Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI tahun 2026, dinamika ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang luar biasa dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang diproyeksikan stabil di angka 5,1% hingga 5,2%. Namun, bagi pelaku usaha dan pengambil kebijakan, sekadar melihat angka inflasi dari Indeks Harga Konsumen (IHK) tidaklah cukup. Di sinilah peran Deflator PDB menjadi krusial sebagai alat ukur yang lebih komprehensif untuk memantau stabilitas harga di seluruh sektor ekonomi.
Deflator PDB, atau sering disebut sebagai Indeks Harga Implisit, adalah ukuran tingkat harga dari semua barang dan jasa baru yang diproduksi di dalam negeri. Berbeda dengan IHK yang hanya memotret perubahan harga pada barang konsumsi rumah tangga, Deflator PDB mencakup spektrum yang jauh lebih luas, termasuk barang modal (investasi), belanja pemerintah, hingga komoditas ekspor.
Baca juga : Cara Menghitung PDB Riil dan Nominal Rumus, Perbedaan, Contoh Lengkap
Pada tahun 2026, di tengah penyesuaian tarif perdagangan global dan volatilitas harga komoditas, Deflator PDB memberikan gambaran yang lebih murni mengenai seberapa besar kenaikan ekonomi kita yang benar-benar berasal dari peningkatan produksi fisik, dan seberapa besar yang hanya merupakan dampak kenaikan harga (inflasi).
Untuk menghitung angka ini, Anda memerlukan dua data utama dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS): PDB Nominal dan PDB Riil.
Rumus Deflator PDB:
Deflator PDB = (PDB Nominal / PDB Riil) x 100
Misalkan berdasarkan data ekonomi nasional, Indonesia mencatatkan angka sebagai berikut:
Maka perhitungannya adalah:
Deflator PDB = (23.821,1 / 15.400,0) x 100 = 154,68
Angka 154,68 menunjukkan bahwa sejak tahun dasar hingga periode laporan, tingkat harga secara agregat di Indonesia telah meningkat sebesar 54,68%.
Baca juga : Cara Menghitung Pertumbuhan Ekonomi: Rumus, Indikator, dan Contoh Kasus
Terdapat tiga perbedaan fundamental yang membuat Deflator PDB menjadi indikator yang sangat berharga bagi analis ekonomi:
| Fitur Perbandingan | Indeks Harga Konsumen (IHK) | Deflator PDB |
|---|---|---|
| Cakupan Produk | Hanya barang konsumsi rumah tangga. | Seluruh barang/jasa yang diproduksi domestik. |
| Barang Impor | Termasuk dalam hitungan. | Dikeluarkan dari hitungan. |
| Metode Pembobotan | Keranjang belanja tetap (Fixed Basket). | Berubah sesuai output produksi saat ini. |
Banyak literatur hanya menyebutkan rumus dasar, tetapi jarang membahas mengenai Net Export Neutrality. Dalam ekonomi Indonesia 2026 yang kuat di sektor ekspor komoditas, Deflator PDB sangat efektif karena tidak terdistorsi oleh kenaikan harga barang impor yang sering kali membuat angka IHK terlihat sangat tinggi padahal ekonomi domestik sedang stabil. Ini memberikan kejelasan bagi investor asing untuk melihat stabilitas biaya produksi di dalam negeri.
Baca juga: Panduan Transaksi Derivatif Valas Pengertian, Jenis, dan Strategi Hedging 2026
Baca juga: Bongkar Taktik Bandar 7 Modus Manipulasi Saham yang Bikin Ritel Boncos
Apakah kenaikan harga BBM langsung memengaruhi Deflator PDB? Ya, karena BBM adalah input produksi bagi hampir semua barang dan jasa domestik.
Apa dampak nilai tukar rupiah terhadap Deflator PDB? Dampaknya tidak langsung seperti pada IHK, karena Deflator PDB tidak memasukkan harga barang impor secara langsung.
Bagaimana cara menghitung laju inflasi dari Deflator PDB? (Deflator Tahun Ini - Deflator Tahun Lalu) / Deflator Tahun Lalu x 100.
Mana yang lebih akurat untuk menyesuaikan gaji karyawan? Biasanya IHK lebih relevan untuk penyesuaian gaji karena mencerminkan biaya hidup langsung.
Apa itu Indeks Harga Implisit? Itu adalah nama lain dari Deflator PDB.
Mengapa tahun dasar PDB sering berubah? Untuk menyesuaikan dengan perubahan struktur ekonomi dan pola produksi terbaru.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai data ekonomi terkini, tetap pantau pembaruan reguler di Media Indonesia.
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved