Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Pengamat: Industri Sawit Menyangkut Sumber Penghidupan Jutaan Keluarga

Mirza Andreas
06/2/2026 01:54
Pengamat: Industri Sawit Menyangkut Sumber Penghidupan Jutaan Keluarga
Board of Trustees Prasasti Center for Policy Studies yang juga mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier.(Dok. Prasasti Center)

INDUSTRI kelapa sawit tidak dapat dipandang semata sebagai komoditas ekspor. Di balik kontribusinya terhadap perekonomian nasional, sektor ini menjadi sumber penghidupan jutaan keluarga sekaligus penopang ketahanan ekonomi dan sosial Indonesia.

Board of Trustees Prasasti Center for Policy Studies yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan Fuad Bawazier menegaskan, peran strategis industri kelapa sawit kerap dilihat secara parsial, padahal dampaknya jauh melampaui angka ekspor. Dengan penguasaan sekitar 58,7% produksi minyak sawit global, industri ini diperkirakan menopang hingga 16,5 juta lapangan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Angka-angka ini menunjukkan bahwa sawit bukan sekadar komoditas ekspor. Ia adalah sumber penghidupan jutaan keluarga sekaligus salah satu pilar utama ketahanan ekonomi nasional," ujar Fuad dalam forum Prasasti Insights bertajuk Reshaping Indonesia’s Palm Oil Foundations in an Era of Climate Risk and New Governance Standards di Jakarta, Kamis (5/2).

Ia menilai peluang pengembangan industri sawit ke depan masih sangat besar, terutama melalui hilirisasi dan penguatan nilai tambah. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila tantangan tata kelola dan keberlanjutan diantisipasi secara serius. 

Menurutnya, diskusi mengenai tata kelola seharusnya tidak berangkat dari pencarian kesalahan, melainkan dari upaya memperkuat kapasitas industri dalam mengelola risiko dan menjaga daya saing jangka panjang, terutama di tengah tuntutan global terkait perubahan iklim.

Pandangan tersebut mencerminkan realitas yang tengah dihadapi industri kelapa sawit nasional. 

Di satu sisi, sektor ini berkontribusi signifikan terhadap devisa ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai lebih dari US$36,1 miliar per tahun serta menempatkan Indonesia sebagai produsen utama minyak sawit dunia. Di sisi lain, industri ini menghadapi tantangan struktural yang semakin kompleks, mulai dari risiko iklim, tekanan standar keberlanjutan global, hingga persoalan produktivitas dan tata kelola di tingkat tapak.

Menanggapi tantangan tersebut, Prasasti Center for Policy Studies menekankan pentingnya kebijakan yang bersifat preventif dan antisipatif sebagai fondasi penguatan ketahanan industri sawit nasional.

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menyampaikan, "Risiko iklim kini telah menjadi faktor nyata yang memengaruhi kehidupan masyarakat sekaligus kinerja sektor-sektor ekonomi strategis, termasuk kelapa sawit". 

Dalam konteks kebijakan publik, ia menilai diperlukan pendekatan yang lebih preventif dan antisipatif. "Kebijakan yang tidak hanya merespons krisis, tetapi mampu membangun ketahanan industri secara menyeluruh dari hulu hingga hilir," tambahnya.

Menurut Piter, pendekatan tersebut menuntut keterlibatan aktif pembuat kebijakan dan pelaku industri agar arah kebijakan yang dirumuskan konsisten dan implementatif di lapangan. Fragmentasi kebijakan serta lemahnya koordinasi antarlembaga berpotensi menghambat efektivitas penguatan industri, terutama ketika sektor sawit dihadapkan pada tekanan iklim dan tuntutan keberlanjutan yang semakin tinggi.

Piter menambahkan, Prasasti Insights dirancang sebagai ruang dialog kebijakan yang mempertemukan perspektif pemerintah, industri, dan akademisi. Forum ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman bersama mengenai tantangan struktural industri sawit sekaligus membantu merumuskan kebijakan yang lebih kokoh dan berorientasi jangka panjang.

Dari sisi pemerintah, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Teguh Sambodo, mengamini perlunya fondasi baru industri sawit yang lebih maju, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Hal tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Ia menyoroti bahwa di balik besarnya potensi industri sawit, masih terdapat tantangan struktural yang perlu segera diatasi, khususnya rendahnya produktivitas kebun rakyat. Proporsi tanaman sawit berumur di atas 25 tahun dinilai masih cukup tinggi, sementara realisasi program peremajaan sawit rakyat belum berjalan optimal.

"Tanpa perbaikan produktivitas dan percepatan peremajaan kebun rakyat, upaya hilirisasi dan peningkatan nilai tambah akan sulit berjalan optimal," ujar Teguh.

Ke depan, Teguh menilai kompleksitas industri sawit akan semakin meningkat. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang mampu mendorong ekosistem industrialisasi yang lebih kondusif dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan aspek produktivitas, tata kelola, serta kesiapan industri dalam menghadapi risiko iklim dan tuntutan pasar global.

Melalui forum Prasasti Insights, Prasasti berharap dialog lintas pemangku kepentingan ini dapat menjadi pijakan bagi perumusan kebijakan yang lebih terintegrasi dan berbasis data, sehingga industri kelapa sawit nasional dapat terus berkontribusi sebagai sumber penghidupan masyarakat sekaligus pilar ketahanan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik