Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Mayoritas Pengguna Fintech masih Terkonsentrasi di Jabodetabek

Media Indonesia
19/11/2025 21:59
Mayoritas Pengguna Fintech masih Terkonsentrasi di Jabodetabek
(MI/HO)

SEBARAN pengguna fintech masih sangat terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek dengan angka mencapai 73,77%. Hal ini menunjukkan bahwa penetrasi layanan ke wilayah nonmetropolitan masih terbatas. Mayoritas pengguna berasal dari kelompok berpendapatan menengah, yaitu Rp5 juta-Rp10 juta. Masyarakat berpenghasilan rendah di kisaran Rp0-Rp5 juta masih menghadapi hambatan akses terhadap layanan keuangan yang justru paling mereka butuhkan. Temuan ini menegaskan pentingnya perluasan inklusi keuangan digital secara lebih merata.

Di tengah lonjakan transaksi digital, isu keamanan siber dan penipuan (scam) tetap menjadi perhatian utama. Phishing tercatat sebagai jenis serangan siber paling umum dialami 27,12% perusahaan fintech pada 2025, meskipun menurun dari 33,59% pada 2024. Tantangan terbesar justru berasal dari luar perusahaan dengan 82,98% responden melaporkan bahwa fraud eksternal menjadi ancaman dominan, baik yang berasal dari konsumen, sindikat kejahatan siber, maupun pihak ketiga.

Edukasi dan literasi keuangan digital menunjukkan tren peningkatan, tetapi belum sepenuhnya sejalan dengan pesatnya ekspansi produk dan inovasi fintech. Sebanyak 43,44% perusahaan menjadikan literasi sebagai program utama dalam perlindungan konsumen. Namun demikian, 59,02% pelaku industri masih menilai rendahnya literasi sebagai tantangan terbesar dalam mendorong inklusi keuangan.

Hal itu terungkap dalam temuan terbaru dari Annual Members Survey (AMS) 2024-2025 yang dirilis Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) sebagai penyelenggara inovasi teknologi sektor euangan (ITSK) yang ditunjuk oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Laporan tahunan ini menyoroti berbagai tantangan struktural yang perlu diatasi secara kolektif agar manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. 

AMS 2024-2025 juga menyoroti kesenjangan keahlian sebagai tantangan besar. Sebanyak 65,57% responden melaporkan kekurangan talenta di bidang artificial intelligence (AI) dan big data, dua kompetensi yang menjadi fondasi penting bagi inovasi dan keamanan digital. 

Representasi perempuan di posisi strategis juga masih terbatas. Sebanyak 75% perusahaan belum memiliki CEO perempuan dan 71% melaporkan bahwa komposisi direksi perempuan masih berada di bawah 25%. 

Ketua Umum Aftech Pandu Sjahrir menegaskan bahwa temuan AMS 2024–2025 menjadi cermin penting bagi arah perkembangan industri fintech nasional. "Tantangan-tantangan ini bukanlah hambatan, melainkan peta jalan untuk memperkuat ekosistem. Kita memasuki fase maturing dan fokus kita memastikan inovasi tumbuh dengan tata kelola yang kuat, perlindungan konsumen yang kokoh, serta dampak nyata bagi sektor riil dan masyarakat luas," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (19/11). (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya