Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel, Alarm Merah bagi APBN 2026

Media Indonesia
09/3/2026 06:31
Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel, Alarm Merah bagi APBN 2026
Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi di salah satu SPBU Desa Kuta Lintang, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, Rabu (28/1/2026).(Antara)

HARGA minyak mentah dunia resmi menembus level psikologis US$100 per barel pada perdagangan Minggu (8/3). Lonjakan ini menjadi rekor tertinggi dalam dua tahun terakhir, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian tak terkendali antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

Berdasarkan data pasar global, minyak mentah jenis Brent melonjak tajam melampaui angka US$100, sementara West Texas Intermediate (WTI) membuntuti di kisaran US$96 per barel. Situasi ini dipicu oleh lumpuhnya aktivitas pengiriman di Selat Hormuz, jalur yang memasok sekitar 20 persen kebutuhan energi dunia.

Selat Hormuz Terblokade, Pasokan Global Tercekik

Konflik yang telah berlangsung selama satu pekan terakhir mencapai puncaknya setelah Iran mengancam akan menutup total Selat Hormuz bagi kapal tanker yang berafiliasi dengan negara-negara Barat. "Skenario terburuk sedang berkembang di depan mata kita. Penutupan jalur ini membuat sekitar 140 juta barel minyak tertahan dan tidak bisa mencapai pasar," lapor analis energi global.

Dampaknya, para penyuling di seluruh dunia berebut mencari pasokan alternatif, yang secara otomatis mengerek harga ke level yang sangat mengkhawatirkan bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia.

Dampak Ngeri bagi APBN Indonesia

Kenaikan ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan fiskal Indonesia. Dalam postur APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) hanya sebesar US$70 per barel. Dengan harga pasar yang kini menyentuh US$100, terdapat selisih US$30 yang harus ditanggung oleh kas negara.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menjelaskan bahwa setiap kenaikan US$1 di atas asumsi APBN berpotensi menambah beban subsidi energi sekitar Rp6,7 triliun. "Jika harga ini bertahan lama, tambahan beban subsidi bisa membengkak hingga Rp201 triliun. Ini akan menekan defisit anggaran melampaui batas aman 3%," ujarnya.

Indikator Asumsi APBN 2026 Kondisi Riil (8 Maret)
Harga Minyak (Brent) US$70 / barel US$100 / barel
Beban Subsidi per US$1 - ± Rp6,7 Triliun

Sinyal Kenaikan Harga BBM Subsidi?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya telah memberikan sinyal bahwa pemerintah terus memantau pergerakan harga ini. Meski stok BBM nasional dipastikan aman untuk 20 hari ke depan, opsi penyesuaian harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar menjadi pilihan terakhir jika ruang fiskal sudah tidak mencukupi.

"Kalau memang anggarannya tidak kuat sama sekali, tidak ada jalan lain, kami harus berbagi beban dengan masyarakat. Artinya ada potensi penyesuaian harga jika harga minyak dunia bertahan tinggi sekali," tegas Purbaya dalam keterangan resminya beberapa waktu lalu.

Saat ini, harga Pertalite masih dipertahankan di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Namun, kenaikan harga minyak dunia ke level US$100 diprediksi akan memicu inflasi jika tidak segera dimitigasi dengan kebijakan fiskal yang tepat. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya