Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Rupiah tetap Tertekan meski Modal Asing Masuk Indonesia Tembus US$1,49 Miliar

Naufal Zuhdi
21/1/2026 09:59
Rupiah tetap Tertekan meski Modal Asing Masuk Indonesia Tembus US$1,49 Miliar
Ilustrasi(Antara)

Arus modal portofolio asing kembali mengalir ke pasar keuangan Indonesia seiring menyempitnya selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan Indonesia. Kondisi ini terjadi setelah bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), menurunkan suku bunga kebijakannya, sementara Bank Indonesia (BI) memilih mempertahankan suku bunga acuan pada Desember 2025.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teuku Riefky mengatakan, penyempitan diferensial suku bunga tersebut terus memberikan dukungan bagi aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Dalam periode pertengahan Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026, arus masuk modal ke pasar keuangan Indonesia mencapai sekitar USD1,49 miliar, dengan rincian USD0,56 miliar ke obligasi pemerintah dan USD0,94 miliar ke pasar saham,” ujar Riefky dalam kajiannya, dikutip Rabu (21/1).

Secara teori, pembelian bersih obligasi pemerintah oleh investor asing seharusnya menekan imbal hasil melalui kenaikan harga obligasi. Mekanisme tersebut terlihat pada obligasi pemerintah bertenor pendek, di mana imbal hasil tenor 1 tahun turun dari 4,93% menjadi 4,71% dalam periode yang sama.

Namun, Riefky menilai dinamika berbeda terjadi pada obligasi bertenor panjang. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun justru naik moderat dari 6,21% menjadi 6,26%, meskipun terdapat arus masuk bersih ke pasar obligasi.

“Perbedaan ini mengindikasikan bahwa minat investor asing lebih terkonsentrasi pada obligasi berjangka pendek. Risiko fiskal yang relatif tinggi turut memengaruhi premi jangka panjang, mengingat defisit fiskal 2025 mendekati batas atas yang ditetapkan undang-undang, yakni sekitar 2,92% dari PDB,” jelasnya.

Selain faktor fiskal, operasi manajemen likuiditas Bank Indonesia juga memengaruhi pergerakan imbal hasil. Penerbitan Bank Indonesia Rupiah Securities (SRBI) secara berkelanjutan, yang menawarkan imbal hasil relatif tinggi dengan tenor pendek dan risiko durasi lebih rendah, menarik minat investor domestik maupun asing. Kondisi ini mengurangi permintaan tambahan terhadap obligasi pemerintah bertenor panjang.

Di sisi lain, meskipun arus modal asing tercatat positif, nilai tukar Rupiah justru melemah 1,16% secara bulanan dari IDR16.685 per dolar AS pada pertengahan Desember 2025 menjadi IDR16.880 per dolar AS pada pertengahan Januari 2026.

Menurutnya, pelemahan Rupiah tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh penguatan dolar AS secara global. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat naik dari sekitar 98,15 menjadi 99,32 dalam periode yang sama.

“Ada beberapa faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS, mulai dari data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan, meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, hingga kekhawatiran pasar terhadap posisi fiskal Indonesia,” paparnya.

Ia menambahkan, meskipun inflasi domestik masih berada dalam kisaran target BI, tekanan nilai tukar tetap menjadi pertimbangan kebijakan utama. Dalam kondisi eksternal yang belum stabil, pelonggaran kebijakan moneter dinilai berisiko memperbesar volatilitas Rupiah.

“Menjaga suku bunga kebijakan di level 4,75% menjadi langkah penting untuk menyeimbangkan pengendalian inflasi dan stabilitas eksternal, disertai intervensi valas yang terarah untuk meredam fluktuasi Rupiah yang berlebihan,” pungkas Riefky. (Fal)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya