Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Summarecon Agung Tbk memperkuat strategi recurring income melalui ekspansi bisnis hospitality dengan menghadirkan Harris Hotel & Convention Serpong di kawasan Summarecon Serpong, Tangerang Selatan.
Investasi pembangunan hotel ini mencapai sekitar Rp400 miliar dan menjadi bagian dari strategi perusahaan meningkatkan kontribusi pendapatan berulang dari aset komersial.
Presiden Direktur Summarecon Adrianto P. Adhi mengatakan bisnis perhotelan menjadi salah satu komponen penting dalam portofolio properti investasi perusahaan.
“Porsi properti investasi sekitar 25% sampai 30% dari total bisnis kami. Dari porsi tersebut, hotel menyumbang sekitar 20%, dan dengan hadirnya Harris Hotel ini kami menargetkan kontribusinya meningkat menjadi sekitar 23%,” kata Soegianto.
Menurut Adrianto, Harris Hotel & Convention Serpong merupakan hotel kelima dalam portofolio bisnis perhotelan Summarecon. Properti ini juga dirancang untuk terintegrasi langsung dengan Summarecon Mall Serpong, sehingga menciptakan sinergi antara sektor ritel dan hospitality dalam satu kawasan.
“Harris Hotel & Convention Serpong menjadi hotel kelima yang akan menambah portofolio bisnis hotel Summarecon. Sejalan dengan pengembangan Kota Terpadu Summarecon Serpong, kehadiran hotel ini mendukung sinergi dengan pusat perbelanjaan Summarecon Mall Serpong,” ujar Adrianto.
Ia mengatakan, pengembangan hotel ini juga sejalan dengan strategi perusahaan membangun ekosistem ekonomi dalam township. Tidak hanya mengandalkan penjualan properti tetapi juga pendapatan operasional jangka panjang.
Direktur Summarecon Soegianto Nagaria mengatakan fasilitas hospitality dan konvensi menjadi infrastruktur penting untuk mendukung aktivitas bisnis di kawasan tersebut.
“Kehadiran Harris Hotel & Convention Serpong berperan sebagai infrastruktur pendukung aktivitas bisnis yang akan memperkuat positioning Summarecon Serpong sebagai Regional Hub, yaitu pusat aktivitas ekonomi, bisnis, dan pertemuan yang melayani kawasan Serpong dan wilayah sekitarnya,” ujar Soegianto.
Soegianto mengatakan, Summarecon Serpong sendiri telah dikembangkan sejak 2004 sebagai kota terpadu yang menggabungkan kawasan hunian, komersial, pendidikan, serta fasilitas gaya hidup.
Menurut dia, kematangan infrastruktur kawasan mendorong kebutuhan fasilitas hospitality yang dapat melayani aktivitas bisnis, konferensi, hingga kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, exhibition).
Hotel yang dikelola bekerja sama dengan operator global The Ascott Limited ini memiliki 282 kamar serta fasilitas konvensi besar, termasuk ballroom dengan kapasitas hingga 1.500 orang, tiga ballroom tambahan, serta 11 ruang pertemuan.
Country Director Brand & Marketing The Ascott Limited Indonesia Irene Janti mengatakan ekspansi merek Harris di Serpong mencerminkan potensi pertumbuhan kawasan urban baru di Indonesia.
“Pembukaan Harris Hotel & Convention Serpong menunjukkan keyakinan kami terhadap pertumbuhan dinamis Indonesia, khususnya di kawasan urban yang terus berkembang seperti Serpong,” ujarnya.
General Manager Harris Hotel & Convention Serpong Lut Abader menambahkan hotel menargetkan tingkat okupansi sekitar 50% pada tahun pertama operasional, dengan potensi pertumbuhan yang didorong oleh aktivitas bisnis dan kunjungan ke pusat perbelanjaan di kawasan tersebut.
“Kami menargetkan okupansi sekitar 50% pada tahun pertama, namun indikasi pasar menunjukkan permintaan yang cukup kuat di kawasan ini,” kata Lut.
Sebagai perbandingan, tingkat okupansi rata-rata hotel dalam portofolio Summarecon saat ini berada di kisaran 71%.
Dengan model pengembangan township yang menggabungkan mall, hotel, dan fasilitas konvensi, perusahaan berharap dapat memperkuat sumber pendapatan berulang sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di kawasan Serpong yang terus berkembang. (Z-10)
INPP memasang target pertumbuhan pendapatan moderat pada 2026 di kisaran 5% hingga 10% pada 2026.
SWID menargetkan peningkatan pendapatan berulang melalui pembangunan hotel bintang lima terbarunya.
SWID catat lonjakan penjualan 270% di Q2 2025, dorong stabilitas baru. Fokus pada recurring income & diversifikasi perkuat fondasi jangka panjang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved