Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Soetomo, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kebijakan pengaturan penyeberangan Merak–Bakauheni yang dinilai belum cukup fleksibel dan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan, sehingga menimbulkan dampak serius bagi pengguna jasa, khususnya kendaraan logistik nasional.
“Berdasarkan data dan fakta operasional di lapangan yang terjadi saat ini bukan penyelesaian kemacetan, melainkan pemindahan kemacetan ke lokasi lain yang infrastrukturnya belum siap,” ujar Khoiri dalam keterangannya, Selasa (30/12).
Ia menegaskan bahwa logistik adalah urat nadi perekonomian nasional yang tidak boleh diperlakukan sebagai beban demi mengejar tampilan kelancaran di satu titik tertentu.
“Mengorbankan kendaraan logistik agar Pelabuhan Merak–Bakauheni terlihat lancar dan tanpa antrean bukanlah solusi. Itu adalah kelancaran semu yang justru menutup masalah sebenarnya,” tegasnya.
Menurut Khoiri, permasalahan mendasar yang sama terus berulang setiap musim puncak dan belum terselesaikan secara struktural, meskipun masukan dari pelaku usaha telah berkali-kali disampaikan melalui jalur resmi kepada Kementerian Perhubungan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa antrean panjang, waktu tunggu yang tidak pasti, serta perubahan kebijakan yang mendadak telah menimbulkan tekanan fisik dan psikologis bagi para pengemudi, bahkan berdampak pada aspek kemanusiaan.
Khoiri juga menyoroti strategi pengalihan kendaraan ke BBJ dan Ciwandan yang dalam praktiknya belum mampu menggantikan fungsi pelabuhan utama.
“Pelabuhan utama penyeberangan Jawa–Sumatra adalah Merak–Bakauheni. Bukan BBJ dan bukan Ciwandan,” katanya.
Merak–Bakauheni merupakan simpul strategis nasional yang secara langsung terhubung dengan Tol Trans Jawa dan Tol Trans Sumatra, sehingga secara sistem transportasi nasional harus tetap menjadi tulang punggung utama arus logistik, terutama pada masa puncak pergerakan.
“Pelabuhan alternatif seharusnya berfungsi sebagai pendukung, bukan dipaksakan menjadi pengganti utama tanpa kesiapan kapasitas dermaga, kapal, dan manajemen operasional yang memadai,” tambahnya.
Melalui pernyataan ini, dia berharap Presiden dapat mencermati kondisi nyata di lapangan dan mengambil langkah pembenahan yang menyeluruh, agar persoalan penyeberangan tidak terus berulang dari tahun ke tahun.
“Kami berharap pemerintah dapat bersikap lebih realistis, adaptif, dan terbuka terhadap masukan positif dari seluruh pemangku kepentingan. Pengaturan penyeberangan harus menyelesaikan masalah, bukan sekadar membuatnya terlihat selesai,” pungkas Khoiri. (Cah/P-3)
Menhub Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa pengguna angkutan umum pada masa Angkutan Lebaran 2025 (21 Maret - 11 April 2025) tercatat mengalami kenaikan 8,5%
Menjelang libur akhir tahun, PT ASDP Indonesia Ferry memastikan kesiapan operasional layanan penyeberangan di lintasan tersibuk yakni Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk.
MENTERI Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi telah menginstruksikan sejumlah langkah guna mengantisipasi kepadatan arus penyeberangan Jawa-Sumatera pada masa Angkutan Nataru.
Penyeberangan yang mengarah ke Tepi Barat itu biasanya digunakan untuk pelancong yang datang dan pergi, serta kargo.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved