Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2025 sebesar 2,86% secara tahunan. Meski sedikit meningkat dibanding periode sebelumnya, angka tersebut dinilai tetap aman karena berada dalam kisaran target pemerintah yakni 2,5% plus minus 1%.
Adapun secara bulanan (m-to-m) terjadi inflasi sebesar 0,28% (m-to-m), dan 2,10% secara tahun kalender (year-to-date). “Secara historis, pada setiap Oktober (2021-2025) mengalami inflasi, kecuali pada Oktober 2022 yang mengalami deflasi,” papar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini di Jakarta, Senin (3/11).
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan ini utamanya didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,99% dan memberikan andil inflasi sebesar 1,43%.
Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah cabai merah. Komoditas lain di luar kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang juga memberikan andil inflasi dominan adalah emas perhiasan.
”Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi sebesar 3,05% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,21%. Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok ini adalah emas perhiasan yang memberikan andil inflasi sebesar 0,21%,” jelas Pudji.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso menyebut inflasi yang tetap terjaga ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter. Faktor lain adalah eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah (pusat dan daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah.
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2025 dan 2026,” kata Ramdan dalam keterangannya, Senin (3/11).
Hal itu juga diamini Chief Economist Juwai IQI Global Shan Saeed. Menurutnya, moderasi inflasi ini yang berada dalam kisaran 2%–3% mencerminkan ketepatan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan efektivitas pengelolaan fiskal yang terukur.
Shan mengatakan tingkat inflasi tersebut menandakan kemampuan pemerintah menjaga kestabilan harga serta kepercayaan pasar yang meningkat di tengah tekanan global. Keberhasilan Indonesia menahan tekanan harga, menurut dia, terjadi seiring dengan stabilnya nilai tukar rupiah sepanjang 2025, yang menjadi cerminan ketahanan eksternal ekonomi.
Ia menilai sinergi antara Bank Indonesia dan pemerintah telah menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan berada di kisaran 5,0%-5,8% menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia masih termasuk salah satu ekonomi berkembang paling tangguh di Asia.
“Koeksistensi antara inflasi rendah dan pertumbuhan yang kuat menjadi aspek penting dalam manajemen makroekonomi, melindungi daya beli masyarakat sekaligus mendorong pembentukan modal produktif,” ujar dia.
Inflasi inti pada Oktober 2025 tercatat sebesar 0,39% (mtm), lebih tinggi dari realisasi inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,18% (mtm). Secara tahunan, inflasi inti Oktober 2025 tercatat sebesar 2,36% (yoy), lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,19% (yoy).
Realisasi inflasi inti pada Oktober 2025 disumbang terutama oleh komoditas emas perhiasan dan biaya kuliah akademi/perguruan tinggi. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga komoditas emas global serta faktor musiman dimulainya tahun ajaran baru pendidikan akademi/perguruan tinggi, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, harga emas yang memicu inflasi tahunan 2,86% merupakan dampak positif dari pembentukan bank emas atau bullion bank.
"Inflasi 2,86% memang salah satu yang naik adalah terkait pembelian emas. Jadi ini satu hal yang relatif positif karena masyarakat sudah bisa mencari aset berkualitas, dan ini efek dari pembentukan bullion bank," kata Airlangga kepada awak media di Jakarta, Selasa (4/11).
Menurut dia, setelah dibentuknya bank emas pada Februari 2025, masyarakat kini sudah lebih memahami dan memilih investasi dalam bentuk emas. Sehingga logam mulia tersebut menjadi penyumbang utama inflasi tahunan pada Oktober 2025 dengan andil 0,68%. Selain itu, beberapa faktor kkenaikan inflasi bulanan sebesar 0,28% secara bulanan adalah meningkatnya permintaan terhadap telur dan daging ayam ras. Hal itu dipicu pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyampaikan, program populis Presiden Prabowo Subianto tersebut turut mendorong konsumsi pangan, terutama komoditas sumber protein hewani di berbagai daerah.
"Program MBG yang berjalan selama beberapa bulan terakhir turut mendorong lonjakan permintaan terhadap telur ayam ras dan daging ayam ras,” ujarnya.
Pudji menerangkan kedua komoditas tersebut menjadi penyumbang utama inflasi Oktober 2025, masing-masing mencatat inflasi sebesar 4,43% untuk telur ayam ras dan 1,13% untuk daging ayam ras.
Lebih lanjut, Pudji menambahkan inflasi pada dua komoditas itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain meningkatnya permintaan dari pelaksanaan program MBG, kenaikan biaya produksi juga berperan.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengapresiasi inflasi yang terjaga dalam kisaran target pemerintah. Menurutnya, target ini menjaga keseimbangan sehingga tetap menguntungkan produsen maupun konsumen karena harga komoditas tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah.
“Artinya range yang ingin kita target, itulah 1,5% sampai 3,5%. (Inflasi) 2,86% masih pada posisi aman,” ujar Mendagri pada Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah, Selasa (4/11).
Ia menegaskan, pemerintah terus menjaga stabilitas komoditas bergejolak agar tetap terkendali. Mendagri juga menyoroti pentingnya kebijakan subsidi dalam menjaga daya beli dan inflasi, salah satunya melalui subsidi listrik yang manfaatnya dirasakan luas oleh masyarakat.
Mendagri turut mengimbau berbagai pihak untuk mewaspadai potensi kenaikan harga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Ia meminta pemerintah daerah (Pemda) tidak menaikkan tarif layanan seperti air minum, karena berpotensi mendorong inflasi.
Sebelumnya, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menyampaikan apresiasi atas kinerja pengendalian harga yang dianggap stabil. Menurutnya, aspek pengendalian harga atau inflasi adalah kunci vital dalam menentukan arah perekonomian Indonesia ke depan.
"Dalam satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran, kita dapat melihat bahwa pencapaian kinerja inflasi cukup stabil," ungkap Eko dalam keterangannya, belum lama ini.
Eko menjelaskan, stabilitas harga yang terjadi merupakan indikasi ada pengendalian harga yang baik. Ia menilai kinerja ini bukan hanya pencapaian sesaat, tetapi juga menjadi fondasi kuat yang dapat menopang akselerasi pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.
"Pengendalian harga yang bagus ini dapat membuat perekonomian menjadi tumbuh lebih baik ke depan," ujar Eko.
Ia berharap stabilitas harga yang sudah dicapai dapat terus dipertahankan. "Tentu ke depan, kami berharap agar stabilitas harga dapat dilanjutkan dan menjadi salah satu modal penting untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi demi mencapai kesejahteraan ekonomi bersama," pungkasnya. (Ant/E-3)
Gubernur Bangka Belitung. Hidayat Arsani mengatakan, cabai merupakan salah satu pangan yang menyumbang inflasi di Babel.
Selain itu, cabai merah turun Rp3.816 menjadi Rp52.184/kg, bawang merah turun Rp833 menjadi Rp43.484/kg, serta bawang daun turun Rp630 menjadi Rp8.700/kg.
Harga cabai rawit merah yang sempat melonjak hingga Rp80.000 per kg, sekarang hanya Rp36.000 per kg. Harga telur ayam ras dari Rp30.000 menjadi Rp28.000 per kg.
Nilai tukar rial Iran jatuh ke level terendah sepanjang sejarah, memicu inflasi pangan hingga 70%.
Menjelang Ramadan 2026, Kementerian Dalam Negeri meminta pemerintah daerah tidak menunggu waktu mepet untuk mengendalikan inflasi.
Komoditasnya antara lain beras premium Pamanukan, beras premium Anak Daro Rp16.350 per kg, minyak goreng MinyaKita kemasan botol Rp18.000 per liter, serta gula Rosebrand.
Pemerintah dan pemangku kepentingan juga dipastikan akan menjaga tingkat inflasi komponen pangan bergejolak (volatile food) di rentang 3% hingga 5%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved