektare. Taman hutan raya ini berada di wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Banjar dan Tanah Laut.

Setelah hampir lima tahun berjalan, Indeks Desa Membangun (IDM) di Kalimantan Selatan mengalami peningkatan tajam yang ditandai dengan terus menurunnya jumlah desa tertinggal dan bertambahnya desa maju. Penurunan desa tertinggal juga berkorelasi dengan menurunnya angka kemiskinan yang kini menempati posisi ketiga secara nasional.

Pemberdayaan hutan untuk masyarakat sekitar hutan memiliki andil untuk perubahan tersebut. Kesejahteraan mereka meningkat karena pendapatan yang juga terkatrol dengan memanfaatkan lahan hutan untuk pertanian yang ramah lingkungan. (N-3)

Baca Juga

DOK MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI

10,25 Juta UMKM sudah Masuk Ekosistem Digital

👤 Despian Nurhidayat 🕔Senin 18 Januari 2021, 04:55 WIB
TEKANAN ekonomi di 2020 akibat pandemi covid-19 diyakini bakal berlanjut di sepanjang 2021. Koperasi dan UMKM menjadi sektor yang paling...
ANTARA /RAHMAD

Mengintip Nasib Koperasi dan UMKM di 2021

👤Despian Nurhidayat 🕔Senin 18 Januari 2021, 04:50 WIB
KEMENTERIAN Koperasi dan UKM siapkan empat program utama untuk membawa koperasi dan UMKM bertahan di bawah tekanan ekonomi sepanjang 2021...
ANTARA /Ahmad Subaidi

Gerak BUMN Melambungkan Usaha Wong Cilik

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Senin 18 Januari 2021, 04:35 WIB
KEBERADAAN Badan Usaha Milik Negara memiliki makna strategis bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya