Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Kuatkan Budaya Sadar Risiko, AMREI Gandeng Kampus dan Mahasiswa

Syarief Oebaidillah
01/4/2026 20:15
Kuatkan Budaya Sadar Risiko, AMREI Gandeng Kampus dan Mahasiswa
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Asosiasi Manajemen Risiko Energi Indonesia (AMREI) menggelar pelatihan nasional bertema Risk Culture dan Manajemen Risiko Pembangunan Nasional di Jakarta pada Rabu (1/4) untuk memperkuat budaya sadar risiko di berbagai sektor. Inisiatif ini menyasar instansi pemerintahan, lembaga, perusahaan, hingga kalangan akademisi. Ketua Umum AMREI, Rifky Assamady, menegaskan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi sangat strategis untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi pengelolaan risiko sebelum mereka memasuki dunia kerja, sekaligus menjaga keberlanjutan ketahanan energi dan stabilitas pembangunan nasional.

Dalam kesempatan tersebut, pria yang akrab disapa Roy ini mengungkapkan bahwa AMREI segera melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah kampus, salah satunya Universitas Borobudur. Selain itu, AMREI tengah menyusun policy brief sebagai rekomendasi penguatan tata kelola risiko sektor energi yang akan diusulkan kepada kementerian dan lembaga terkait. Menurutnya, prinsip utama manajemen risiko adalah menanamkan sense of belonging dan sense of crisis pada setiap individu di dalam organisasi agar mampu menyusun strategi low budget high impact di tengah tantangan efisiensi anggaran saat ini.

Manajemen risiko, lanjut Roy, menjadi kunci saat anggaran menyusut melalui pembuatan risk register yang fokus pada prioritas berdampak besar dengan biaya efisien, mencakup aspek keuangan, hukum, hingga pengadaan. Pelaksanaan pelatihan ini juga merupakan langkah strategis untuk mendukung implementasi regulasi Per-02 Tahun 2023 serta memperkuat kesadaran Manajemen Risiko Pembangunan Nasional sesuai Perpres 39 Tahun 2023. Di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu, penerapan manajemen risiko yang serius menjadi syarat mutlak agar lembaga dan perusahaan mampu bertahan dan memiliki resiliensi yang tinggi.

AMREI kini memposisikan diri sebagai strategic advisory partner dan fasilitator ekosistem yang mengharmonisasikan komunikasi lintas institusi sektoral. Melalui pendekatan pendampingan analitis, AMREI mendorong pergeseran kebijakan dari yang bersifat reaktif menjadi anticipatory governance. Hal ini bertujuan agar risiko fiskal dapat dikendalikan sejak dini dan potensi krisis dapat diantisipasi secara tepat sasaran. Roy menekankan pentingnya membangun budaya risiko untuk menghindari mentalitas silo serta menciptakan sinergi lintas fungsi yang adaptif dan kolaboratif.

Secara filosofis, Roy merefleksikan bahwa nilai manajemen risiko sejalan dengan prinsip kehidupan dan ajaran agama yang menuntut istikamah, kejujuran, serta keterbukaan dalam mengelola tanggung jawab. Di sisi lain, Sekretaris Jenderal AMREI, Mohamad Soleh, menambahkan bahwa pelatihan ini bertujuan membangun kesadaran kolektif terhadap risiko strategis energi, terutama ancaman krisis energi dunia yang berpotensi menekan fiskal dan mengganggu operasional publik maupun swasta.

Untuk menanamkan budaya sadar risiko tersebut, AMREI menggunakan metode inovatif berupa board game interaktif. Metode ini dipilih agar peserta dapat memahami konsekuensi dari setiap keputusan dengan cara yang lebih mendalam dan menyenangkan. Melalui permainan ini, setiap individu diajak berbagi pengalaman mengenai perilaku positif maupun negatif yang pernah terjadi di lapangan. Soleh meyakini bahwa pendekatan yang melibatkan logika dan rasa akan memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan risk culture secara nyata di instansi masing-masing. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya