Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

KTNA Serukan Mitigasi Kekeringan: Optimalisasi Pompa Air dan Perkuat Sinergi

Syarief Oebaidillah
31/3/2026 21:29
KTNA Serukan Mitigasi Kekeringan: Optimalisasi Pompa Air dan Perkuat Sinergi
Ilustrasi(ANTARA)

KETUA Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, HM Yadi Sofyan Noor, menyerukan langkah mitigasi cepat kepada seluruh jajaran KTNA di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota serta para penyuluh pertanian. Langkah ini diambil guna menghadapi potensi kekeringan yang diprediksi BMKG akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.

Langkah mitigasi ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional, khususnya beras, sekaligus mendukung program swasembada berkelanjutan yang digencarkan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Optimalisasi 70.000 Unit Pompa Air

Dalam keterangannya hari ini, Yadi Sofyan Noor mengingatkan pentingnya memaksimalkan program pemerintah, termasuk pemanfaatan sekitar 70.000 unit pompa air yang telah disalurkan sejak 2024 bagi daerah rawan kekeringan. Ia mengimbau daerah segera mendata dan memetakan keberadaan pompa yang tersebar di Brigade Alsintan, jajaran TNI (Korem/Kodim), dinas pertanian, hingga kelompok tani.

"Pendataan ini menjadi dasar penggerakan pompa ketika debit air menurun pada puncak kemarau. Lokasi pompa harus di-overlay atau dipetakan tumpang susun dengan sumber air permukaan seperti sungai kecil, parit irigasi, dan sumur di sekitar lahan sawah tadah hujan," ujar Sofyan. Tujuannya agar air permukaan dapat dimanfaatkan optimal sebelum terbuang ke laut, terutama pada lahan sawah dengan Indeks Pertanaman satu (IP100).

Varietas Adaptif dan Irigasi Efisien

Dari aspek budidaya, KTNA mendorong petani memilih varietas padi tahan kekeringan seperti Inpago (padi gogo), varietas amfibi, serta varietas adaptif lainnya. Selain itu, petani diingatkan untuk menerapkan metode irigasi berselang (intermittent irrigation).

Metode ini dilakukan dengan pemberian air secara berkala (kedalaman genangan sekitar 5 cm setiap satu minggu) dan terbukti lebih efisien bagi pertumbuhan padi yang sebenarnya tidak membutuhkan rendaman permanen.

Modernisasi dan Pengalaman El Nino

KTNA juga menyambut baik percepatan modernisasi melalui alat dan mesin pertanian (Alsintan) seperti traktor roda dua, rice transplanter, drone pertanian, hingga combine harvester. Mekanisasi penuh ini membuat proses olah tanah hingga panen berlangsung lebih cepat dan adaptif terhadap perubahan cuaca.

Sofyan merefleksikan pengalaman menghadapi El Nino 2023–2024, di mana kebijakan refocusing anggaran untuk pompa air terbukti menyelamatkan sekitar 2,7 juta hektare sawah tadah hujan dari total 7,38 juta hektare lahan baku sawah nasional. "Kami optimistis, jika mitigasi dilakukan sedini mungkin secara terkoordinasi, produksi padi tetap terjaga, bahkan kita berpeluang meningkatkan ekspor tahun depan," imbuhnya.

Sinergi Menuju Swasembada Berkelanjutan

Dukungan penuh dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang rutin turun ke lapangan turut memotivasi petani. Baru-baru ini, Sofyan berdiskusi dengan Ali Jamil, Plt. Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur, guna mengidentifikasi persoalan lapangan dan memberikan solusi cepat mitigasi kekeringan.

Mengutip arahan Mentan Amran, Ali Jamil menegaskan pentingnya optimalisasi sarana prasarana. "Jangan biarkan air mengalir ke laut sebelum menghasilkan karbohidrat dan protein. Optimalkan seluruh sarana agar produksi beras kita lebih tinggi dari tahun 2025," pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya