Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Pembatasan BBM Bersubsidi Jadi Sinyal Antisipasi Krisis Energi

Naufal Zuhdi
01/4/2026 10:58
Pembatasan BBM Bersubsidi Jadi Sinyal Antisipasi Krisis Energi
ilustrasi(Antara)

Kebijakan pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dinilai bukan sekadar langkah teknis pengendalian konsumsi, melainkan sinyal dini pemerintah dalam menghadapi potensi tekanan pasokan energi global. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Talattov, menilai kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya antisipatif pemerintah untuk menyiapkan masyarakat menghadapi situasi energi yang tidak menentu.

“Menurut saya, kebijakan pembatasan pembelian BBM bersubsidi ini perlu dibaca bukan sekadar langkah teknis, tapi sebagai sinyal antisipatif pemerintah untuk menyiapkan psikologis masyarakat menghadapi risiko pasokan energi yang bisa semakin ketat ke depan. Jadi ini semacam early warning system, bahwa kondisi global tidak normal dan kita perlu mulai beradaptasi,” ujar Abra saat dihubungi, Rabu (1/4).

Ia menjelaskan, dalam jangka pendek kebijakan tersebut memang tidak secara langsung menghambat mobilitas masyarakat. Namun, pembatasan konsumsi dinilai penting untuk mengendalikan lonjakan penggunaan BBM di dalam negeri.

“Setidaknya, pembatasan ini bisa menahan laju konsumsi domestik agar tidak melonjak liar, terutama untuk meminimalkan risiko penimbunan BBM. Dengan begitu, tekanan terhadap APBN, khususnya dari sisi subsidi energi, tidak semakin dalam,” jelasnya.

Di sisi lain, keputusan pemerintah menahan harga BBM nonsubsidi seperti Pertalite dan Pertamax dipandang sebagai langkah menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi global. Menurut Abra, kebijakan tersebut dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka pendek, meskipun memiliki konsekuensi terhadap peningkatan beban fiskal negara.

“Kemudian harga Pertalite dan Pertamax ditahan, ini memang bisa menjadi opsi terbaik untuk menjaga daya beli dan memastikan roda ekonomi tetap berputar, terutama di tengah ancaman inflasi global. Namun, konsekuensinya adalah beban fiskal akan meningkat,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kebijakan penahanan harga tidak bisa dilakukan secara terpisah tanpa reformasi yang lebih mendasar dalam sistem subsidi energi.

“Karena itu, kebijakan seperti ini tidak bisa berdiri sendiri. Harus dibarengi dengan reformasi yang lebih fundamental, yaitu mendorong subsidi yang lebih targeted dan tepat sasaran, agar tidak dinikmati kelompok yang sebenarnya mampu,” tegasnya.

Tanpa perbaikan skema subsidi, lanjut Abra, ruang fiskal pemerintah berpotensi terus tergerus dan justru membatasi kemampuan negara dalam menghadapi risiko krisis energi yang lebih besar di masa mendatang. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya