Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Pengamat Nilai Setop Impor Bawang Putih dalam 5 Tahun Mendatang tak Realistis

Naufal Zuhdi
09/2/2026 23:40
Pengamat Nilai Setop Impor Bawang Putih dalam 5 Tahun Mendatang tak Realistis
Aktivitas Pedagang Cabai, Bawang Merah, dan Bawang Putih di Pasar Beringharjo.(Dok. MI)

PENELITI Center of Reform on Economics (CoRE), Eliza Mardian menyatakan bahwa niat pemerintah untuk menyetop impor bawang putih dalam 5 tahun mendatang kurang realistis. Hal itu lantaran 95% kebutuhan bawang putih dalam negeri tersebut dipenuhi dari impor.

“Lebih baik fokusnya mengurangi ketergantungan impor dan menguranginya secara bertahap dan diimbangi dengan kebijakan mendorong produksi di dalam negeri,” ucap Eliza saat dihubungi, Senin (9/2).

Eliza menambahkan, kualitas bawang putih yang dimiliki Tiongkok sebagai pemasok bawang putih terbesar ke Indonesia jauh lebih baik apabila dibandingkan Indonesia karena secara biologis bawang putih membutuhkan suhu dingin (vernalisasi) untuk membentuk umbi besar.

“Tiongkok punya musim dingin alami, Indonesia tidak karena kita iklim tropis. Kalaupun mau hasilnya mirip seperti Tiongkok kita harus pakai pendinginan buatan, konsekuensinya biaya naik, hasil tidak optimal,” bebernya.

Selain itu, dirinya menyoroti bahwa produktivitas bawang putih Tiongkok bisa mencapai 30 ton per hektare, sementara Indonesia hanya berada di bawah 10 ton per hektare.

“Jadi tidak optimal, terus kurang efisien karena biaya per kilogram bawang putih lokal otomatis jauh lebih mahal. Tiongkok unggul di benih, riset varietas, mekanisasi, dan skala produksi besar. Sementara Indonesia lahannya sempit, benih belum terstandarisasi, pascapanen lemah, kehilangan hasil tinggi,” bebernya.

Kendati demikian, Eliza menegaskan bahwa pemerintah Indonesia harus berusaha keras untuk bisa mencapai swasembada bawang putih, tak hanya bisa instan dalam kurun waktu 5 tahun mendatang. Apabila Indonesia ingin mencapai swasembada bawang putih, butuh effort besar seperti pengembangan ekosistem riset inovasi yang solid, program capacity building petani, pembangunan infrastruktur produksi benih dan cold storage, serta dukungan anggaran dan kolaborasi antar stakeholder.

“Perlu secara bertahap sembari memperbaiki riset inovasi teknologi yang bisa membuat bawang putih kita besar-besar dan biaya produksinya efisien. Tiongkok wajar efisien di bawang putih, sementara Indonesia memaksakan swasembada di komoditas yang secara agroklimat kurang kompetitif. Kebijakan harus realistis saja, fokus ke komoditas tropis yang memang unggul. Sementara yang ketergantungan tinggi impor karena memang secara agroklimat Indonesia tidak mendukung, lebih baik strateginya mengurangi ketergantungan impor,” terang dia. (H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya