Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Pengamat Ingatkan Banjirnya Produk Impor Gerus TKDN Migas

Insi Nantika Jelita
20/3/2026 20:51
Pengamat Ingatkan Banjirnya Produk Impor Gerus TKDN Migas
Ilustrasi.(Antara/Dedhez Anggara)

PENGAMAT industri Kus Rahardjo menyoroti industri hulu minyak dan gas Indonesia (migas) yang minim penggunaan komponen dalam negeri. Dalam pengamatannya, produk impor kian mendominasi sehingga mematikan industri domestik.

"Perusahaan asing masuk membawa barang jadi dari luar negeri, menggantikan peran industri lokal. Dalam banyak kasus, produk dalam negeri yang memiliki kualitas setara justru tidak mendapatkan ruang yang sama. Ini bukan sekadar soal kualitas. Ini soal keberpihakan dan kesempatan," tegas Kus.

Ia mengingatkan, kondisi tersebut berpotensi menggeser peran industri lokal secara sistematis apabila tidak dibarengi dengan kebijakan yang mendukung pemanfaatan produk dalam negeri.

Dalam konteks ini, kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) seharusnya menjadi instrumen strategis untuk memperkuat kemandirian industri nasional, khususnya di sektor hulu migas yang memiliki nilai investasi tinggi dan kompleksitas operasional besar.

"Jika implementasi TKDN tidak optimal, industri memang tetap dapat berjalan karena dukungan produk impor, namun ada risiko daya saing domestik yang melemah dalam jangka panjang. Apakah kita rela menjadi penonton di rumah sendiri?" tanya Kus.

Dalam kajiannya, selama puluhan tahun, Indonesia telah membangun kemampuan industri penunjang migas. Berbagai produsen dalam negeri mampu memproduksi peralatan, komponen, hingga teknologi yang dibutuhkan dalam operasi hulu.

Mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi pemain yang memahami karakter lapangan, tantangan geografis, hingga kebutuhan spesifik industri domestik.

Namun yang terjadi saat ini, sambungnya, ketika kemampuan lokal sudah tersedia, industri hulu migas justru lebih banyak diisi oleh pemain luar.

"Fenomena ini bukan semata-mata dinamika pasar bebas. Ketika produk lokal tidak mendapat ruang yang adil, yang terjadi bukan lagi kompetisi sehat, melainkan pergeseran peran secara sistematis," ujarnya.

Analogi dangdut
Kus menganalogikan industri hulu migas saat ini bak industri musik dangdut yang kini banyak dinyanyikan oleh penyanyi asing.

"Musik dangdut akan tetap hidup, bahkan jika dinyanyikan oleh siapa saja. Namun, ketika pelaku aslinya tersingkir dari panggungnya sendiri, ada ruh yang hilang, identitas yang perlahan memudar," ujarnya. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik