Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
Dewan Kehutanan Nasional (DKN) menggelar webinar nasional bertajuk penguatan kolaborasi multipihak dalam ekonomi hijau untuk mendukung target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, dengan studi kasus Provinsi Kalimantan Barat. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini menghadirkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat sipil guna membahas strategi pengelolaan hutan berkelanjutan.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, dalam sambutan kunci menegaskan bahwa Kalbar memiliki kawasan hutan seluas 8,4 juta hektare atau sekitar 57 persen dari total wilayah. Selain itu, sekitar 59 persen desa berada di dalam dan sekitar kawasan hutan, sehingga menjadikan kelestarian hutan sebagai fondasi utama pembangunan daerah sekaligus kontribusi terhadap stabilitas iklim global.
“Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen mendorong kepemimpinan kolaboratif dalam ekonomi hijau berkelanjutan untuk mempercepat pencapaian target FOLU Net Sink 2030,” ujarnya.
Ria Norsan menjelaskan, arah kebijakan tersebut sejalan dengan misi pembangunan daerah yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas lingkungan hidup melalui pendekatan ekonomi hijau. Transformasi ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan sektor kehutanan dan penggunaan lahan dalam menyerap emisi karbon, sekaligus membuka peluang investasi rendah karbon dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem kepemimpinan yang inklusif untuk pengelolaan hutan berkelanjutan.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan, Erwan Sudaryanto, menyampaikan bahwa kebijakan Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 membuka peluang besar bagi penguatan peran sektor kehutanan melalui berbagai aksi mitigasi.
Implementasi program ini mencakup pencegahan deforestasi, pembangunan hutan tanaman, peningkatan cadangan karbon, hingga restorasi gambut dan pengelolaan mangrove. Selain itu, pendekatan terintegrasi juga mencakup pemanfaatan pasar karbon serta hilirisasi sektor kehutanan.
“FOLU Net Sink 2030 memberikan ruang optimalisasi pengelolaan hutan, termasuk melalui peluang ekonomi dari pasar karbon dan hilirisasi,” jelasnya.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Soewarso, menyoroti pentingnya penerapan konsep multiusaha kehutanan sebagai strategi meningkatkan nilai tambah sektor ini. Ia menjelaskan, multiusaha kehutanan mencakup pemanfaatan hasil hutan kayu, non-kayu, serta jasa lingkungan dalam satu sistem terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi dan diversifikasi usaha.
“Pendekatan berbasis lanskap melalui multiusaha kehutanan dapat memperkuat kontribusi sektor ini terhadap perekonomian sekaligus mendukung target FOLU Net Sink 2030,” ujarnya.
Selain itu, hilirisasi dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan nilai tambah produk kehutanan melalui pengolahan dalam negeri, sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis bioekonomi.
Melalui forum ini, para pemangku kepentingan sepakat bahwa kolaborasi multipihak menjadi faktor krusial dalam memperkuat kepemimpinan serta kebijakan ekonomi hijau, khususnya dalam pengelolaan hutan dan lahan secara berkelanjutan di Kalimantan Barat. Upaya tersebut diharapkan dapat mempercepat pencapaian target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. (E-3)
Industri kehutanan nasional dinilai tengah memasuki fase transisi yang menuntut pembaruan model bisnis dan penguatan kolaborasi berbasis ilmu pengetahuan.
Indonesia terus memperkuat daya saing produk hasil hutan di pasar internasional melalui harmonisasi kebijakan dan penerapan sertifikasi berstandar global.
INDUSTRI kehutanan Indonesia kini menghadapi ancaman serius. Sektor yang dahulu menjadi penopang ekonomi, sekarang dinilai masuk kategori sunset industry.
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung capaian target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.
SALAH satu strategi utama Indonesia untuk mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) adalah dengan cara aksi iklim nasional, khususnya melalui inisiatif FOLU Net Sink.
BEBAN Forestry and Other Land Use (FOLU) atau sektor kehutanan dan pengunaan lahan lain dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) disebut sangat berat.
Agenda perubahan iklim Indonesia, termasuk pengendalian emisi dari hutan dan lahan melalui FOLU NET Sink 2030 harus menjadi agenda bersama seluruh stakeholder.
Indonesia berkomitmen untuk melakukan langkah nyata dalam pengendalian perubahan iklim dengan melibatkan masyarakat di tingkat tapak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved