Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

BSI Panen Emas, Saldo Tumbuh 160 Persen

Insi Nantika Jelita
12/11/2025 14:30
BSI Panen Emas, Saldo Tumbuh 160 Persen
Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta.(MI/Insi Nantika Jelita)

 

Bisnis emas PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) terus menunjukkan kinerja positif. Menjadi satu-satunya bank yang mendapat izin menjalankan bullion bank services atau bank emas di Indonesia, saldo emas digital BSI tumbuh 159,78% secara year to date (ytd) hingga September 2025.

Selain itu, penjualan emas melalui aplikasi BYOND by BSI mencapai 1,06 ton, dengan fee based income yang diperoleh sekitar Rp70 miliar (ytd).

“Pertumbuhan saldo emas tumbuh 160%, dengan total saldo kelolaan emas sebesar 1,15 ton atau setara Rp2,55 triliun,” ujar Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta dalam acara Bullion Connect di Jakarta, Rabu (12/11).

Penyelenggaraan kegiatan usaha bulion juga mendorong bisnis bank pelat merah itu tumbuh positif di tengah kondisi yang penuh tantangan bagi industri perbankan. Sejak diluncurkan hingga 30 September 2025, layanan bullion BSI menarik minat tinggi dari nasabah dengan menembus 200.238 nasabah atau tumbuh 94,98% sepanjang tahun (ytd).

BSI juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih positif, ketika sejumlah bank besar lainnya mengalami penurunan. Hingga 30 September 2025, BSI membukukan laba bersih sebesar Rp5,57 triliun, tumbuh 9,04% (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pendapatan margin bagi hasil yang meningkat 13,90% (yoy) dan fee based income yang naik 20,81% (yoy), antara lain berkat kontribusi bisnis bullion.

Dari sisi aset, BSI mencatatkan pertumbuhan 12,37% (yoy) per 30 September 2025, didorong peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 15,66% (yoy). Pertumbuhan DPK tersebut didominasi dana murah yang naik 11,39% (yoy). Sementara dari sisi pembiayaan, pertumbuhan mencapai 12,65% (yoy), juga didukung peningkatan bisnis emas yang cukup signifikan.

Peningkatan minat masyarakat terhadap emas batangan turut mendorong total permintaan emas nasional pada 2024 yang naik 3,64% dibandingkan tahun sebelumnya. 

“Banyak peluang untuk mengembangkan pasar emas Indonesia karena permintaan emas per kapita konsumen merupakan yang terendah di Asia Tenggara, yaitu hanya 0,17 gram per orang,” jelas Bob.

Bob menambahkan, BSI saat ini memiliki 22,6 juta nasabah dengan 1.039 cabang di seluruh Indonesia.

"Jumlah tersebut  setara dengan hampir 10% dari penduduk Indonesia, atau sekitar 1,5% dari masyarakat yang tergolong bankable. Ini merupakan amanah besar bagi BSI,” imbuhnya.

BSI Terus Berinovasi

Terbaru, BSI resmi memperoleh izin untuk jasa simpanan emas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 10 November 2025.
Dengan izin tersebut, BSI kini memiliki tiga kegiatan usaha bullion, Yakni, simpanan emas, perdagangan emas, dan penitipan emas. 

Jasa Simpanan Emas merupakan penyimpanan emas oleh nasabah di bank, di mana emas dapat disalurkan dalam skema pembiayaan emas (gold-to-gold) dan/atau perdagangan emas. Sementara Jasa Penitipan Emas merupakan layanan penitipan emas oleh nasabah di bank yang memberikan pendapatan berbasis imbal jasa. Adapun Jasa Perdagangan Emas mencakup transaksi jual beli emas batangan terstandarisasi.

“Ke depan, kami berharap dibentuknya ekosistem bullion, termasuk Dewan Emas Nasional, untuk mendukung kegiatan usaha bullion BSI,” kata Bob.

BSI juga berharap adanya pemberian insentif bagi lembaga jasa keuangan (LJK) penyelenggara kegiatan usaha bullion. Insentif tersebut diharapkan dapat berupa pencatatan Simpanan Emas on-balance-sheet yang berdampak pada perhitungan rasio keuangan, termasuk masuk kategori HQLA level 1. Dengan begitu, emas dapat menjadi komponen perhitungan dalam menjaga rasio likuiditas, meningkatkan profitabilitas, serta diperhitungkan dalam rasio financing to deposit ratio (FDR). (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya