Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
Kebijakan pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dinilai bukan sekadar langkah teknis pengendalian konsumsi, melainkan sinyal dini pemerintah dalam menghadapi potensi tekanan pasokan energi global. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Talattov, menilai kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya antisipatif pemerintah untuk menyiapkan masyarakat menghadapi situasi energi yang tidak menentu.
“Menurut saya, kebijakan pembatasan pembelian BBM bersubsidi ini perlu dibaca bukan sekadar langkah teknis, tapi sebagai sinyal antisipatif pemerintah untuk menyiapkan psikologis masyarakat menghadapi risiko pasokan energi yang bisa semakin ketat ke depan. Jadi ini semacam early warning system, bahwa kondisi global tidak normal dan kita perlu mulai beradaptasi,” ujar Abra saat dihubungi, Rabu (1/4).
Ia menjelaskan, dalam jangka pendek kebijakan tersebut memang tidak secara langsung menghambat mobilitas masyarakat. Namun, pembatasan konsumsi dinilai penting untuk mengendalikan lonjakan penggunaan BBM di dalam negeri.
“Setidaknya, pembatasan ini bisa menahan laju konsumsi domestik agar tidak melonjak liar, terutama untuk meminimalkan risiko penimbunan BBM. Dengan begitu, tekanan terhadap APBN, khususnya dari sisi subsidi energi, tidak semakin dalam,” jelasnya.
Di sisi lain, keputusan pemerintah menahan harga BBM nonsubsidi seperti Pertalite dan Pertamax dipandang sebagai langkah menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi global. Menurut Abra, kebijakan tersebut dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka pendek, meskipun memiliki konsekuensi terhadap peningkatan beban fiskal negara.
“Kemudian harga Pertalite dan Pertamax ditahan, ini memang bisa menjadi opsi terbaik untuk menjaga daya beli dan memastikan roda ekonomi tetap berputar, terutama di tengah ancaman inflasi global. Namun, konsekuensinya adalah beban fiskal akan meningkat,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kebijakan penahanan harga tidak bisa dilakukan secara terpisah tanpa reformasi yang lebih mendasar dalam sistem subsidi energi.
“Karena itu, kebijakan seperti ini tidak bisa berdiri sendiri. Harus dibarengi dengan reformasi yang lebih fundamental, yaitu mendorong subsidi yang lebih targeted dan tepat sasaran, agar tidak dinikmati kelompok yang sebenarnya mampu,” tegasnya.
Tanpa perbaikan skema subsidi, lanjut Abra, ruang fiskal pemerintah berpotensi terus tergerus dan justru membatasi kemampuan negara dalam menghadapi risiko krisis energi yang lebih besar di masa mendatang. (E-3)
Kalangan dunia usaha meminta pemerintah memastikan kejelasan implementasi kebijakan pembatasan pembelian BBM bersubsidi agar tidak mengganggu aktivitas distribusi dan operasional bisnis
IESR: Jaminan Pemerintah Soal Ketersediaan BBM Perlu Dibarengi Keterbukaan Data
Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga menegaskan sesuai arahan pemerintah untuk tidak melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), baik non-subsidi maupun bbm bersubsidi.
Hemat BBM dengan cara sederhana! Simak 7 tips berkendara agar konsumsi bahan bakar lebih irit, dari pilih oktan hingga hindari akselerasi mendadak.
KABAR rencana penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang diisukan mulai berlaku per 1 April 2026 memicu kepanikan warga di Kabupaten Sidoarjo.
Kalangan dunia usaha meminta pemerintah memastikan kejelasan implementasi kebijakan pembatasan pembelian BBM bersubsidi agar tidak mengganggu aktivitas distribusi dan operasional bisnis
IESR: Jaminan Pemerintah Soal Ketersediaan BBM Perlu Dibarengi Keterbukaan Data
Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga menegaskan sesuai arahan pemerintah untuk tidak melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), baik non-subsidi maupun bbm bersubsidi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved