Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Research Oriented Development Analysis (RODA) Institute, Ahmad Rijal Ilyas, mengatakan persoalan harga bawang putih selalu kambuhan setiap tahun. Hal itu menurutnya bukan dikarenakan kekurangan supply atau rantai pasok yang panjang, tapi karena belum dilakukannya tarifisasi impor.
"Justru rantai pasok bawang putih sudah lama terbentuk dan efisien dibanding komoditi lain," kata Rijal, dalam siaran resminya kepada media di Jakarta, Senin (10/2).
Ia menyebut, harga bawang putih di pasar dan pengecer saat ini sudah ada yang tembus Rp40.000 per kilo. Padahal, jika ditelusuri harga bawang putih di Cina hanya USD 1400, jika kurs dollar saat ini Rp16.400, maka harga pokok bawang putih Rp22.960, ditambah biaya custom clearance dan trucking rata-rata Rp1.200, jadi harga bawang putih di tingkat importir Rp24.160 per kilo.
Menurut Rijal, persoalan dan hambatan utamanya sejak 20 tahun lalu adalah terkait kebijakan importasi dan masalah di pengaturan kuota impor. Akhirnya, konsumen harus menanggung harga beli yang lebih tinggi.
Karena itu, lanjut Rijal, sebaiknya pemerintah memberlakukan tarifisasi agar harga bawang putih bisa lebih efisien di pasar dan konsumen mendapatkan harga terbaik.
"Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto, seharusnya perlu melakukan tarifisasi impor bawang putih atau komoditi lainnya yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri," papar Rijal.
Dengan demikian, lanjut Rijal, negara memperoleh pemasukan dana segar untuk menunjang program strategisnya, sementara konsumen tidak lagi dikorbankan dengan permainan harga. Bahkan, Ombudsman RI telah menyebut total kerugian yang disebabkan oleh adanya maladministrasi surat persetujuan impor (SPI) bawang putih diprediksi mencapai Rp4,5 Triliun.
Harga komoditas cabai merah keriting di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, mulai mengalami penurunan dari Rp80 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram.
Komoditas cabai rawit merah di Jakarta Selatan berada pada harga Rp81 ribu/kg, dan cabai merah keriting Rp58 ribu/kg.
Harga komoditas cabai merah keriting di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, mulai mengalami penurunan harga dari Rp80 ribu menjadi Rp60 ribu per kg.
Harga cabai turun dari Rp80 ribu-Rp90 ribu per kg menjadi Rp60 ribu-Rp70 ribu, bawang merah anjlok dari Rp60 ribu-Ro65 ribu per kg kini Rp25 ribu-Rp30 ribu per kg.
Harga cabai merah yang sebelumnya sempat mengalami lonjakan kini mulai berangsur turun di harga Rp75 ribu per kilogram dan cenderung stabil.
Harga cabai meroket dan memicu keluhan pedagang maupun pembeli. Lonjakan ini mulai terasa sejak Rabu (17/12) dan terus berlanjut hingga Jumat (19/12).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved