Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Indonesia (BI) resmi menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 0,25 basis poin, dengan demikian saat ini BI Rate berada di rentang angka 5,75%. Merespons hal itu, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai bahwa langkah yang diambil BI cukup berani.
"Namun saya takut BI kelewat percaya diri dengan kebijakan yang diambil. Nilai tukar rupiah saat ini tengah terpuruk melebihi dari target awal pemerintah," ujar Huda saat dihubungi, Kamis (16/1).
Dengan turunnya BI Rate, Huda memperkirakan bahwa akan ada ancaman peningkatan harga-harga barang yang diimpor ataupun yang terkait dengan bahan baku impor.
"Dampak penurunan suku bunga BI diharapkan mampu menurunkan cost of fund dan cost of consume masyarakat. Masyarakat didorong untuk berbelanja lebih banyak dengan bunga deposito dan simpanan turun," imbuh Huda.
Akan tetapi, Huda memandang penurunan BI rate akan mengalami lag sekitar 3 hingga 6 bulan ke depan. "Jadi kita harus menunggu dampak positifnya terasa di bulan ke 3 hingga ke 6 pasca BI menurunkan suku bunga-nya. Sedangkan dampak ke pelemahan rupiah sangat cepat, ini harus diantisipasi oleh BI,", tandasnya.
Di sisi lain, Huda pun menyampaikan bahwa setidaknya terdapat dua pengaruh dari turunnya BI rate terhadap ketimpangan. Sebagaimana diketahui, kemarin (15/1), Badan Pusat Statistik mencatatkan bahwa adanya kenaikan gini ratio sebesar 0,02% menjadi 0,381 pada September 2024.
"Pertama adalah dampak langsung dimana konsumsi masyarakat yang meningkat bisa menurunkan ketimpangan dari sisi pengeluaran. Proporsi konsumsi terhadap pendapatan pada kelas menengah ke bawah cukup besar dibandingkan proporsi yang dimiliki oleh kelompok pengeluaran tinggi. Kelompok menengah dan bawah, mempunyai proporsi konsumsi hingga 70 persen. Harapannya dengan BI rate turun, konsumsi juga bisa turun," cetus Huda.
Dampak kedua, tambahnya, adalah dampak tidak langsung yang dihasilkan dari penurunan suku bunga BI. "Dugaan saya, penurunan suku bunga BI bisa menurunkan tingkat pengembalian investasi baik dari SBN ataupun deposito. Harapannya adalah passive income orang kaya ini juga menurun. Dari sisi pendapatan akan terjadi perlambatan terutama dari sisi pendapatan suku bunga investasi," tandasnya. (Fal/M-3)
Sikap menahan suku bunga acuan (BI Rate) dinilai paling rasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
IHSG Bursa Efek Indonesia 8 Januari 2026 ditutup melemah. Analis Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan IHSG kemungkinan sedikit terdampak suku bunga acuan dan inflasi
BI resmi mengganti Jibor dengan Indonia mulai 1 Januari 2026. Indonia berbasis transaksi riil (weighted average), menjamin transparansi pasar.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5%.
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis, 20 November 2025, dibuka menguat 43,86 poin atau 0,52% ke posisi 8.450,44.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved