Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
KETAHANAN pangan Indonesia menunjukkan sinyal positif di awal 2026. Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi nasional sepanjang 2025 mengalami kenaikan signifikan yang dipicu oleh faktor iklim dan perluasan area tanam. Kondisi ini diprediksi akan terus menguat hingga kuartal pertama 2026.
Ringkasan Data BPS: Produksi padi 2025 mencapai 60,21 juta ton GKG (naik 13,29%). Potensi produksi beras Januari-Maret 2026 diperkirakan mencapai 10,16 juta ton.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Desember 2025, produksi padi nasional mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 13,29% atau bertambah sekitar 7,06 juta ton dibandingkan capaian pada 2024.
Kenaikan produksi ini sejalan dengan peningkatan luas panen yang mencapai 11,32 juta hektare, tumbuh 12,69% secara tahunan. Jika dikonversi menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras sepanjang 2025 tercatat sebesar 34,69 juta ton.
| Indikator Produksi | Tahun 2025 | Kenaikan (%) |
|---|---|---|
| Produksi Padi (GKG) | 60,21 Juta Ton | 13,29% |
| Produksi Beras | 34,69 Juta Ton | 13,29% |
| Luas Panen | 11,32 Juta Ha | 12,69% |
BPS juga merilis angka potensi untuk periode Januari hingga Maret 2026. Dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA), potensi luas panen pada tiga bulan pertama tahun ini diperkirakan mencapai 3,28 juta hektare atau naik 15,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi produksi, potensi gabah yang dihasilkan pada periode Januari hingga Maret 2026 diprediksi menyentuh 17,65 juta ton GKG. Jika target ini tercapai, akan ada kenaikan sebesar 15,80% dibandingkan kuartal pertama 2025. Angka ini setara dengan potensi produksi beras sebesar 10,16 juta ton.
Terdapat beberapa faktor kunci yang menyebabkan lonjakan produksi padi di tahun 2025 dan optimisme di awal 2026:
Potensi panen raya pada awal 2026 terkonsentrasi di beberapa provinsi lumbung pangan. Di Pulau Jawa, wilayah utama meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Sementara di luar Pulau Jawa, kontribusi besar diharapkan datang dari Sumatra Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, hingga Nusa Tenggara Barat.
Ateng Hartono menegaskan bahwa angka potensi ini masih bersifat dinamis. "Angka potensi ini bisa berubah tergantung kondisi di lapangan, seperti serangan hama, banjir, kekeringan, maupun pergeseran waktu panen oleh petani," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/2).
Selain padi, komoditas jagung juga menunjukkan tren positif. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% sepanjang 2025 mencapai 16,16 juta ton, tumbuh 6,74%. Untuk awal 2026, potensi produksi jagung diperkirakan mencapai 4,94 juta ton pada periode Januari hingga Maret, meningkat 4,18% secara tahunan.
Produksi padi nasional pada 2025 mencapai 60,21 juta ton GKG, mengalami kenaikan sebesar 13,29% dibandingkan tahun 2024.
BPS memproyeksikan potensi produksi padi periode Januari hingga Maret 2026 sebesar 17,65 juta ton GKG, naik 15,80% secara tahunan.
Faktor utamanya adalah tingginya curah hujan, peningkatan luas panen, serta kenaikan produktivitas rata-rata nasional menjadi 63,55 kuintal per hektare. (I-2)
PRESIDEN Republik Indonesia Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa cadangan beras nasional yang dikelola Perum Bulog kini telah melampaui angka 3 juta ton.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyebut bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras pada tahun 2025.
BADAN Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan keberlanjutan program intervensi perberasan pada tahun 2026.
PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia resmi mencapai swasembada beras pada 2025, jauh lebih cepat dibandingkan target awal pemerintah.
Naiknya CBP menjadi 4 juta ton karena produksi di tahun depan diperkirakan meningkat ketimbang tahun ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved