Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Harga Pertamax dan BBM Non-Subsidi Turun per 1 Januari 2026

Andhika Prasetyo
01/1/2026 09:36
Harga Pertamax dan BBM Non-Subsidi Turun per 1 Januari 2026
Ilustrasi(Antara)

PT Pertamina resmi menurunkan harga Pertamax dan sejumlah bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi lainnya mulai 1 Januari 2026. Penyesuaian harga ini berlaku di seluruh wilayah, dengan besaran yang dapat berbeda sesuai kebijakan pajak daerah masing-masing.

Mengacu pada laman resmi Pertamina Patra Niaga, untuk wilayah DKI Jakarta, harga Pertamax (RON 92) turun menjadi Rp12.350 per liter dari sebelumnya Rp12.750 per liter pada Desember 2025. Harga Pertamax Turbo (RON 98) juga turun menjadi Rp13.400 per liter dari sebelumnya Rp13.750 per liter.

Produk Pertamax Green 95 ikut mengalami penurunan menjadi Rp13.150 per liter dari Rp13.500 per liter. Sementara itu, Dexlite kini dibanderol Rp13.500 per liter, turun dari Rp14.700 per liter, dan Pertamina Dex turun menjadi Rp13.600 per liter dari sebelumnya Rp15.000 per liter.

Di sisi lain, harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite (RON 90) tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Solar Subsidi tetap Rp6.800 per liter.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Robert Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan mengikuti formula yang ditetapkan pemerintah. Pertamina juga mempertimbangkan pergerakan harga minyak dunia yang dipublikasikan melalui Argus dan Mean of Platts Singapore (MOPS), serta perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Penyesuaian harga ini kami lakukan secara berkala, dan tetap menjadikan harga Pertamax Series dan Dex Series sebagai yang paling kompetitif,” ujarnya.

Pertamina menegaskan, harga BBM dapat berbeda antarwilayah karena menyesuaikan besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) di tiap provinsi. Masyarakat diimbau mengecek informasi resmi melalui kanal Pertamina sebelum melakukan pembelian.

Penurunan ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat sekaligus menjaga stabilitas konsumsi energi di awal tahun 2026, seiring dinamika harga minyak global dan pemulihan ekonomi. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya